Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

NTT dalam Sastra Indonesia Modern

Mezra E. Pellondou *
Flores Pos (Ende), 13-15 Feb 2012

Pada suatu seminar saya diminta menjadi narasumber. Panitia menyodorkan tema yang harus saya bahas, yakni “NTT adalah Objek Karya Sastra.” Saya merasa kurang setuju karena tema seperti itu menempatkan NTT dan sastra pada dua posisi saling berseberangan, antara subjek (pegiat sastra) di satu sisi dan NTT di sisi lainnya. Yang satu agresif mengeksploitasi, sementara yang lainnya pasrah, bahkan tanpa sadar dieksploitasi.

Komunitas dan Entitas Sastra

Sakinah Annisa Mariz *
http://www.analisadaily.com/

Sering kali karya sastra dipandang sebagai kerja mandiri yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan kreatifitas dan keahlian individualis. Hal ini benar adanya, namun perjalanan karir seorang sastrawan juga tidak bisa dilepaskan dengan interaksinya kepada sastrawan lain.

Sastra, Seks dan Kematian

Bayu Agustari Adha *
Riau Pos, 3 Maret 2013

SETELAH terbelenggu sekian lama, akhirnya katub-katub itu terbuka juga. Apa yang dianggap patut dan tak patut kerananya sudah terbuka. Menjelmalah sebuah dunia banal di mana titik pasti kebenaran itu bisa dipertanyakan dan diperdebatkan. Tak ada lagi singgasana superioritas yang bebas berkuasa mewacanakan segalanya. Apapun yang coba dikokohkan akan selalu ada titik baliknya dan celah untuk meruntuhkannya. Fenomena ini hampir menjalar ke segala penjuru lintas persoalan. Politik, ideologi, ekonomi, sosial, seni, budaya telah terecoki dalam kenihilan kemapanan.

Perempuan dalam Sejarah Sastra Indonesia

Nafi’ah Al-Ma’rab *
Riau Pos, 3 Maret 2013

KARYA sastra selalu menyediakan ruang terbuka pada setiap objek yang diperbincangkan. Salah satu objek yang tak pernah habis menjadi sajian adalah tema perempuan di dalam sebuah karya sastra. Keberadaan perempuan sebagai salah satu menu tema yang paling banyak dipilih oleh sebagai karya sastra telah mendorong lahirnya banyak penelitian terhadap karya sastra bertema perempuan.

Sinema Pengajaran Sastra Kita

Sutejo
MG, Minggu III Agu 1995

Mengapa pengajaran sastra kita banyak dikeluhkan orang? Mungkin karena keberadaannya yang berandil besar dalam penanaman kecintaan bangsa ini terhadap karya sastra. Paradigma demikian, barangkali terlalu bombastis. Tapi, setidaknya jika kita mau jujur sebenarnya pengajaran sastralah yang yang pertama-tama menentukan iklim dunia sastra kita. Sebagaimana keberartian pendidikan suatu bangsa yang akan memberikan corak dan kualitas bangsanya.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]