Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Mengarai Kata Menyinggasana Puisi

Abdul Kadir Ibrahim
www.tanjungpinangpos.co.id 02/02/2014

Kata: Akulah Puisi
Sekali lagi kita ajak para pemula dan sesiapa yang sudah merasa sebagai menulis puisi, tetapi mungkin merasa belum berhasil atau mengena, tiada jalan lain kecuali membaca puisi-puisi penyair lainnya yang sudah “jadi” dan selalu membaca dan mengubah secara mendalam puisi yang ditulis sendiri. Penulisan puisi boleh berangkat dari persoalan apapun, tetapi lagi-lagi ia tidak mengangkat persoalan ke dalam puisi sebagaimana faktanya seperti penulisan berita, reportase ataupun laporan. Puisi bahasa “istimewa” seni dan indah.

Ini soal Tenun Kebangsaan. Titik!

Anies Baswedan
Kompas, 12/09/12

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!

Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi. Janji pertama Republik ini: melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tetapi karena diancam saudara sebangsa, Republik ini telah ingkar janji. Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas di mana-mana.

Mandela dan Religiositas

Ignas Kleden
Kompas, 13/01/14

RICHARD Stengel yang membantu Nelson Mandela menulis otobiografinya, Long Walk to Freedom, mengenang kembali persahabatannya dengan almarhum dalam laporan utama Time Nomor 26, 2013.

Di antara berbagai catatannya, ada pernyataan yang kiranya menarik perhatian pembaca. Dia menulis: ”Tidak sekali pun saya mendengar dia (Mandela, IK) menyebut Tuhan, surga, atau sesuatu yang berhubungan dengan akhirat. Nelson Mandela percaya akan keadilan dalam masa hidupnya di dunia ini.”

Kerusuhan Sosial dalam Sajak

Budi P. Hatees *
Riau Pos, 28 Juli 2013

SELAMA 2012 lalu, saya membaca sajak-sajak yang ditulis Isbedy Stiawan ZS (Bang Is), dipublikasikan di sejumlah media cetak. Banyak sajak yang ditulisnya, tetapi sajak-sajak yang akan saya bicarakan ini adalah sajak yang berhubungan dengan kerusuhan terakhir di Lampung Selatan.

Melawan Malin Kundang

Mohammad Fadlul Rahman *
Suara Karya, 28 Des 2013

“BANGUNLAH, bangkitlah, kesaksian harus diberikan, supaya kebenaran terjaga”, demikian petikan sajak si Burung Merak WS Rendra. Sajak ini menunjukkan suatu ajakan kepada segenap komponen bangsa agar tetap menyalakan api atau semangat perjuangan dimana saja dan dalam keadaan apapun juga. Perjuangan tidak boleh meredup, temaram, apalagi sampai padam.

MAJALAH SENI BUDAYA DI JATIM

Aming Aminoedhin *)

Sastra sebagai salah satu cabang seni, cukuplah banyak digemari oleh masyarakat di Jawa Timur. Hal tersebut dapat terlihat dari maraknya keberadaan komunitas sastra, baik Indonesia maupun Jawa yang hidup dan berkembang di Provinsi Jawa Timur. Komunitas-komunitas tersebut misalnya: FASS (Forum Apresiasi Sastra Surabaya), Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto), Sanggar Sastra Kalimas (Unesa), Komunitas Sastra Rabo Sore (Unesa),

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]