Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

Selayang Pandang Tentang TKW di Hong Kong: Dari Terbitkan Buku Hingga Kuliah S2!

Uly Giznawati
http://www.kompasiana.com/www.ulygiznawati-ar.com

Tenaga kerja wanita atau buruh migran adalah jutaan manusia yang mencoba mengadu nasib dengan bekerja di luar negeri, meninggalkan keluarga, saudara dan kampung halaman. Demi tercapainya kesejahteraan bagi individu, keluarga, komunitas dan negara. Seperti di Hong Kong (HK), jumlah buruh migran tiap tahunnya selalu bertambah. Dan saat ini tercatat 124.000 buruh migran yang bekerja di HK. Sebagian besar dari mereka (99 persen) bekerja disektor rumah tangga.

Salah satu faktor yang paling utama adalah para BMI di HK memiliki hak dan kewajiban yang sama dan standar kontrak kerja yang telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah HK, salah satunya hak untuk libur.

Jatah libur satu hari dalam seminggu, memberikan ruang pada teman teman BMI untuk melakukan banyak aktifitas. Sehingga tidak heran jika lapangan Viktoria Park mendadak berubah menjadi ”Kampung Jawa”, pada hari minggu.

Pada hari minggu, bermacam macam aktifitas dipusatkan di…

Surat Berdarah dari Hong Kong untuk Presiden SBY

Insaf Albert Tarigan
http://news.okezone.com/

Cerita mengenai kepiluan yang menimpa Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mengadu nasib di luar negeri sudah kerap kali menghiasi pemberitaan media massa dalam negeri.

Pemerkosaan, penyiksaan, pelecehan seksual hingga pembunuhan sadis seolah-olah bukan lagi “berita” karena nyaris terjadi setiap tahun. Mulai dari Malaysia, Arab Saudi, hingga Hong Kong.

Adakah cerita lain yang minimal memberikan gambaran “lain” dari para BMI di negeri asing itu tanpa melupakan penderitaan dan advokasi terhadap mereka?

Pertanyaan inilah yang coba dijawab Nadia Cahyani dan kawan-kawan BMI di Hong Kong melalui cerita-cerita pendek yang dibukukan dengan judul “Surat Berdarah untuk Presiden, Suara Hati BMI di Hongkong” terbitan Jendela.

Buku setebal 400 halaman ini adalah sebuah fragmen dari roman kehidupan para buruh yang disampaikan dengan kejujuran dan di banyak sudut terdengar blak-blakan. Dia seperti perjalanan hidup yang tak melulu berisi tragedi tapi juga bukan mo…

Geliat Sastra Migran di Negeri Jiran

Anaz
http://www.kompasiana.com/anazkia

“Katakan Cinta, Dengan Aksara” begitulah, tema seminar kepenulisan yang diadakan di KBRI tiga hari lalu, sabtu 9 april 2011. Dengan pembicaranya adalah, Teh Pipiet Senja, serta dimoderatori oleh Pak Alwi Alatas. Acara yang dilaksanakan oleh FLP Malaysia, bekerja sama dengan KBRI dan SIK (Sekolah Indonesia Kuala Lumpur) berjalan sangat meriah. Dihadiri oleh ratusan peserta, baik dari kalangan mahasiswa, ibu rumah tangga, para siswa SIK juga sebagian di antaranya adalah para tenaga kerja, baik TKI maupun TKW.

Melihat lebih jauh tentang sepak terjang Teh Pipiet, terutama tentang kepedualiannya kepada para buruh migrant terutama ketika di Hongkong tahun lalu membuatku berharap, kalau kehdairannya mampu membius kami, para buruh migrant di negeri jiran untuk lebih giat lagi dalam menulis. Tak hanya menulis, tapi juga menerbitkan buku. Ketika acara seminar bermula dan Teh Pipiet satu demi satu membeberkan rahasia kepenulisannya sebagian di antara kami mu…

Ketika Para Buruh Menulis Sastra

Bonari Nabonenar
Jawa Pos, 10 Juli 2005,

Minggu, 10 Juli ini, di Hongkong University, Kowloon, dua cerpenis Jawa Timur, Bonari Nabonenar dan Kuswinarto, diundang menjadi pembicara pada acara workshop penulisan bagi buruh mingran Indonesia (BMI) di Hongkong. Workshop yang diadakan komunitas sastra BMI Caf? br> de Kosta itu diikuti lebih dari 200 pekerja di Tiongkok itu.
***

Belakangan ini dalam dunia sastra Indonesia muncul istilah yang tampaknya akan semakin sering disebut-sebut: sastra buruh migran (Indonesia). Fenomena itu ditandai dengan lahirnya karya-karya sastra dari "rahim" para pekerja wanita kita di luar negeri, yang diam-diam sudah lama "mengandung" benih-benih potensi yang luar biasa.

Terus terang, saya sempat dikagetkan oleh kehadiran Rini Widyawati, yang tahun lalu baru pulang dari Hongkong. Selama dua tahun Rini memang bertaruh jiwa dan raga menjadi domestic helper (pembantu rumah tangga) di negara bagian Tiongkok itu. Nah, ketika pulang ke kampung hala…

Foto TKI Hongkong Dipamerkan di Jatim

Surabaya (ANTARA News)
http://www.antaranews.com/print/1183544636

Penggerak sastra buruh migran Indonesia (BMI) di Hongkong, Bonari Nabonenar dan kawan-kawan, menggagas kegiatan untuk memamerkan secara keliling foto-foto para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kini bekerja di Hongkong, China.

"Saya berharap gagasan ini mendapat dukungan dari para TKI Hongkong untuk mengirimkan foto-foto yang layak pamer, baik foto-foto saat berada di penampungan di Indonesia, saat berangkat, saat bekerja di Hongkong maupun saat berlibur," kata Bonari kepada ANTARA News di Surabaya, Rabu.

Namun, ia mengingatkan bahwa pameran ini bukan ajangnya fotografer, melainkan betul-betul pameran foto yang mementingkan aspek momentum saat foto diambil dan bukan semata-mata pada kualitas secara fotografi.

Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa (PPSJS) yang pernah menggelar Festival Sastra Buruh di Blitar, Jatim, 30 April- 1 Mei 2007 lalu itu mengemukakan bahwa pameran ini akan memiliki makna tidak hanya bagi TKI…

Jurnal Kembang Kemuning: Menumbuh-Kembangkan Sastra Buruh Migran

JJ. Kusni
http://groups.yahoo.com/

Komunitas Perantau Nusantara [KPN] Hong Kong, yang kalau tidak salah, anggota-anggotanya terutama terdiri dari Tenaga Kerja Wanita [TKW] dalam surat siarannya di milis buruh-migran@yahoogroups.com [05 Maret 2005] dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April mendatang bermaksud menyelenggarakan lomba menulis puisi di kalangan buruh migran Indonesia. Surat siaran KPN itu menunjukkan bahwa "Tujuan utama yang hendak dicapai melalui lomba ini adalah :1) mengupayakan lahirnya penulis puisi dari kalangan pekerja migran Indonesia.2) memacu semangat para Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong dalam kecintaan mereka terhadap sastra". Lebih lanjut disebutkan bahwa "Lomba ini dimaksudkan sebagai wahana untuk menjaring para Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong yang mempunyai interest pada puisi dan dunia sastra pada umumnya. Peserta lomba boleh menulis puisi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris". Kemudian "Dari seluruh peserta lom…

Nessa Kartika, Penulis Antologi Sastra-Berjuang

Untuk Kaum Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri
28th Desember 2010
http://berita21.com/

Nessa Kartika, seniman yang juga aktivis Buruh Migran Indonesia (BMI) terus berjuang memberikan kesadaran kepada kaumnya, melalui antologi tulisan-tulisan kritisnya yang ia buat sampai saat ini dan dia sekarang ini bermukim di Singapura, untuk terus berkarya bersama sahabat penanya Karin Malulana meretas jalan kebahagiaan bagi kehidupan TKI di luar negeri.Nessa Kartika, seniman yang juga aktivis Buruh Migran Indonesia (BMI) terus berjuang memberikan kesadaran kepada kaumnya, melalui antologi tulisan-tulisan kritisnya yang ia buat sampai saat ini dan dia sekarang ini bermukim di Singapura, untuk terus berkarya bersama sahabat penanya Karin Malulana meretas jalan kebahagiaan bagi kehidupan TKI di luar negeri.

Terlahir dengan nama Anissa Hanifa, 27 Mei 1983 di Kota Wonosobo, Jawa Tengah. Putri sulung dari pasangan M. Hatru, dan Siti Mariam ini, sedari kecil telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya kare…

Buruh Migran Hong Kong Terbitkan Buku Puisi

http://nasional.kompas.com/

Sebanyak lima buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hong Kong menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul 5 Kelopak Mata Buhinia.

"Buku berisi sekitar 50 puisi itu sudah diterbitkan akhir 2008 lalu dan diluncurkan di Hong Kong," kata penggerak sastra buruh migran, Bonari Nabonenar di Surabaya, Kamis.

Kelima buruh migran yang selama ini aktif menulis karya sastra itu adalah, Mega Vristian asal Malang, Tarini Sorita (Cirebon), Kristina Dian Safitri (Malang), Tanti (Ponorogo) dan Ade Punk (Malang).

"Puisi-puisi mereka bercerita tentang Hong Kong dan tema-tema umum, seperti kerinduan akan kampung halaman, cinta dan lainnya. Judul buku itu diambil dari bunga khas Hong Kong bernama Buhinia," kata Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) itu.

Pria asal Trenggalek itu mengemukakan, penerbitan kumpulan puisi ini merupakan kelanjutan dari proses kreatif para BMI di Hong Kong yang telah menghasilkan puluhan buku kumpulan cerpen, puisi …

Telah Terbit Lagi Karya Sastra di Balik Tangan Buruh Migran

Indira Margareta
http://www.kompasiana.com/indrimargareta.multiply.com

Kemarin aku membaca status teman juga pesan berantai di FB, bahwa telah terbit lagi buku karya Buruh Migran Indonesia di Hong Kong. Hebat!!!, tentu aku akan bilang seperti itu. Bagaimana tidak? Mereka yang bekerja berada di bawah naungan tuntutan sang juragan masih sempat menulis. Padahal waktu mereka adalah dua puluh empat jam sehari dalam enam hari, bahkan ada yang tujuh hari karena tidak mendapatkan hak libur. Tapi mereka menunjukan betapa mereka sangat menghargai waktu yang ada.

Mereka rela waktu tidur mereka berkurang karena hanya ingin menyelesaikan tulisan agar cepat selesai tepat waktu, meskipun tulisan mereka masih dalam tahap belajar tapi aku salut pada Buruh Migran Indonesia, kadang aku menyebut mereka Pahlawan Sastra Migran bukan lagi Buruh Migran. Wajarkan?

Di setiap hari libur aku melihat betapa para kartini bangsa itu dengan semangat membara menuju tempat-tempat meraih ilmu, mengunjungi workshop kepenuli…

Bohong

Linda Sarmili
suarakarya-online.com/29 Jan 2011

Bohong. Tak terasa sudah sebulan saya merasakan nikmatnya berpuasa sunah Senin-Kamis. Soalnya, tiba-tiba saja saya merasakan semua orang menjadi baik kepada saya. Itu saya rasakan ketika saya melunasi kredit saya di sebuah bank. Pejabat kepala bagian kredit bank itu mengatakan kredit saya telah lunas. Tetapi saya ngotot bertahan bahwa sisa kredit saya masih Rp 50 juta lagi. Jadi belum lunas. Itulah yang ingin saya lunasi.

Ternyata, meski sudah tiga kali saya mengatakan kredit saya belum lunas, pejabat kepala bagian kredit itu sama ngototnya dengan saya. Ia tetap berpendapat dan menegaskan, kredit saya telah lunas. “Jadi tak perlu lagi setoran Rp 50 juta itu,” katanya seraya memperlihatkan kepada saya print out komputer yang membuktikan bahwa kredit saya memang benar-benar telah lunas. Lalu saya meninggalkan bank itu dengan perasaan kecewa.

Bersamaan dengan itu saya juga sebenarnya sangat gembira. Betapa tidak, saya mendapat uang Rp 50 juta. …

Kabut Sepanjang Jalan ke Arah Rumah

Alexander G.B.
http://www.lampungpost.com/

Empat jam dari Bakauheni sampailah aku di Terminal Rajabasa. Sengaja tak banyak barang bawaan, hanya beberapa helai baju dalam tas ransel hitam yang terlanjur berubah abu-abu. Debu berterbangan, beberapa di antaranya hinggap ke sepatu, baju, dan paru-paru. Rencana kepulanganku tak akan lebih dari seminggu. Aku menduga pasti tak akan kerasan di rumah. Aku tidak tahu mengapa perasaan tidak nyaman semacam ini bermekaran di kepala.

Aku tertarik dengan kesibukan orang-orang di terminal, ada yang merasa asing melangkah ragu-ragu. Tampak raut cemas dan lelah begitu lekat sebagian besar pengunjung, menunggu keberangkatan untuk pulang dan pergi. Tetapi sebagian—yang menganggap terminal sebagai rumah—tampak santai, kerap matanya berubah seperti mata serigala melihat mangsa. Mereka selalu tahu siapa yang sering bepergian dan yang tidak. Ketenanganku membuat mereka tak hendak mengusik atau mengganggu. Aku bersyukur atas itu.

Ya, sementara aku selamat, aku pa…

Sastra TKI dan Ciri-cirinya

JJ. Kusni
http://wachyu.depsos.org/

Mengikuti kehidupan perpuisian di dunia maya dan media cetak tanahair, sampai sekarang nampak bahwa sanjak cinta tetap merupakan arus kuat dan gelombang besar yang menggemuruh dan berdebur. Yang saya maksudkan dengan sanjak cinta, tidak lain daripada sanjak-sanjak yang mengambil cinta sebagai tema olahan. Barangkali keadaan demikian berkaitan dengan usia relatif muda para penulis karya-karya puisi tersebut, di samping asal strata sosial mereka yang bisa dikelompokkan pada lapisan kelas menengah, lulusan “tiga pintu” [pintu keluarga, sekolah dan kantor] dan masih asing dari badai topan perjuangan mayoritas penduduk yang bersifat hidup-mati serta kalah-menang. Bersumber dari basis sosial-ekonomi demikian maka sastra-seni yang dilahirkan pun mencerminkan keadaan lapisan kelas-menengah dari mana para pendukungnya berasal. Wajah sastra-seni yang agak kelimis, wangi parfum dan salon yang asyik dengan keasyikan dunia tersendiri di mana tidak jarang soal-soal…

Nasionalisme TKW Hong Kong dalam Cerpen

Kuswinarto*
http://www.lampungpost.com/

Membicarakan nasionalisme di kalangan tenaga kerja wanita (TKW) kita di luar negeri sangat menarik. Sebab, bagi TKW (dalam asumsi saya), Indonesia yang menjadi Tanah Air mereka, tempat mereka lahir dan besar, bukanlah sebuah negeri yang bersahabat. Bagi mereka (masih dalam asumsi saya), Indonesia tak berpihak kepada rakyat kecil seperti mereka.

Betapa tidak? Indonesia memaksa sebagian besar dari mereka putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena Indonesia hanya mampu memberikan sebuah kemiskinan yang mengenaskan bagi keluarga mereka sehingga tak mampu menyekolahkan mereka. Itu masih ditambah kenyataan bahwa biaya pendidikan mahal dan itu terjadi di tengah maraknya kasus korupsi terhadap uang negara (baca: uang rakyat).

Karena orang tua miskin, para TKW terpaksa mengubur cita-citanya. Padahal bukan tidak mungkin jika terus menempuh pendidikan formal, sebagian dari mereka akan menjadi para pembaharu yang akan me…

BENGKEL SASTRA DI KOTABARU

Helwatin Najwa
www.radarbanjarmasin.com/

Berawal dari jalan-jalan ke Balai Bahasa Banjarmasin menonton pelatihan Bengkel Drama pada tahun 2007 lalu, saya mengetahui ternyata ada juga program lain yaitu Bengkel Sastra. Untuk mendapat bantuan dan perhatian yang lebih maksimal dalam membina siswa SSSI Kotabaru, saya berkirim surat kepada Balai Bahasa agar Kotabaru mendapat jatah untuk program Bengkel Sastra. Tanggapan yang saya terima positif, akan tetapi rogram yang semula akan dilaksanakan tahun 2008 itu tertunda karena adanya kendala teknis dari Balai Bahasa Banjarmasin. Sehingga baru tahun ini kegiatan Bengkel Sastra di Kotabaru berlangsung, yaitu mulai tanggal 16 s.d. 21 Maret 2009.

Kegiatan Bengkel Sastra di Kotabaru yang dibuka oleh Asisten 1 dan ditutup oleh Wakil Bupati Kotabaru ini, diikuti oleh 30 orang siswa setingkat SLTA (SMA,SMK, dan MA). Para pembimbing adalah Agus Yulianto, Ali Syamsudin Arsi, Eko Suryadi WS dan Helwatin Najwa ditambah dengan pengarahan sastrawan/seniman, S…

Sastra Ular di Mangkuk Nabi

Bernadette Lilia Nova
Seputar Indonesia, 6 Des 2009

KARYA sastra terlahir karena kreativitas yang tinggi para pengarangnya, dibutuhkan juga inspirasi untuk mampu merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang indah dan memiliki makna.

Untuk mendapatkan inspirasi dalam menghasilkan karya sastra berkualitas, penulis kawakan Indonesia, Triyanto Triwikromo menjelajahi empat benua untuk menghasilkan sebuah kumpulan cerpen bertajuk Ular di Mangkuk Nabi. Karya sastra yang dibedah di Galeri Nasional tersebut dihadiri oleh para penulis,pengamat sastra dan juga para pembaca karya sastra berkualitas. Hadir sebagai pembicara dalam bedah buku tersebut adalah Pencetus Anugrah Sastra, Richard Oh, Guru Besar Emeritus (linguistik, analisis wacana, semiotik) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia,Benny H Hoed dan penulis terkemuka Indonesia,Seno Gumira Ajidarma.

Dalam bedah Ular Di Mangkuk Nabi tersebut terungkap bahwa kumpulan cerpen tersebut dibuat setelah sang penulis melakukan perjalanan di…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]