Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Koran tanpa Sastra: Barbar

Marsus Banjarbarat *
Riau Pos, 20 Jan 2013

‘’Koran tanpa sastra adalah barbar,’’ begitulah kata seorang teman suatu ketika saat saya duduk, ngopi bersama di warung kopi.

Sebagai orang awam yang baru belajar sastra (cerpen dan puisi), tentu saya merasa penasaran. Tidak hanya itu, tapi juga ada rasa keingintahuan maksud dari pendapat itu. Sebab kalau kita baca beberapa media (koran) akhir-akhir iniyang sebelumnya memuat rubrik sastra dan budaya, sekarang sudah tidak ada. Artinya ruang sastra di media semakin hari sudah semakin sempit.

Kisah Mimpi Anak-anak dalam Ingin Bertemu Peri

Musa Ismail *
Riau Pos, 6 Jan 2013

Ulam Kata

Sastra merupakan seni tanpa batas. Semua cakupannya mampu melampaui segala aspek kehidupan, baik ditinjau dari unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsiknya. Karena itu, tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sastra ibarat induk seni. Tak salah juga kalau Taufik Ikram Jamil menegaskan bahwa sastra merupakan rajawali seni. Melalui sastra, semua orang bisa mengeksplorasi kehidupan yang mampu mengungkapkan etika, logika dan estetika. Eksplorasi ini juga tak terbatas, termasuk di dunia anak-anak.

Sastra dan Pabrik Pembatalan Aku

Afrizal Malna
Media Indonesia, 6 Jan 2013

DI Berlin, seorang anak muda membuat pembayangan sebuah bangsa melalui restoran. Ia menawarkan daftar menu masakan Maroko. “Usia saya 20 tahun,” katanya. “Saya lahir di Berlin.” Ia hidup di dua dinding. Dinding latar identitasnya justru tidak berada bersamanya, tapi terus direproduksi melalui keluarga. Latar yang telah menjadi pabrik pembatalan aku dari konteksnya, reproduksi identitas yang berlangsung secara mekanis.

Memahami Kritik dalam Puisi

Bhakti Hariani
Suara Karya, 5 Jan 2013

PARODI bersandar pada wilayah yang telah mapan. Penggunaan parodi, oleh karena itu, sering ditujukan untuk kritik. Membongkar wilayah kemapanan subyek. Sasaran dijatuhkan melalui perangkat kepemilikan sendiri. Semisal pertarungan silat, parodi persis ilmu “lampah lumpuh” dalam serial “Tutur Tinular”, yakni tenaha untuk menjatuhkan dirinya sendiri.

Pemberontakan Komunis 1926

Ditulis oleh Tan Malaka (1948)
militanindonesia.org 18 Juli 2011

Lebih dari dua puluh tahun — bahkan sampai sekarang — setelah pemberontakan PKI terhadap penjajah Belanda pada tahun 1926 yang menemui kegagalan besar dan menyebabkan dibantainya dan dipenjaranya ribuan kader-kader PKI, nama Tan Malaka kerap dihubungkan dengan insiden ini secara negatif. Dari yang menuduhnya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan pemberontakan ini sampai yang mencibirnya sebagai pemimpin yang pesimis dan tidak mendukung pemberontakan rakyat.

Budaya Tanpa Arah

POLEMIK NUMERA
Wannofri Samry
Harian Haluan, 11 Maret 2012

Sebagaimana polemik me­ngenai Kongres Kebudayaan Minangkabau beberapa bulan lampau, sesungguhnya juga tidak ada menariknya me­mperbincangkan Numera, karena ia hanya kegiatan biasa, paling-paling kumpul-kumpul para aktivis sastra, selepas itu habis.

SASTRA DAN MASYARAKAT

Donny Syofyan *
Harian Haluan, 15 Jan 2012

Tak seorang penulis-penulis besar yang merayakan ta­tanan sosial yang mapan. Mereka berpendapat bahwa kemapanan itu berpotensi akan membatasi dan merusak segala sesuatu, termasuk karya seni dan sastra dalam lingkup masyarakat. Mereka yakin bahwa masyarakat berperan membentuk nasib seseorang. Dalam masyara­katlah seseorang bertindak dan mendefinisikan dirinya. Se­hing­ga kebanyakan novel berupaya untuk mengeksplor tentang seseorang, bukan masyarakat.

Kenapa Numera Diawasi?

TANGGAPAN TULISAN DARMAN MOENIR
Muhammad Subhan
Harian Haluan, 13 Feb 2012

BILA Bang Darman Moenir (DM) yang menulis, saya paling suka sekali mem­bacanya. Tulisan-tulisan beliau men­cerahkan, cerdas, juga menambah wawasan baru. Tapi sa­yang, maaf, cen­derung mem­pro­vokasi.

Esai beliau, Awas(i) Nu­me­ra (Haluan, Senin 6/2), menurut saya yang awam dapat memecah belah hubu­ngan baik (ukhuwah) sesama pelaku sastra, tidak saja di Sumatra Barat, tetapi juga antarsastrawan di luar Su­mat­ra Barat khususnya Ma­laysia yang “dihujat” de­ngan sejumlah tuduhan. Esai itu, tersebar pula di jejaring sosial dan secara terbuka dibaca oleh beberapa sastrawan Malaysia yang merencanakan datang dalam acara Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya di Padang, 16-18 Maret 2012 mendatang.

Awas(i) Numera!

Darman Moenir
Harian Haluan, 06 Feb 2012

BELAKANGAN, se­cara khusus se­bagian kecil pelaku sastra diberi per­soalan oleh Numera. Saya juga tidak paham tetapi melalui dunia maya ke­mudian mengetahui, Numera singkatan Nusantara Melayu Raya.

Dari Segendong Ke­da­ta­ngan (ini bahasa Malaysia) yang berarti Alas Bakul, Menifes atau Pembukaan, Numera didirikan oleh sas­trawan dan budayawan Ma­laysia, dan untuk kepentingan Malaysia. Numera ditubuhkan untuk mengisi cita-cita yang lebih dinamik bagi me­mer­hatikan kepentingan sas­trawan yang daif dan uzur.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]