Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Bahasa Melayu di Indonesia dan Malaysia

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 19 Jun 2010

Bendera Malaysia IndonesiaPerkembangan bahasa Melayu setelah menjadi bahasa Indonesia menarik untuk diperbandingkan dengan perkembangan bahasa Melayu setelah menjadi bahasa Malaysia. Ternyata masing-masing menghadapi tantangan yang berbeda. Di Indonesia, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak ada saingan, walaupun terdapat ratusan bahasa ibu di seluruh wilayahnya, padahal bahasa Melayu ketika dinobatkan sebagai bahasa nasional berhadapan dengan bahasa Jawa dan Sunda yang digunakan lebih banyak penutur dan mempunyai sejarah serta kesusastraan lebih kaya.

Semisal Resensi Ini-Itu Berthold Damshäuser

Nurel Javissyarqi
Sebenarnya ingin ngelenceki bukunya, namun belum ada kesempatan jauh, maka sekadarlah ucapan terima kasih, sebab bahasa Indonesia sudah diperkenalkan di Jerman dengan ketekunan penuh piawai, atau ini ikut-ikutan bijak seperti tulisannya; “Sebagai dosen bijaksana saya suka sekali kalau mahasiswa banyak bertanya.”

Kehadiran Badan Bahasa

Eka Budianta*
Kompas, 9 Okt 2015


Untuk pertama kali, belasan sastrawan Indonesia yang pernah mendapat penghargaan nasional dan regional diundang diskusi. Itulah gebrakan Kepala Pusat Pembinaan Badan Bahasa Gufran Ali Ibrahim yang baru diangkat awal September 2015.

Impor Kata

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 14 Des 2015

Nama saya Sapardi. Seandainya kakek saya bukan Jawa, mungkin saja nama saya Syafardi, diimpor dari bahasa Arab. Dalam hanacaraka tidak ada aksara ef atau fa; adanya pa. Sya juga tidak ada; adanya sa. Syafar itu bulan kedua dalam kalender Islam, kalender bulan. Nama itu diberikan oleh kakek dari garis ibu. Itu sebabnya kakek yang satu lagi, dari garis ayah, mau ikut menyumbangkan nama. Maka masuklah nama Damono, yang ditaruh di belakang.

Makan Kapal Selam

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 23 Jan 2017

Mengikuti wisata kuliner Sapardi Djoko Damono sungguh mengasyikkan, walau wisata itu hanya dalam tulisan di rubrik Bahasa! majalah Tempo edisi 26 September-2 Oktober 2016. Saya sangat menikmati tulisan tersebut dan ikut merasakan yang dirasakan sastrawan itu.

Partai

Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 3 Okt 2011

Partai yang selalu besar jumlah anggotanya dalam semua cerita silat (cersil) Cina, khususnya peranakan Indonesia, adalah Partai Pengemis alias Kay Pang. Partai terbesar ini biasanya ditandai oleh pakaian mereka yang tambalan, dan “Ilmu Tongkat Penggebuk Anjing”, ilmu silat tertinggi khusus buat ketua partainya. Kwee Cheng, tokoh utama Pendekar Rajawali Sakti karya Chin Yung, adalah murid ketua Partai Pengemis.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]