Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Lepas dari Sergapan Klise

Anwar Holid*
Kompas, 31 Agus 2008

STEVEN Taylor Goldberry, penulis ”The Writer’s Book of Wisdom”, menyatakan: sebuah buku yang punya kerangka cerita sangat menarik bisa sukses meski ia ditulis dengan buruk, plotnya jelek, dan karakternya mudah ditertawakan. Ujung-ujungnya, kata dia, isi tulisan lebih penting dibandingkan keterampilan.

Kadang-kadang subyek sebuah cerita bisa saja klise karena memang nyaris tiada yang baru di dunia ini; tapi bila formulanya bikin pembaca terpana, berharaplah bahwa ia bakal sukses jadi cerita.

Kunci dari ramuan itu, menurut Harriet Smart, terletak pada pertanyaan: ”Bagaimana seandainya.” Misal dalam film Notting Hill: ”Bagaimana seandainya bintang Hollywood jatuh cinta pada pemilik toko buku bekas?”

Ketika Cinta Tak Mau Pergi, novel debut Nadhira Khalid melahirkan pertanyaan: Bagaimana seandainya seorang pemuda miskin jatuh cinta pada seorang gadis paling cantik dan kaya dari desa sebelah yang secara turun-temurun bermusuhan dengan desanya?

Boleh jadi pe…

Semoga Pelangi Itu Selalu Berseri

: Sebuah Esai atas Buku Kumpulan Cerpen "Pelangi Sastra Malang dalam Cerpen"
Sidik Nugroho
http://tuanmalam.blogspot.com/

"Dead Poets Society" -- mungkin kita pernah menonton filmnya. Di sana ada seorang guru bahasa yang sangat bergairah dan dinamis mengajar: naik ke atas meja, penuh retorika, bahkan menggunakan pelajaran olahraga sebagai kegiatan pemantik semangat hidup. Sang guru -- diperankan memikat oleh Robin Williams -- disukai benar oleh murid-muridnya. Beberapa di antara mereka bahkan kemudian meniru-niru apa yang pernah dilakukan sang guru itu ketika ia masih muda: membentuk geng sastra!

Di sebuah tempat mirip gua yang jauh dari keramaian pada malam hari, berbekal cahaya remang-remang, mereka berkumpul, mengadakan perang sajak dan puisi. Jiwa muda yang penuh antusiasme dan kegairahan berekspresi -- tak akan terlupakan, bukan? Apalagi ketika cinta sedang menyapa, lalu puisi tercipta, dibacakan sambut-menyambut dalam bisikan hening, sesekali pekik, dan nuansa …

BOM MANUSIA BERSUARA TETES EMBUN

Wawan Eko Yulianto
http://sastrapenyadaran.multiply.com/

Bahan-bahan pokok: 1 orang lelaki/suami/pemuda yang baru menikah 1 orang istri yang sedang hamil muda Bahan-bahan bumbu: 1 momen khusus yang mewajibkan seseorang jalan-jalan mengunjungi teman (disarankan Idul Fitri) 1 unit sepeda motor Jalanan kota di Indonesia (yang terlihat mulus padahal bergelombang dan banyak bekas galian) Bahan-bahan pemoles dan pemanggangan: 1 orang dokter spesialis obstetri ginekologi (disarankan lokal dan menguasai bahasa lokal) 1 unit alat ultrasonografi (USG)

Cara pembuatan bumbu: Persiapkan suatu momen khusus. Yang dimaksud momen khusus adalah momen berbeda dengan hari biasa dan membuat Anda harus sering-sering keluar rumah.

Pada kasus saya, saya menggunakan momen Lebaran yang mewajibkan saya keluar mengunjungi rumah saudara-saudara, guru-guru atau teman-teman dekat. Karena harus sering keluar pada jarak yang tak terlalu jauh, saya memilih memakai sepeda, yang merupakan bahan bumbu kedua.

Selanjutnya…

Malam Lebaran di Pelabuhan

Minggu Pagi, II Januari 2003.
Marhalim Zaini

Di atas pelabuhan, waktu terasa berhenti.
Malam ini, setelah sekian ribu malam yang padam. Tok Bayan baru percaya pada Alan Lightman, sahabatnya dari Memphis, yang menulis dalam sebuah novelnya bahwa “Ada satu tempat di mana waktu berhenti, bandul jam hanya bergerak separuh ayunan. Anjing-anjing mengangkat moncong mereka dalam lolongan sunyi. Pejalan kaki membeku di jalanan berdebu.”* Dulu, ia hanya tersenyum membaca kalimat-kalimat provokatif itu. Baginya, Alan hanya bermain-main dalam imajinasi yang menyesatkan. “Fiksi, memang selalu berusaha untuk melampaui waktu, tapi ternyata waktu selalu lebih dulu meninggalkan masa lalu.” Begitu ia sering mencibir. Tapi malam ini, ketika sekian ratus buku yang telah ia baca, selalu mengembalikannya pada ketidakmampuan mengeja waktu, ia seketika merasa menjadi sebutir debu yang membatu di sudut pelabuhan yang terjerat sunyi. “Apakah di sini, di atas pelabuhan, satu tempat itu, di mana waktu telah berh…

MELAGA EMPU, MENDENYUTKAN ILMU

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Seorang sahabat, baru-baru ini mengenalkan suatu istilah baru :Workaholisme. Apa pulakah itu? Teman kita menjelaskan yang dimaksudkan adalah “keranjingan kerja”, atau tegasnya kita dikendalikan oleh dorongan nafsu kerja, di mana keseimbangan sikap-kerja itu membuat orang jadi tanpa-daya. Dikatakan, kerja adalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Dengan bekerja, kita memang dapat memperoleh berbagai manfaat, seperti : imbalan materi, rasa berguna dan kesempatan pergaulan yang relatif luas. Gejala normal demikian tak usah dimasalahkan, tentunya. Yang jadi soal, jika penderitaan keranjingan kerja ini, melepas kesibukan saja merupakan siksaan, dan dia tak bisa menghentikan kegiatan kerjanya. Kalau dipaksa mengaso, warkohalisme akan merasakan stress, depresi, dan sampai tidak bisa tidur (insomnia), karena, kerja baginya adalah obsesi yang berada di luar kontrol diri, seraya menyebut gejala ini, saya malahan teringat akan kaum pere…

Bulan Sastra Indonesia di Jombang

Siti Sa’adah
Radar Mojokerto, 24 Juli 2011

Meskipun belum ada kesepakatan secara menyeluruh mengenai peringatan Bulan Sastra Indonesia, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMP Bahtra Indonesia) STKIP PGRI Jombang telah mengagendakan peringatan tersebut pada bulan April. Bulan sastra disebut oleh Sapardi Djoko Damono sebagai hari sastra jatuh tepat pada 28 April yang sekaligus untuk mengenang Chairil Anwar. Bulan Sastra Indonesia yang telah berlangsung pada 15-16 April 2011 di kampus STKIP PGRI Jombang merupakan agenda baru HMP Bahtra Indonesia yang merupakan pengembangan agenda Bulan Chairil yang telah dilaksanakan sebanyak tiga kali setiap tahun sejak kepemimpinan Ikhsanul Fikri (2008) yang sekarang menjadi ketua Sanggar Teater Gendhing dan Rahmad Sularso Nh. (2009 dan 2010). Pergantian nama dari Bulan Chairil ke Bulan Sastra ini bertujuan agar kegiatan tidak terpaku pada sosok Chairil saja, melainkan terbuka untuk mengangkat sastrawan lain sepert…

Lelaki Penghias Kubur

Aguk Irawan MN*
Minggu Pagi, Juli 2011

TAK bisa dipungkiri, bagi banyak orang sejauh mata memandang, harta dan kehormatan itulah kebahagiaan. Orang mengejar mati-matian agar menjadi pejabat, tidak lebih tujuannya adalah demi itu. Menjadi pejabat, atau orang terhormat tanpa materi adalah semacam aib besar. Tetapi tidak pada seorang lelaki tua. Di keheningan pagi yang buta, ia seperti berkelakuan aneh, padahal orang seantero negeri ini tahu, kalau ia adalah lelaki terhormat dan kaya. Ia terliihat sedang membongkokan tubuhnya, membersihkan sebuah kuburan di halaman rumahnya, dan kuburan itu masih tanpa nisan, tanpa nama, tapi selalu saja terlihat seperti ada bekas siraman bunga mawar. Dan bau harumnya semerbak sampai ke jalan-jalan.

Ada yang aneh di kuburan itu, kalau dilihat dari seberang jalan ia nampak lapuk dan berlumut hitam, namun bila diperhatikan lebih lama kubur tersebut nampak eksotik dan bersih. Tanpa menghiraukan sesiapa yang sesekali mencuri pandang pada dirinya, lelaki tua i…

Roman Kehidupan Kusni Kasdut

S.I. Poeradisastra
http://tempointeraktif.com/
KUSNI KASDUT
Oleh: Parakitri
Penerbit: P.T. Gramedia, Jakarta, 1979, 318 halaman, 18 x 11 cm.

REVOLUSI meruntuhkan sistem nilai lama dan menyusun sistem nilai baru. Revolusi yang sungguh-sungguh serba besar penuh kepahlawanan dan diliputi romantik. Hanya sedikit orang merenung mempertanyakan segala sesuatu dalam revolusi itu. Kebanyakan bertindak, larut tanpa bentuk di dalamnya, dan menggagau-gagau mencari identitas yang terus terlepas.

Seorang di antara pencari itu adalah Kusni, yang kemudian meng-Kasdut-kan dirinya. Revolusi pun menyusun kembali antar hubungan para pesertanya, menurut pola demokratik menuju persamaan martabat.

Seorang anak kaum miskin, seperti almarhum Mayor Dullah dari Surabaya (yang gugur di Ambon ketika menumpas RMS), dapat beristrikan seorang gadis tamatan HBS lima tahun.

Di dalam tataan sosial pra-revolusi jelas itu mustahil. Demikian pula Kusni, seorang anak yatim keluarga petani miskin. Tanpa revolusi, mustahil di…

Memoar Ventje Sumual Merevisi Sejarah Indonesia

Yuyu AN Krisna *
http://www.sinarharapan.co.id/

MEMBACA Memoar Ventje HN Sumual setebal 706 halaman, kita hanyut dalam gelombang kehidupan seorang laki-laki Minahasa yang begitu peduli akan nasib bangsa ini, bangsa Indonesia. Berbagai gerakan demi kemajuan bangsa ini dilakukan oleh perwira pejuang, politikus, pengusaha, tokoh sosial yang lahir di Remboken, Minahasa, Sulawesi Utara, 11 Juni 1923 ini.

Menurut sejarawan Prof Salim Said, buku ini mengungkapkan begitu banyak fakta dan kata yang selama ini tidak diketahui para sejarawan, apalagi masyarakat umum.

Salah satunya, serangan umum 1 Maret 1949, ternyata adalah gagasan Ventje Sumual. Pada 12 Februari 1948, Soeharto meminta Ventje Sumual menjumpainya di Desa Semaken, Kulon Progo. Ventje diantar oleh utusan Soeharto, Letkol Soedarto. Ternyata rapat rahasia itu hanya mereka bertiga. Hal 89. Tanpa membuang waktu, Soeharto langsung mengajak ke pokok rapat. Strategi ke depan. Sambil mengevaluasi langkah-langkah yang sudah dan sedang dilak…

Biografi Almarhum Tan Malaka (1894-1949)

Sabam Siagian*
Suara Pembaruan, 22 Sep 2007

SEBUAH lembaga penelitian Belanda KITLV (singkatan dari Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde – Lembaga Kerajaan untuk Penelitian Masalah Bahasa, Geografi dan Bangsa-bangsa) yang berkantor pusat di Leiden, meluncurkan terbitan monumental. Hasil karya se- orang peneliti senior Dr Harry A Poeze di lembaga tersebut tentang kegiatan politik tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang berhaluan kiri, Tan Malaka, antara tahun 1945 sampai dengan awal 1949 itu, terbit dalam tiga jilid.

Isinya lebih dari 2.000 (dua ribu) halaman. Judulnya saja agak mencerminkan simpati penulis kepada subjeknya: Verguied en Vergeten- Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesia Revolutie, 1935-1949 (Dihujat dan Dilupakan-Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, 1945-1949).

Tiga jilid yang baru terbit ini merupakan Bagian II. Bagian I diterbitkan pada 1976 dan menggambarkan perjalanan hidup Tan Malaka sejak lahir di Sumatera Barat (1894) dari tahun …

Pulang tanpa Alamat

Abidah El Khalieqy*
http://www.jawapos.co.id/

USAI mandi dan memilih pakaian paling bersih, Gotap menyemprotkan minyak wangi di bawah daun telinga. Di dada kiri tempat jantung bersembunyi, dan sedikit olesan di denyut nadi pergelangan tangan. Senyum cerah tersungging dalam cermin besar dan jernih. Seperti kuncup putih melati, senyum itu ditatapnya berulang kali. Entah siapa yang perintah, tiba-tiba tangannya bergerak, mengambil kembali botol parfum dari atas meja, dan menyemprotkannya di kedua telapak kaki. Tapi, pikirnya, masih ada yang kurang. Telapak tangan dan jari-jariku mesti wangi, agar setiap orang yang kusalami akan dilekati keharuman yang sama.

”Kau ini mau ke mana, Tap?”

”Mudik!”

”Ini hari masih pagi. Bukankah kita akan berangkat nanti malam?”

”Ah! Kau tunggu sajalah di sini. Istirahatlah dulu. Aku mau pamitan dengan penduduk di kampung ini.”

”Haa…!?”

Wajah Segap ternganga. Lebih ternganga lagi ketika melihat Gotap, sohib lawasnya itu, keluar dari kamar dan berjalan menuju g…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]