Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Sehari di Palangkaraya

Mahmud Jauhari Ali
Tabloid Serambi Ummah 19 Juni 2009

Bus yang kutumpangi akhirnya memasuki terminal Bundaran Burung Tingang Palangkaraya. Kulihat para tukang ojek berlarian menuju arah kami. Mereka seakan sedang beramai-ramai berusaha menangkap mangsa yang.besar

“Mau ke mana Mas?” tanya salah seorang dari para tukang ojek itu dengan sopan kepadaku.

“Saya mau ke Bukit Keminting, Bang.”, jawabku ramah kepadanya.

“Ayo saya antar Mas ke sana!” ajak tukang ojek lainnya yang berdiri persis di sampingku. Seperti itu pula ajakan beberapa tukang ojek yang lainnya kepadaku.

“Teman saya sudah janji akan menjemput saya di sini.”, kataku singkat kepada mereka.

Syukurlah temanku segera datang menjemputku. Jika tidak, para tukang ojek itu mungkin terus memburuku dengan berbagai rayuan agar aku memakai jasa mereka.

“Narai habar Le?” temanku langsung menanyakan kabarku dengan bahasa Dayak Ngajunya yang khas.

“Aku bahalap ih. Ikau narai habar kea?” jawabku untuk memberitahunya bahwa aku sedang baik-baik saja. …

Potret Pemain Sepak Bola sebagai si Malin Kundang *

Sunlie Thomas Alexander **
Lampung Post 11 Juli 2010

APA artinya sebuah bangsa, juga Tanah Air? Sedalam apa pula makna darah yang mengalir dalam tubuh?

Di Provence, Agustus 1944, Said Otmari berjongkok dan meraup segenggam rumput kering. Diendusnya bau rumput itu, lalu mendekatkan ke hidung Messaoud. "Tidak seperti kampung halaman," kata dia sambil menatap rekan seperjuangannya. Tak jelas ekspresi wajah Messaoud tatkala menjawab, "Tidak. Tanah Prancis memang lebih baik."

Itulah salah satu adegan dalam Indigenes (versi Inggris: Days of Glory)-- sebuah film nominasi Oscar dan pemenang Festival Cannes arahan Rachid Bouchared yang diangkat dari kisah nyata Perang Dunia II.

Said, serdadu bertubuh pendek itu berkukuh memenuhi seruan bergabung dengan 7th Algerian Tirailleur Regiment, kendati ibunya tak mengizinkan. Sebelumnya, kakeknya juga pergi mengikuti panggilan serupa dan tak pernah kembali. Untuk menghadapi Nazi-Jerman, tercatat lebih dari 130 ribu orang direkrut Prancis…

Pembantu Bintang Lima

A Rodhi Murtadho
http://sastra-indonesia.com/

Pembantu bintang lima. Sudah menjadi cita-cita Lina untuk menjadi pembantu. Sejak keinginan itu tebersit dalam benak. Berbagai usaha pun dilakukan untuk mewujudkannya. Belajar dari berbagai macam bacaan yang ada di sekolah. Magang langsung menjadi pembantu ataupun bergabung dalam organisasi masyarakat yang kerjanya membantu orang. Semua itu dilakukan untuk mencapai pangkat tertinggi pembantu. Bintang lima. Setara dengan jendral, pikirnya. Tentu saja akan menjadi terobosan baru dalam dunia karir perempuan.

Koran, majalah, radio, televisi, dan berbagai macam media memberitakan bencana yang sedang terjadi. Catatan jumlah korban dan kerugian. Terpampang begitu jelas. Total keseluruhan yang jelas makin bertambah.

Lina mengemasi peralatan pembantu yang ia gunakan. Perlengkapan yang selalu ia bawa setiap ingin membantu. Menjadi pembantu. Darah ‘O’ yang ia punyai. Sejumlah uang yang memenuhi tasnya. Beberapa koper pakaian bertumpuk. Buku pelajaran, bu…

Puisi dan Dunia Maya

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

PADA Kamis pertama bulan Mei 2011, laman Mata Kata kembali hadir dengan menampilkan puisi karya penyair Wahyu Goemilar (Bandung, Jawa Barat), Bunyamin F. Syarifudin (Bandung) dan Hudan Nur (Palu, Sulawesi Tengah). Seharusnya tampil pada hari Selasa kemarin, hanya karena ada masalah teknis, maka baru bisa disajikan pada saat ini.

Lepas dari persoalan teknis, ketiga penyair tersebut menampilkan kemampuan yang berbeda dalam menulis puisi. Masing-masing penyair mengekspresikan pengalaman batinnya dengan sungguh-sungguh. Sehubungan itu, menulis puisi memang harus sungguh-sungguh, sekalipun dalam penulisan itu ada permainan makna, bunyi, kata, dan sebagainya.

Saya yakin, jika ketga para penyair ini mau melakukan eksplorasi lebih jauh lagi dalam soal penjelajahan daya ungkap, niscaya akan menjadi penyair yang akan diperhitungkan lebih lanjut, baik ditingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Bakat ketiga penyair ini cukup menjanjikan dalam …

Perjalanan Menuju Cahaya

Geger Riyanto
http://suaramerdeka.com/

ASPAL kelabu dihujani cahaya matahari yang begitu terik. Sebuah sedan melaju kencang. Dari dalam mobil itu aku berpikir, seandainya jalanan ini adalah dagingku mungkin sakit yang kualami pun tak akan sehebat ini. Akan kuceritakan semuanya dari awal. Mungkin hidupku akan berakhir ketika jalan tol ini berakhir. Jadi dengarkanlah ini baik-baik.

Dunia ini dipenuhi dengan zombi. Hanya, mereka amat cakap dalam menyamarkan diri. Kulit mereka tidak pucat seperti yang dikisahkan film-film televisi kepada kita. Mereka berkulit sawo matang seperti manusia biasa, tentu saja berkat sentuhan kosmetik. Tubuh mereka tidak bermandi bau amis kembang melati, bahkan ketiak mereka pun tak berbau. Tentu itu berkat sentuhan dari produk kosmetik modern lain. Tak terhitung hal yang dapat kuceritakan tentang zombi, tetapi yang ingin kuceritakan di sisa hidupku ini adalah tentang pertarunganku untuk mempertahankan kemanusiaanku dan juga menjadikan mereka manusia.

Tak seperti v…

Aku Ingin Menerkam Tetanggaku!

Dorothea Rosa Herliany
http://suaramerdeka.com/

INI bukanlah sesuatu yang disesali. Tiba-tiba saja ia merasa seperti ada macan dari dalam tubuhnya. Perutnya minta daging, mulutnya haus darah, dadanya gemuruh, berdentam, bergendam, ingin menyergap, ingin mencerkam, mendera, mencabik, mencakar...Itulah perasaannya setiap kali bertemu lelaki yang menempati beberapa langkah di seberang tempat tinggalnya. Saat ini ia tinggal di sebuah studio yang sekaligus dijadikannya rumahnya —sebuah tempat yang boleh ditinggali untuk waktu selama beberapa bulan. Perasaan itu datang tiba-tiba saja. Rasanya ingin melakukan sesuatu kepada laki-laki itu.

Padahal lelaki itu tak begitu dikenalnya. Dari riwayat hidupnya, yang ia baca di media virtual, lelaki berkulit terang itu adalah seorang wartawan dari negeri berpenduduk terbanyak di dunia. Seorang lelaki yang baik. Ia satu dari sekian korban yang selamat dari pembantaian massal pada sebuah waktu yang mengenaskan di tempat yang memilukan. Ia dipenjara dua tah…

Sebuah Dongeng Pinjaman untuk Adji Sudjana

Dinar Rahayu
http://suaramerdeka.com/

Jika nanti kami memutuskan untuk turun menjadi hujan...kami akan menggelapkan
gelas anggur, kami akan mainkan dongeng tentang keabadian...
(Asli Erdogan-Tentang Keabadian)

I

KAWAN, ini jam kesekian dari hari kesekian tanggal sekian bulan sekian tahun sekian dan terima kasih kau masih bersamaku. Aku masih berjalan dan terus berjalan kawan, di tempat ini tak banyak yang bisa dilakukan kecuali berjalan, itu pun tentu kalau kau masih punya kaki. Dan kakimu tidak terluka. Atau kena tembak. Hidup, kawan, menyisakan pertanyaan, tapi aku lupa pertanyaan itu kawan. Tapi kau masih di sini ya. Kami bermalam di udara terbuka lagi. Setelah menggali parit perlindungan dan membuat pagar dan mengatur jadwal melek maka tak banyak lagi yang matanya terbuka selain yang disuruh melek. Percayalah kawan, tidak ada indah-indahnya embun yang mengumpul di wajah dan selimut kami. Jangan kau bikin indah cerita tentang embun. Dingin kawan, dingin. Menyebalkan. Berapa malam pun ka…

Sastra dan Pergerakan

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

/1/

Saat ini adalah era globalisasi, hampir atau bahkan tidak ada batas-batas norma, Negara, maupun sosial budaya. Mereka biasa menyebutnya sebagai Negara dunia pertama atau sebagai polisi dunia yang berhak mengatur atas lalu lintas perubahan dunia. Itu adalah kelompak masyarakat penguasa, yang telah memuja-muja dan menari-nari di atas penderitaan rakyat mayoritas dengan berkedok dibalik topeng-topeng badut kapitalisme. Akibat yang terjadi adalah proses pengkondisian, pembungkaman kesadaran rakyat akan hak-hak yang harus diperolehnya sebagai manusia yang merdeka. Hal ini dapat kita lihat dan rasakan dengan munculnya berbagai media yang bisa dinikmati terhadap apa yang telah disiapkan dan disodorkannya, seolah-olah kita butuh, padahal tidak apa-pun sebenarnya tidak masalah.

Yang menjadi perhatian kita adalah, hal tersebut akan membawa dampak psikis maupun politis terhadap bagsa dan Negara dunia ketiga (Indonesia) yang notabennya sangat jauh berbeda …

Fotografi Caleg, Siapa Sudi Kena Kibul?

Seno Gumira Ajidarma
http://cetak.kompas.com/

Calon anggota legislatif telah ”memberi bukti” aktivisme mereka, yakni mengubah kota menjadi galeri terbuka, dengan isi pameran foto-foto wajah mereka sendiri. Dengan kata lain, haruslah mereka terima pula komentar terhadap ”karya seni” mereka tersebut meski jauh dari konteks yang mereka maksudkan sama sekali, sesuai dengan teori komunikasi mutakhir, bahwa bukan hanya komunikator, tetapi juga yang memandang foto itu sebagai penerima pesan merupakan produsen makna.

Kibul fotografi
Roland Barthes, yang mengatakan bahwa iklan merupakan usaha penciptaan mitologi baru, juga pernah melakukan perbincangan terhadap foto-foto para calon anggota legislatif di Perancis, yang tersebar dalam bentuk poster di berbagai tembok yang diizinkan untuk itu.

Sebetulnya Barthes melakukan analisis terhadap fotografi, yang tampaknya dipercaya memiliki daya untuk ngibul sehingga menarik diperiksa sebagai media representasi sebuah mitos. Disebutkannya bahwa fotografi mem…

Membawa Sastra Indonesia ke Panggung Dunia

Seri “Modern Library of Indonesia”
Benny Benke
http://suaramerdeka.com/

Buku Modern Library of Indonesia yang berisi seri terkini hasil karya sastra Indonesia modern akhirnya diterbitkan. Buku yang diharapkan menjadi usaha untuk meningkatkan peranan sastra Indonesia di panggung dunia itu, sebagaimana dikatakan Mira Lesmana dalam diskusi tentang “Kebangkitan Sastra Indonesia di Panggung Dunia”, bersama sejumlah pembicara lainnya diantaranya Putu Wijaya, Dewi Lestari, dan John McGlynn, diharapkan dapat mendekatkan karya sastra Indonesia dengan masyarakat Indonesia sendiri. "Bersama harapan lainnya, karya sastra Indonesia semakin dikenal di manca negara,' katanya di Jakarta, Kamis (19/5).

Mira Lesmana, yang dinilai turut mengangkat pamor sastra Indonesia melalui film Bumi Manusia, yang sedang dimatangkan proses penulisan skenarionya, dan berangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer, juga berharap penerbitan buku yang digagas yayasan Lontar dan Djarum Foundation itu, dapat merang…

POTRET GANDA NAYLA—DJENAR MAESA AYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Djenar Maesa Ayu lewat dua antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003) dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004), tak pelak lagi, telah berhasil menjejerkan namanya dalam deretan penting sastrawati Indonesia. Ia juga mengambil posisi khas yang domainnya tak banyak dimasuki sastrawan Indonesia lainnya. Kini, ia meluncurkan novel pertamanya, Nayla (Gramedia Pustaka Utama, 2005, 178 halaman).

Dalam Nayla, Djenar bagai berada dalam ruang yang membuatnya bebas bergerak. Ia leluasa mengumbar kemampuan teknik berceritanya. Ia bebas memanfaatkan tokoh-tokohnya untuk kepentingan dan tujuan apapun, termasuk untuk menumpahkan pesan ideologisnya tentang jender. Bahkan, posisi kepengarangannya sendiri merasa perlu dilegitimasi lewat tokoh rekaannya. Nayla ibarat sebuah pentas teater yang sutradaranya bisa seenaknya keluar-masuk dalam setiap babak atau adegan yang sedang berlangsung.

Begitulah, ketika pengarang merasa perlu menyampaikan pe…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]