Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Tahun 2017 dan Bayang-bayang Kebudayaan

Jumari HS
http://riaupos.co

FILSAFAT menempatkan kebudayaan pada aras metafisis yang merujuk pada penempatan nilai sebagai aspek formal intrinsik . ia tidak bicara tentang bagaimana kebudayaan menjadi norma bagi tingkah laku (learned behaviour)  sehingga membentuk way of life (suatu hal menjadi obyek studi sosio antropolgi), atau bagaimana kebudayaan dibentuk oleh representasi kuasa pengetahuan  (satu hal yang menjadi obyek cultural studies).

Populasi Aksara, Pameran Kaligrafi, dan Tulisan Arab Melayu

Khalil Zuhdy Lawna
http://riaupos.co

Kata "populasi" yang artinya "penghuni suatu tempat" menyiratkan pengertian bahwa penghuni tersebut bermukim dan berkembang. Begitulah halnya dengan aksara yang dipakai oleh masyarakat kita sekarang yakni aksara Latin. Jauh sebelum aksara Latin menjadi sarana informasi aksara Arab Melayu mendominasi dalam masyarakat. Tulisan ini disebut juga tulisan Jawi di mana huruf Arab diadopsi, lalu bahasa yang yang digunakan adalah bahasa Melayu dengan penambahan tanda huruf untuk bunyi yang tidak terdapat pada vokal Arab seperti nga, nya, ga, pa dan ca.

Sastra Mutakhir: Sastra Eksklusif

Alunk Estohank
http://riaupos.co

ADA kerisauan ketika harus memikirkan nasib sastra Indonesia, sastra yang semakin hari semakin tidak jelas juntrungnya. Ada apa sebenarnya dengan sastra Indonesia dewasa ini, bukankah seringkali kita temui buku-buku sastra terbit tiap tahunnya, dan bahkan ada yang satu tahun dapat menerbitkan dua buku sastra bahkan ada yang lebih. Kenapa mesti dirisaukan, bukankah itu semua menjadi nilai plus dari sastra itu sendiri.

G 30 S dan Pramoedya Ananta Toer

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 1 Oktober 2010

Artikel ini lahir setelah saya membaca buku Biografi Singkat 1925-2006 Pramoedya Ananta Toer (2010) karya Muhammad Rifai. Isi buku yang menggetarkan ini terasa “menambah” kelengkapan warna-warni dan lekak-liku ketenaran, kontroversi, dan ironi sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Atas Nama Rakyat

Seno Gumira Ajidarma *
Majalah Tempo, 16 Mar 2015

Di antara lebih dari 90 ribu kata yang terhimpun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ada kata yang lebih sering dimanfaatkan demi keuntungan golongan, ataupun diri sendiri, daripada kata “rakyat”.

Ihwal Profesi dalam Sastra

Zen Hae *
Majalah Tempo, 19 Okt 2015

Bahasa Indonesia punya sejumlah cara dalam membentuk nomina yang bermakna “profesi” atau “pelaku”. Dari membubuhkan prefiks pe-, menempelkan aneka sufiks serapan, hingga menambahkan kata “tukang”. Sejumlah profesi dalam dunia kesusastraan mengalami semua itu: penyair, esais, novelis, cerpenis, deklamator, tukang cerita.

Hantu Komunis

Bagja Hidayat *
Majalah Tempo, 20 Jun 2016

Ketakutan sering tak masuk akal, termasuk takut pada komunisme. Menteri Pertahanan dan para jenderal memburu buku-buku tentang komunisme, membakar simbol-simbol komunis, membubarkan diskusi yang membicarakan soal itu, termasuk konon akan menginterogasi Patung Pak Tani di depan Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat.

Kosakata Tan Malaka

Ahmad Sahidah *
Majalah Tempo, 11 Apr 2016

Perkembangan khazanah lema bahasa Indonesia sangat pesat. Setelah ditetapkan sebagai bahasa kesatuan dalam ikrar Sumpah Pemuda, ia telah mengikat rakyat Negeri Khatulistiwa dalam satu bahasa persatuan. Namun tidak mudah menjadikannya alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan, agar bisa menangkap gerak perkembangan zaman. Betapapun bahasa ini luwes, ia juga perlu menimbang sejarah linguistiknya agar tidak dijarah oleh sikap malas pengguna. Dengan membaca kembali karya-karya awal Tan Malaka, kita bisa menjejaki usaha sarjana kiri ini dalam menemukan daya ucap bahasa serapan ke dalam sasaran.

Tragedi Barok dan Pergulatan Manusia Sado

Edeng Syamsul Ma’arif radarcirebon.com
BAROK adalah momok. Pimpinan para rampok, bromocorah, jambret, pencoleng, pemalak, penodong. Berdiam di sebuah kampung kumuh, terbelakang, padat penduduk, dan (pastilah) tak terjangkau kemakmuran. Tidak ada listrik, sampah berserak di sembarang tempat, orang-orang biasa mandi dan berak di sungai pekat aroma bacin.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]