Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Proses Kreatif: Oleh-oleh dari Mardi Luhung

Kasnadi *
http://sastra-indonesia.com

Pada Selasa, 13 November 2007, SMA Immersion Ponorogo mengundang seorang penyair “nyentrik” angkatan 2000. Ia adalah H.U. Mardi Luhung, yang lahir di Gresik 42 tahun lalu. Sebagai penyair, kepenulisannya ditandai dengan penuh gairah dan daya vitalitas yang sangat tinggi. Ia termasuk salah satu penyair muda yang sangat produktif. Karya-karyanya tersebar di berbagai media cetak baik lokal maupun nasional.

Ruh Anak Lebih Tua dari Orang Tuanya?

Dr. H. Sutejo, M.Hum.
http://sastra-indonesia.com

Suatu waktu, seorang pakar sastra, Prof. Dr. Budi Darma bertutur, “Ruh anak bisa jadi lebih tua dari orang tuanya. Karena itu, berhati-hatilah ibu dan bapak.” Aforisme ini, mengingatkan saya terus-menerus. Berenung tak henti. Kemudian saya teringat, bagaimana baginda Rasulullah begitu memuliakan anak-anak. Sebuah pesan yang Islami?

Membaca NTB dalam Sastra Indonesia

Korrie Layun Rampan
Suara Karya, 15 Juni 2013

SASTRAWAN yang berasal dari NTB cukup banyak. Beberapa nama yang penulis kenal sebagaimana yang ditulis oleh Putu Sugih Arta yaitu: 1. Putu Arya Tirtawirya (almarhum) 2. I Dewa Rai Oka ( almarhum) 3. H. Badrun (almarhum) 4. H.Dinullah Rayes 5. Prof. Nurahman Hanafi 6. Jero Anang Zubaedi Soemerep 7. Sulaiman Saleh 8. Putu Sugih Arta 9. H. Rianto Rabbah 10. Kongso Sukoco 11. Imtifan Taufan 12. R. Eko Wahono. 13. Kiki Sulistyo 14. Wayan Suarta Bagiada. Mereka sastrawan NTB yang dikenal luas. Karya mereka menunjukan ciri-ciri tertentu yang mencerminkan penemuan mereka terhadap idiom, tema, penokohan, dan latar yang khas NTB.

KABAR DUKA

Ahmad Farid Tuasikal *
Radar Mojokerto, 2 Juni 2013

Teruntuk sahabatku Fahrudin Nasrulloh yang telah kembali kepangkuan Alloh SWT pada hari kamis, tanggal 30 Mei 2013

Hujan telah redah. Namun kilat yang menyambar-nyambar di sela gerimis tipis-tipis seakan langit telah resah. Kilat yang menyala ketika senja menyentuh bibir langit magrib kian menggariskan kilatan-kilatan cahaya yang penuh akan pertanda. Entah pertanda akan ada bencana atau pertanda suatu duka.

Sulaiman Juned Motivator Penulis Muda

Muhammad Subhan
Harian Haluan 10 Feb 2009

Rumah itu tidak terlalu luas. Hanya punya sebuah ruang tamu dan dua kamar. Ukuran ruang tamu itu sekitar 2 x 3 meter. Namun siapa sangka, ruangan yang tidak besar itu menjadi tempat berkumpulnya para penulis muda Kota Padangpanjang. Hampir setiap waktu.

Melezatkan Pelajaran Sastra di Sekolah

Adrian Ramdani
http://www.kompasiana.com/adrianramdani

Pelajaran sastra. Memang ini seolah suatu pelajaran yang kurang diminati banyak siswa sekolah. Mereka lebih cenderung memilih pelajaran yang menantang dan bersifat ilmiah. Matematika, Fisika, Kimia, merupakan pelajaran favorit yang dianggap paling digemari dan memberikan manfaat yang lebih dari sebuah puisi atau cerpen. Pelajaran sastra dirasa hanya diberikan sebagai pelengkap dan termasuk bagian dari pelajaran bahasa Indonesia. Porsi yang diberikan seolah-olah dianggap tidak terlalu penting nantinya atau dengan kata lain tidak menunjang untuk kehidupan masa depan.

“TRAGEDI CANTOI” SULAIMAN JUNED: EKSTERNALISASI AGROPHOBIA

Wiko Antoni S.Sn *)
http://sjuned.blogspot.com

Struktur lakon adalah partitur bagi seorang sutradara dalam `konser` peristiwa yang akan dipentaskan. Sebagai seorang penulis lakon tanggungjawab utama yang terpenting adalah membangun konsep dasar yang menjadi tempat berdiru teguhnya struktur pertunjukan, dari drama yang baik lahirlah pertunjukan yang luar biasa. Memang seorang sutradara mestilah kreatif dalam membangun realitas panggung namun drama yang baik akan menjadi pijakan kreatifitas yang baik bagi seorang sutradara dalam mempersiapkan pertunjukan berkualitas.

Taman Budaya, Tidak Lagi Sekadar Tempat Teater

Ami Herman
Suara Karya, 22 Juni 2013

DI era 80-an hampir setiap Ibukota Provinsi di tanah air memiliki Taman Budaya. Di taman budaya itulah tumbuh banyak seniman tari, teater, pematung dan pelukis andalan. Taman budaya juga tidak ubahnya panggung pertunjukan yang laris, karena rajinnya taman budaya mementaskan teater modern dan klasik.

Anakku, Harta tak Ternilai!

Agus Subiyakto *
http://sastra-indonesia.com

Alhamdulillah, syukur yang tak ternilai! Tatkala Allah menganugrahi putra kecil yang mewarnai keseharian kami. Setelah penantian panjang serta kegagalan mendapatkan anak untuk yang kesekian kali. Perlu diketahui, anakku kini anak kedua kehamilan, yang ketiga lewat operasi sesar. Kehamilan kedua, tak bisa dipertahankan, kakaknya Akmal atau anak pertama telah meninggal, dikala masih bayi karena sakit, pun adiknya Amira, anak ketiga meninggal dunia sebab sakit juga. Begitulah yang terjadi atas keluarga kami.

Menjadi Arsitek: Cita-cita Anakku!

H. Supriono Muslich *
http://sastra-indonesia.com

Aku masih teringat, subuh 22 November 2003 ialah saat-saat membahagiakanku sekeluarga. Seorang anak laki-laki telah lahir, setelah empat anak perempuan dikaruniakan Allah SWT padaku. Anak itu kuberi nama, Muhammad Hasan. Aku berharap, dia bisa jadi anak sholeh yang meneladani Rasulullah SAW, baik di mata manusia maupun Tuhan-Nya.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]