Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha

Pengantar Antologi Puisi “Mazhab Kutub” terbitan PuJa (PUstaka puJAngga) 2010
Fahrudin Nasrulloh*
http://sastra-indonesia.com/

Suatu hari, sekisar pertengahan tahun 2007, saya berjumpa dengan Gus Zainal Arifin Thoha di Pesantren Tebuireng, Jombang. Hari itu diadakan pertemuan alumni. Beberapa teman dan kiai yang saya kenal juga tampak hadir. Salah satunya adalah penyair dari Jeruk Macan, Mojokerto, Kiai Khamim Khohari. Pondok semakin ramai. Dari pintu gerbang terlihat orang-orang hilir-mudik. Kebetulan saja saya menyambangi perpustakaan Wahid Hasyim. Mas Tamrin, penjaga perpus, memberitahu saya bahwa di ruangan tingkat atas barat makam pondok dilangsungkan semacam diskusi di mana salah pembicaranya adalah Gus Zainal. Saya pun menghikmati diskusi itu.

Apa Kabar, Penerbit Alternatif?

Jusuf AN *
http://sosbud.kompasiana.com/

Enam tahun lalu, tepatnya pada 6 Oktober 2001 dalam momentum Pameran Buku yang diselenggarakan IKAPI di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta sekelompok pegiat penerbit mendeklarasikan berdirinya Asisoasi Penerbit Alternatif (APA). Amien Wangsitalaja (Matabaca, 2003) yang merupakan deklataror APA memberikan 4 karakteristik penerbit alternatif, yakni: (1) berbekalkan semangat idealistik; (2) bukan sebagai sebuah usaha dagang yang murni; (3) bermodal finansial yang pas-pasan; dan, (4) memiliki semangat mendobrak mainstream wacana yang status quo.

Al-Amin, Khalifah Dua Daulah

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Ketika berhasil mematahkan perlawanan Kaisar Nicephorus dari Imperium Byzantium di wilayah Asia Kecil, Khalifah Harun Ar-Rasyid kembali ke wilayah Bagian Timur.

Di sana terjadi pergolakan yang dipimpin Rafi' bin Al-Laits bin Nashar. Mereka sudah berhasil menduduki Samarkand dan kota-kota sekitarnya. Ketika memasuki kota Thus yang terletak antara kota Nishapur dan Merv, Khalifah Harun Ar-Rasyid jatuh sakit. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia.

MILLENIUM DAN DILEMA MASAKINI

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Pada salah satu bagian dari “Serat babad Dipanegara” terurai kisah, bahwa Pangeran yang mencetuskan perang jawa terbesar (antara 1825-1830) ini pernah berkeinginan menciptakan satu legalisme populatif, yang diemban oleh “nilai datu-datu”. Sang Pangeran, yang nama kecilnya adalah Raden Mas antawirya itu pergi bertapa di Gunung rasamuni, pesisir kidul, dan bertapa sedemikian kerasnya, hingga ruhnya sempat berdialog dengan ratu Kidul.

Meneladani Literasi Bung Hatta

Muh Kholid A.S.
http://www.lampungpost.com/

PERTENGAHAN Maret 32 tahun silam Indonesia berkabung atas kepergian sosok teladan Mohammad Hatta. Tepat pada Jumat, 14 Maret 1980, proklamator yang akrab disapa Bung Hatta itu meninggal dunia dalam usia 78 tahun.

Indonesia pantas kehilangan karena Bung Hatta salah satu tokoh paling cemerlang pada sezamannya. Kepribadian, keteladanan, kesederhanaan, dan pemikirannya tetap aktual diimplementasikan hingga kini. Di antara sekian keistimewaan yang menonjol pada diri Bung Hatta adalah kecintaannya kepada buku. Sepanjang hidupnya, ia telah mewariskan banyak buku bermutu bagi generasi sesudahnya.

Naskah Obat-obatan Melayu

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

SUDAH banyak kajian dan penelitian dibuat oleh para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri tentang perkembangan kebudayaan di daerah Riau tempat naskah-naskah itu dikumpulkan dan tersimpan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi di beberapa negara selain dari yang tersimpan di dalam negeri. Perpustakaan Universitas Leiden adalah tempat yang paling banyak menyimpan naskah-naskah berasal dari Riau.

Menyadari Fungsi Komunikasi Karya Sastra

(Apresiasi Atas Buku Kopi Hujan Pagi Karya Penulis Sekolah Menulis Paragraf)
Junaidi
Riau Pos, 11 Maret 2012

KEHADIRAN buku Kopi Hujan Pagi (KHP) memberi napas baru bagi perkembangan kesusastraan di Riau. Sastrawan Riau itu eksis. Mereka terus berkarya baik di media massa maupun buku sastra yang sengaja diterbitkan. Yang paling utama dari buku ini adalah terlihatnya proses pewarisan kreativitas kepengarangan di Riau dari generasi senior ke generasi yang lebih muda. Buku KHP membuktikan sastrawan muda Riau itu aktif, kreatif dan produktif. Mereka mampu menghasilkan karya dan tampaknya mereka percaya bahwa ‘’hidup bila berkarya’’. Apa artinya hidup bagi seorang sastrawan bila tak menghasilkan karya.

Stanislavski, Iswadi, dan Teater Realis

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Sudah banyak yang menggugat fenomen teater yang menampilkan dialog yang tidak cerdas dan hanya berlarat-larat sehingga tidak mempunyai ruang untuk persiapan batin seorang aktor, apalagi sampai menggarap detail di tingkat tubuh aktor. Wajar saja jika suatu waktu orang rindu lagi dengan teater monolog sebagai jalur alternatif menghadapi kebuntuan. Tapi ternyata tak mudah dan orang kembali ke teater dialog dengan mempelajari buku-buku aktor dari Constantin Stanislavski.

Mencatat Ibu

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Membincang ibu sebagai seorang sosok, bak mengurai satu-satu sulur dunia. Nyaris tak ada titik henti, sekaligus karena sosok ibu ibarat titik asal mula kemunculan nama-nama. Sehingga, mencatat sesosok ibu dalam sebuah tulisan serasa hampir mustahil selesai karena ibu adalah puspa indah taman hati, sumber cinta sepanjang masa.

HUJAN HANYA TURUN SEBENTAR

Muhammad Rain
http://sastra-indonesia.com/

Hujan tinggal tetesan di bawah seng, mengetuk-ngetuk tanah penampungnya, terkena benda-benda yang mudah membuat bunyi makin nyaring. Iramanya bagai kesendirian seseorang di tengah malam. Menandakan kehadiran perulangan kehidupan. Air langit itu menyentuh perasaan rasa sunyi, seolah turut membasuh keringnya perasaan rindu seseorang tersebut. Rindu yang dirasakan tepat pada waktunya. Saat malam makin beranjak menua, desakan untuk bergerak makin perlahan. Sebuah waktu yang paling pas pula untuk menghitung-hitung pencaharian kehidupan selama ini.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]