Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

YANG DIBANGUN DAN TERBANGUNKAN

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Agaknya hanya diriku yang jadi kagok, ketika berlangsung lomba pidato di kalurahan, siang itu, sehari sebelum hari perayaan Agustusan. Soalnya, pada lumrahnya pidato-pidato yang berdengung, di kampung-kampung, maka lebih dari limapuluh perkataan “pembagunan” disebut-sebut, yang teramat bersifat klise, lagipula membuat pidato itu mirip sebagai ungkapan yang verbal semata. Saya hanya menyebit tiga patah kata pembangunan, yang saya kaitkan dengan istilah “pembangunan mental spiritual”, “pembangunan bangsa dan manusia seutuhnya”, dan upaya untuk “membangun ciri budaya ethnis yang menuju Zaman Baru”, sebelum kita berbicara tentang “sesuatu etos yang terbangunkan”, begitu godam revolusi mengguntur di antariksa.

Mempertanyakan Pembinaan Minat Sastra di Kalangan Muda

RR Miranda
http://www.suarakarya-online.com/

Masalah utama yang paling serius dalam kesusastraan kita ialah menumbuh kembangkan minat sastra pada generasi muda. Bahkan kalau perlu mencuci otak anak-anak muda menjadi setengah sastrawan.

Sebab lingkungan mereka (keluarga, sekolah dan mungkin negara) sepertinya punya sikap sinis terhadap sastra dan sastrawan.

Refleksi Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949

Tri Joko Susilo.SH
http://www.pelitaonline.com/

Pemutar Balikan sejarah Kontrofersi serangan Umum 1 Maret 1949 menua banyak penilaian dari para pelaku dan pengamat sejarah di republik ini. Pro dan kontra datang, apakah Soeharto sebagai penggagas ide, pemberi interupsi atau sekedar sebagai pelaksana lapangan?

Sejarah mengatakan bahwa Soeharto saat itu masih berpangkat Letkol, artinya masih ada pangkat yang lebih tinggi diatasnya. Berdasarkan hal itu, justru Soeharto-lah yang harus mentaati keputusan dari atasannya.

Hasan Tiro, Nietzsche, dan Aceh

Nezar Patria *
Kompas, 19 Okt 2008

HASAN Tiro dalam keadaan galau. Dia berada pada situasi batas eksistensial. Terpaku pada satu rak di toko buku di Fifth Avenue, New York, matanya tak lepas mengeja karya filsuf eksistensialis Jerman, Friedrich Nietzsche. Dia terbenam dalam aporisme Thus Spoke Zarathustra. Saat itu, September 1976. Beberapa hari lagi Hasan harus membuat keputusan penting: ke Aceh menyalakan pemberontakan bersenjata atau tetap hidup di New York sebagai pengusaha.

PATUNG TAK BERMUKA

Tjahjono Widarmanto *
_BASIS, Maret-April 2012

Dentang keduabelas telah berbunyi sejak tadi. Namun, lelaki itu belum berajak dari kursi malasnya yang besar, berukir mewah model Jepara.

Ruangan itu luas lagi ber-AC, beratap tinggi.Lantainya berubin mamer warna putih, tepat di tengahnya dikombinasikan dengan warna merah bata. Dinding-dindingnya juga bercat putih. Ada empat lukisan besar terpasang di keempat dinding itu.

Mestikah Sinis kepada Dunia Sastra?

Herry Firyansyah
http://www.suarakarya-online.com/

Problem utama yang paling serius dalam kesusastraan kita saat ini adalah bagaimana menumbuh kembangkan minat sastra di kalangan muda. Bahkan kalau perlu mencuci otak anak-anak muda menjadi setengah sastrawan. Sikap itu diperlukan, sebab lingkungan mereka (keluarga, sekolah dan mungkin negara) sepertinya punya sikap sinis terhadap sastra dan sastrawan. Mestikah bersikap sinis?

Novel Teutra Atom Thayeb Loh Angen

Masriadi
Tabloid KONTRAS Nomor : 504 |
Tahun XI 27 Agus – 2 Sep 2009

MEMBACA Novel “Teuntra Atom” ditulis oleh Thayeb Loh Angen kali ini begitu mengejutkan. Thayeb merevisi naskah asli yang sebelumnya pada tahun 2005 diberi judul Retina ini. Novel ini bahkan menuliskan beberapa nama dengan jelas, dan kegiatan politik mereka di tahun 2009. Ya, bisa disebut novel ini kesaksian sejarah Aceh yang pernah dibalur konflik dan duka yang berkepanjangan. Tokoh utama, yang dilakonkan dengan cara bercerita orang pertama tunggal, Aku alias Irfan ini mencoba mengajak pembaca menikmati suasana konflik. Thayeb menulis tentang aktifitas politik Zulkifli, alias Doli, guru bahasa Inggris tokoh Irfan yang kini lolos menjadi anggota DPR Aceh dari partai yang didirikan mantan kombatan, Partai Aceh.

Superhero

Muhammad Azka Fahriza
Jawa Pos, 18 Maret 2012

DI suatu pagi pada hari, bulan, dan tahun yang tak perlu kusebutkan. Ketika pagi masih perawan dan mentari belum kelihatan sekalipun langit tiada berawan. Aku bertemu dengannya di sebuah perempatan jalan yang salah satu ujungnya mengarah ke salah satu universitas terbesar di kota ini—tak sampai satu kilometer. Pertemuan yang mengejutkan sekaligus menarik perhatianku. Karena, aku melihatnya dalam gerak-gerik dan dandanan yang begitu ganjil; serupa martir anak-anak dalam perang-perang kemerdekaan.

Budi Utomo dan Jawa

Bandung Mawardi *
http://www.solopos.com/

Budi Utomo adalah sejarah adab dan bahasa Jawa. Nama Budi Utomo muncul dalam percakapan intim antara Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo. Mereka bergairah membicarakan soal pendidikan-pengajaran di Hindia Belanda. Wahidin Soedirohoesodo berpamitan pada para pelajar STOVIA. Tokoh fenomenal itu ingin melanjutkan perjalanan ke Banten demi mewartakan misi pengumpulan dana pendidikan.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]