Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Obituary Dami N. Toda (1942-2006)

Riris K. Toha-Sarumpaet
http://docs.susastra-journal.com/

DALAM sebuah lawatan kesenian Fakultas Sastra UI ke Yogyakarta di awal 1970-an, Dami dengan suara tenornya yang lengking mengiris, berduet dengan saya. Bukan gentar atas ratusan pasang mata taruna Akademi Militer Nasional (AMN) yang menyaksikan persoalan saya waktu itu, tetapi tuntutan estetik Dami yang untuk ukuran saya sebagai mahasiswa sangat sulit dipenuhi. Masa itu saya lebih mengandalkan alam dan penghayatan, tetapi dia meminta teknik dan pembangunan khalayak.

Tepuk riuh menyambut pertunjukan kami, tetapi terus terang, masa itu tak banyak yang dapat saya pahami dari Dami: ia mengangankan sesuatu yang sangat jauh dan membicarakan yang bukan main pelik bagi mahasiswa yang kurang makan, membaca, dan pengalaman seperti saya. Juga, dalam kuliah seminar sastra yang dipimpin Lukman Ali almarhum, Dami selalu datang dengan bahan sanggahan yang telak, bahkan keras.

Kalimat dalam makalahnya bertingkat-tingkat, pemikirannya bahkan sering…

Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra

Yohanes Sehandi *
harian Pos Kupang, 23 Juni 2010

Sejak Dami N. Toda meninggal dunia 10 November 2006 di Hamburg (Jerman) sampai dengan pengantaran abu jenazahnya ke Indonesia/NTT, Oktober 2007, sejumlah koran nasional dan lokal NTT (Pos Kupang dan Flores Pos), memberitakannya. Wartawan Pos Kupang di Manggarai, Kanis Lina Bana, merekam kembali perjalanan hidup almarhum dan menghasilkan tiga tulisan berseri di Pos Kupang (25-27/10/2007). Dua penulis muda NTT, Bill Halan (Pos Kupang, 1/11/2007) dan Isidorus Lilijawa (Flores Pos, 24/10/2007) memberi sumbangan “opini sastra” tentang Dami N. Toda beserta jasa-jasanya. Semakin semarak berita tentang almarhum dengan kehadiran sastrawan besar Indonesia, WS Rendra, yang memberi kesaksian tentang kehebatan Dami N. Toda, juga ikut mengantarkan abu jenazah almarhum ke Kupang terus ke Todo-Pongkor, Manggarai, untuk disemayamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir (Pos Kupang, 12, 16, 17, 19, 21/10/2007, dan Flores Pos, 16, 19/10/2007).

Dari ber…

Memikirkan Indonesia: Dari dan Untuk Tan Malaka[1]

Fadly Rahman[2]
http://www.kompasiana.com/detikhidup

Bila revolusi dalam sejarahnya dikatakan acapkali “memakan anaknya sendiri”, maka itu ungkapan, mengena benar untuk Tan Malaka. Sosok yang rekam jejaknya nyata, ada, namun kemudian seakan memitos karena dihilangkan/ditiadakan dalam sejarah pembentukan dan perkembangan republik ini. Setelah masa reformasi sosoknya mengemuka kembali. Ada yang masih mengidentikannya sebagai seorang komunis –dipahami awam sebagai negatif; bahkan sebaliknya, ia dikultuskan melalui berbagai ekspresi budaya pop berupa kaus, pin, dan pamflet (mungkin bisa saja kelak nyaris senasib dengan si ikon revolusi dari Amerika Latin, Ernesto ‘Che’ Guevara).

Pada masa kolonial Belanda, Tan Malaka dikenal sebagai pedagog, pemikir, hingga petualang politik yang menjadi ancaman serius bagi politik kolonialisme. Tan pun diburu oleh agen-agen spionase di dalam dan luar negeri. Dan hingga selepas masa revolusi, sekalipun Tan telah tiada, jati dirinya malah tenggelam (baca juga…

KETIKA KRITIK SASTRA BERTOLAK PADA PERKIRAAN

(Tanggapan atas Tulisan Didik Wahyudi)
Indiar Manggara *
http://www.facebook.com/

Mengenai pentas drama monolog Merdeka oleh Putu Wijaya beberapa minggu lalu di Gedung Serba Guna UNAIR, nampaknya memunculkan sebuah polemik yang cukup menarik. Sebuah kritik terhadap pentas monolog berdurasi sekitar enam puluh menit ini, pertama kali dilontarkan oleh Ribut Wijoto dalam sebuah esai Catatan Pentas Monolog “Merdeka” Putu Wijaya (Jawa Pos edisi minggu, 23 november 2008).

Salah satu permasalahan utama yang diangkat oleh Ribut adalah luputnya Putu dalam memegang konsistensi logika tekstual pada teks drama monolog Merdeka-nya. Yakni pada adegan seorang cucu yang masih duduk di bangku SD, bertanya pada kakeknya, “Benarkah kita telah merdeka, kek?” Lalu si kakek menjawab dengan panjang lebar dan berkobar-kobar, dengan segala ideologinya yang muluk-muluk. Hal inilah yang dipertanyakan oleh Ribut. Bagaimana mungkin, seorang bocah yang masih duduk di bangku SD, dengan tiba-tiba mempertanyakan hal yang …

Perempuan-Perempuan Kereta

Ahmad Zaini *
http://sastra-indonesia.com/

Sewaktu pagi belum sempurna memasuki hari, tangan-tangan kekar para perempuan kereta menjinjing keranjang yang penuh dengan telur asin. Mereka berjalan menembus pagi buta yang dipenuhi kabut penghalang mata. Langkah mereka laksana langkah laki-laki yang kokoh menyangga beban yang berat. Ya, itulah pekerjaan sehari-hari dari perempuan-perempuan kereta yang mencari nafkah ke kota demi menyambung hidup di dunia.

Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak

M. Harya Ramdhoni
http://www.lampungpost.com/

LANGIT di atas sana mulai semburatkan cahaya tipis kemerahan. Pagi telah tiba. Hujan lebat yang mengguyur Kemelak sejak semalam nyaris tak bersisa kecuali udara dingin yang kekal menyusup hingga ke sumsum. Jejak-jejak hujan nyaris tak terbaca. Dihapuskan banjir darah para pejuang republik pada pertempuran semalam. Tubuh-tubuh muda itu bergelimpangan bagai sekumpulan bangkai hewan di hari raya kurban. Dingin jasad-jasad membisu meninggalkan luka. Juga dendam sebuah republik berusia muda. Di segenap penjuru kota suara tembakan masih terdengar berkali-kali. Sisa-sisa tentara republik tak serta merta menyerah begitu saja pada keangkuhan moncong-moncong meriam tentara NICA 1) yang mendongak congkak.

Front Pertempuran Kemelak-Sepancar, Baturaja, 17 Agustus 1947

“Cepat atau lambat kita akan dibinasakan. Mereka terlalu kuat. Kita bukan lawan yang setanding buat mereka. Peperangan modern tak sekadar mengandalkan otot dan otak tetapi juga persenjataan c…

Pak Tua dan Anjing Muda

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

“Cinta dan sakit jiwa adalah saudara kembar. Teruslah tertawa, bergembira dengan kegilaan.”

Entahlah, kegilaan ini dimulai dari cinta atau cinta dimulai dari kegilaan. Mencintai adalah seberapa sabar ia hari ini harus duduk berlama-lama menikmati secangkir kopi mocca, yang dihirup wanginya setiap setengah jam sekali.

Lelaki itu memang sudah beruban, wajahnya berkerut, tangan kirinya menyangga, menggaruk rambutnya yang terasa gatal karena ulah nakal kehidupan. Tangan kanannya menyeruput pelan tapi pasti, kopi yang belum dingin, lalu menghempaskan nafas serasa lega. “Hah…”.

Tetapi, sejurus kemudian seraya memaki-mbatin, “Anjing…!” duduk santai di depannya memelototi seonggok daging hidup yang tak berdaya di seberang jalan. Tubuh itu duduk-setengah berjongkok memeluk kedua kaki, sedang punggung dan pundak kirinya tersangga pohon besar yang kokoh.

Tempat duduk itu sangat nyaman, tak tergerus hangat terik mentari, tak terbelai halus rintihan gerimis d…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]