Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Terompah Kyai

Ahmad Zaini *
http://sastra-indonesia.com/

Hening malam itu seketika buyar ketika detak-detak suara terompah kiai bergelombang membahana di setiap sudut lokasi pesantren. Alas kaki kiai menggerus jalan beraspal menuju tempat beribadah laksana derap kaki kuda yang menerjang medan perang tuk membasmi musuh-musuh. Detak-detak suara terompah kiai semakin cepat memecah keheningan akhir malam yang berudara dingin karena ingin segera sampai ke musholla. Di musholla itu kiai sudah ditunggu ratusan santrinya.

Dongeng, Teater Kearifan di Kepala

Indra Tranggono
http://www.jawapos.com/

DONGENG telah memukau kita sejak anak-anak hing­ga masa tua. Kita ingat ketika kakek-nenek atau ayah-ibu bercerita tentang Timun Emas, Kan­cil Nyolong Timun, Buto Ijo, Sangkuriang, dan lain­nya. Melalui narasi-narasi lisan itu, kita diajak me­masuki jagat petualangan yang indah. Kita pun dapat mengenali berbagai watak tokoh. Saking me­nariknya watak mereka, tokoh-tokoh itu seperti benar-benar ada dan begitu dekat dengan kita. Bah­kan, hingga hari ini mereka masih ngendon da­lam pita ingatan kita.

Ambe Masih Sakit

Emil Amir
Kompas, 4 Maret 2012

DI kampungku, Tana Toraja, aura kematian sering kali berembus seperti angin. Jika terlihat secarik kain putih melambai di halaman tongkonan, itu pertanda ada orang yang masih hidup meski sudah mati, “to makula”. Di sini, kematian dirayakan dengan biaya yang tak sedikit. Inilah akibatnya.

Sudah hampir sepuluh tahun Ambe terbaring di dalam erong, seolah menanti upacara rambu solo yang tak kunjung dilaksanakan oleh sanak keluarga. Sebab, tak ada dana atau belum dan jauh dari mencukupi walau kami tengah mengupayakannya. Hingga hari ini.

Orang Asing, Sebuah Naskah Teater

Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Tokoh
Lurah Guru Modin Orang asing Perempuan Warga

Sinopsis

Adalah konspirasi orang asing dengan lurah. Orang asing membantu lurah untuk merealisasikan janji-janjinya dalam memimpin kampungnya untuk mensejahterakan rakyatnya. Rencana itu disambut baik oleh kebanyakan warga. Terlebih untuk pendidikan gratis, kesejahteraan guru dan modin.

Merdeka

Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/

MENJELANG pertempuran terakhir yang menentukan, kami semua, para prajurit, bersiap. Mengumpulkan tenaga, mengerahkan jiwa-raga untuk mengakhiri habis-habisan benturan yang sudah berlangsung ratusan tahun ini.

Aku duduk di batang pohon kelapa yang mati disambar geledek. Di pangkuanku senjata, sisa-sisa peluru, rasa sakit, dan lelah yang sudah tidak aku pedulikan lagi. Bila subuh pecah dan matahari menyerakkan bara di langit timur, kami harus menyerbu. Hidup atau mati itu soal nanti. Roda sejarah ini tidak boleh berhenti.

Mbah Tajib Pengamen Lagu Jawa

Putri Utami
__Radar Mojokerto, 18 Maret 2012

Saya menjumpai Mbah Tajib secara kebetulan ketika nyambangi bayi dan sekaligus mencari bahan untuk tugas skripsi pada Jum’at, 2 Maret 2012, ke rumah seniman senior yang akrab dipanggil Mbah Catur dan Riris D. Nugraini yang kini menjabat kepala desa Mojowarno Jombang. Di tengah perbincangan dengan tuan rumah, terdengar sayup suara siter menggalun. Mbah Catur menebak bahwa itu pasti Mbah Tajib pengamen siter langganannya yang sering mampir. Mbah Catur pun memanggil Mbah Tajib ke ruang tamu, dari peristiwa itulah catatan ini tertuang.

Replikasi Kebudayaan Jawa

Sabrank Suparno*
Radar Surabaya, 26 Des 2010

Kebudayaan dalam perkembangan peradaban, selalu dilongok serius sebagai indikator corak yang mewarnai strukturalisasinya. Apa dan bagaimana kadar kebudayaan dalam kurun waktu tertentu, tak lepas dari proses sinergial yang memungkinkan terbentuknya power heterogensi kapasitas kualitatif ataupun kuantitatif.

Dagelan Keindonesiaan Emha

Fahrudin Nasrulloh
http://www.jawapos.co.id/

JALAN menulis bagi siapa pun ibarat kelokan bercabang dari sehampar cerita manusia. Seakan di pedalamannya tersimpan setangkup ”kitab kehidupan” yang terus berpendaran dan menggelitik untuk diamati dan dilacak, meski tak bakal pernah selesai. Selalu ada sisa di balik yang tersembunyi. Oase hening, tapi sayup-sayup dari kejauhan masih nyaring. Seberkas kenangan, dari ratusan tulisannya, yang kini semangat menulisnya itu terus berdetak.

Rekonstruksi Monologik

Judul : TANHA, Kekasih yang Terlupa
Penulis : S. Jai
Penerbit : Jogja Mediautama
Cetakan : Pertama, Juni 2011
Tebal : 321 + vi halaman ; 14.8 x 21 cm
ISBN : 978-602-99092-1
Peresensi : Beni Setia
http://www.balipost.co.id/

YANG DIRENGKUH DAN BERLABUH

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Sebuah roman adat istiadat Jawa yang ditulis alam bahasa Indonesia yang apik oleh Arti Purbani (nama samara BRAy. Siti Partini Djajadiniingrat) berjudul “Widyawati”(1949) mengisahkan seorang gadis jelita dari kalangan rakyat, Widyawati alias Widati, yang memiliki ketabahan luar biasa dan gemar berprihatin buat mencapai cita-cita luhurnya.

Tahun Baru Bukan Sekadar Pesta

Mahmud Jauhari Ali *
__Banjarmasin Post

Setiap tanggal satu bulan satu pada tahun baru Masehi selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Mulai tiup terompet kertas hingga pembakaran kembang api besar-besaran pada pukul 00.00 dini hari di belahan bumi mana pun. Seakan kegiatan-kegiatan pada awal tahun baru itu merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditinggalkan. Selain itu, kebanyakan orang saling mengucapkan atau menyampaikan selamat tahun baru kepada sesama baik secara lisan maupun secara tertulis.

KITAB BARZANJI

Aguk Irawan MN
Kedaulatan Rakyat, 15/03/009

Sekira seratus limapuluh tahun sebelum Nabi Muhammad lahir dan membawa pencerahan, puisi telah menempati posisi tertinggi di hati orang Arab, bahkan ketika dunia masih meraba-raba dalam keremangan ilmu pengetahuan, Arab sudah berjibaku dengan puisi dan mengenal ilmu tata bahasa (linguistik), diantara fenomena tingginya penghargaan kaum arab terhadap para penyair adalah dengan menggantung puisi-puisi terbaik mereka di dinding Ka’bah sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku atau ras yang mengalir pada darah mereka. Paling tidak, ada dua karya sastra penting yang ditulis sastrawan Arab Jahiliyah, yaitu mu’allaqat dan mufaddaliyat.

Kabar Kenyataan Antroposentrisme Berbelah

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Lokomotif modernitas bermula dari gagasan Rene Descartes tentang “pikir”, tentang “kesadaran”. Lewat ungkapan masyur cogito ergo sum (terjemahan populernya, “aku berpikir, maka aku ada”). Rene Descartes meyakini diri “ada” melalui “pikiran” yang meragukan segala hal. Lalu muncul wacana antroposentrisme, manusia sebagai pusat alam semesta.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]