Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Puasa dan Kesadaran Sosial

Denny Mizhar*
http://media-jawatimur.blogspot.com/

PROBLEM bangsa ini tak juga kunjung usai: persoalan ekonomi, politik, agama, sampai pada kemiskinan. Dalam hal persoalan ekonomi misalnya, dapat ditelisik ketika melihat distribusi pendapatan yang tidak merata. Hingga melahirkan kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin. Orang-orang kaya kebanyakan menghamburkan uangnya demi kepentingan-kepentiang pribadi dan memuaskan hasrat pribadi. Walaupun ada sebagian yang dermawan tetapi tidak banyak, adapun hanya simbolik.

FORMALISME RUSIA: BEBERAPA TESIS, TANGGAPAN, DAN CATATAN KAKI •)

Moh. Syafari Firdaus
http://madrasahfalsafah.blogspot.com/

Terlahir dari sekelompok teoritisi yang menamakan dirinya Opayaz, Formalisme Rusia (dalam tulisan ini selanjutnya akan disebut “kaum formalis”) dipandang telah menyumbangkan sejumlah pemikiran dan gagasan penting bagi perkembangan studi dan telaah sastra. Sejumlah kalangan bahkan menganggap, gagasan-gagasan yang dikedepankan kaum formalis merupakan peletak dasar teori sastra modern[1]. Victor Shklovsky, Boris Eichenbaum, Roman Jakobson, dan Leo Jakubinsky, adalah beberapa teoritisi yang tergabung di dalamnya. Dengan “metode formal” yang kemudian dikembangkannya, bentuk studi dan telaah sastra kalangan formalis sempat begitu berpengaruh di Rusia sekitar tahun 1914—1930-an.

Benarkah Nusantara Telah Dikenal di Jaman Nabi?

Abdullah al-Mustofa
http://yasirmaster.blogspot.com/

Benarkan pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction”.

PRAMOEDYA ANANTA TOER: DARI HISTORI KE AHISTORI

Iwan Gunadi *
http://komunitassastra.wordpress.com/

Suatu malam. Di sebuah toko buku besar di Jakarta. Lelaki berpostur tinggi besar dan berkulit agak legam itu berdiri di depan etalase yang memajang buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Kemeja putih berlengan panjang dan pantalon melekat di tubuhnya. Jas hitam melapisi kemeja. Meski tanpa dasi, penampilannya mengesankannya sebagai seorang eksekutif muda. Tangannya menenteng kantong plastik transparan bercap nama toko buku itu.

Penelitian Naskah Melayu: Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan

Prof. Dr. Sri Wulan Rujiati Mulyadi *
http://hermankhan.blogspot.com/

1. Pendahuluan

Penelitian naskah Melayu yang termasuk dalam sastra lama di Indonesia sebenarnya sampai sekarang belum dapat dikatakan banyak, jika dibandingkan dengan khazanah naskah sastra lama yang terdapat di tanah air kita, serta jika dibandingkan dengan khazanah naskah sastra lama yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Orang telah beberapa kali mencoba untuk memperkirakan jumlah naskah Melayu yang masih ada.

Matinya Tukang Kritik dan Menanti Kelahiran Kritikus Baru (Tanggapan untuk George dan Zulfikar)

Damar Juniarto
http://www.kompasiana.com/damdubidudam

Bertentangan dengan apa yang diharapkan banyak pihak, kritikus justru telah lama mati sehingga karya-karya yang ada seolah berjalan tanpa kritik. Sebenarnya siapa yang berkepentingan atas kelahiran kritikus baru di tengah derasnya arus produktivitas karya, baik melalui media cetak maupun digital, kalau bukan kita?

Mereduksi Karya Sastra, Melepas Kacamata (Tanggapan untuk George)

Zulfikar Akbar
http://www.kompasiana.com/soefi

Kacamata tentu saja merupakan sesuatu yang melekat pada kedirian, keakuan, dan bisa juga sebagai simbol ketidakmurnian dalam penglihatan. Di sini, George muncul mengambil kacamata-kacamata itu, dan seakan menghardik untuk pastikan dulu kemampuan melihat sesuatu secara apa adanya, tanpa perlu alat bantu itu. Sampai ia dengan bahasa lugas, katakan tidak ada karya sastra dan tidak ada sastrawan di Kompasiana (taruhlah dunia cyber juga, untuk lebih umum).

Mereduksi Karya Sastra

George Soedarsono Esthu
http://www.kompasiana.com/soedarsonoesthu

Ada beberapa teman dekat bertanya kepada saya: “Mas, Om, Pakde, Lik, Mbah, apakah tulisan di Kompasiana itu ada yang sudah bisa disebut karya sastra?” Saya menjawab: “Tidak tahu!”. Ketika saya terus ditanya: “Kenapa tidak tahu?”, saya menjawab yang mau dijadikan ukuran apa.

Workshop Bareng Bengkel Teater WS. Rendra “Teater Diponegoro” UNDIP

Choirul Rikzqa
http://www.kompasiana.com/rikzadipo

Magelang, UKM Teater Diponegoro mengadakan DIKLATSAR (Pendidikan dan Pelatihan Dasar) untuk Anggota baru dan Pelantikan. Acara ini berlangsung selama 3 hari, tanggal 20 s/d 22 Januari 2012 yang bertempat di Sanggar Seni Eloprogo, Dusun Bejen. Kecamatan Borobudur, Magelang.

Merebut Wacana Agama dan Seksualitas

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

Book Review: Agama, Seksualitas, Kebudayaan. Esai, Kuliah dan Wawancara Terpilih Michel Foucault; Michel Foucault, disunting oleh Jeremy R. Carrette; Jalasutra; Cetakan I, 2011; xxvi + 366 halaman.

TEKS FILSAFAT itu seperti hantu yang mengejutkan, terus berlari tanpa henti, mengejar manusia-manusia pemberani maupun yang ketakutan. Itulah kali ini, terbit satu karya yang sangat penting dalam khazanah filsafat, “Agama, Seksualitas, Kebudayaan. Esai, Kuliah dan Wawancara Terpilih Michel Foucault” (2011).

Kjökkenmöddinger

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

SAMPAH dapur berupa kulit kerang yang berbentuk busut atau bukit kecil sebagai tanda adanya hunian dan kehidupan purbakala di suatu tempat. Kjökkenmöddinger ialah sampah dapur atau timbunan kulit kerang yang dalam bahasa Denmark, orang yang awal sekali menandai hal ini.

Totalitas Amien Kamil

Anton Sudibyo, Garna Raditya
http://suaramerdeka.com/

”Lima orang atau lima ribu orang, bagi saya tak ada bedanya”

SEBARIS kalimat itu menjadi ucapan pembuka Amien Kamil di atas panggung. Tentunya hal itu dikatakannya karena melihat pembacaan puisi yang sebentar lagi dilakukannya, hanya dihadiri beberapa gelintir manusia.

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]