Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

KORUPSI, MUSUH BESAR REVOLUSI

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Ini kata-kata terkepal padat kan menumpas kejahiliaan, memotong lengan busuk, membakar sampah bertumpuk demi damai perjuangan. Musik yang didengungkan bangsa berkeniscayaan memberkah kemenjadian -sentausa.

Di sini tiada impian, itu hanya pemilik bersuka angan kemalasan, lalu uang licik melicinkan hasutan. Selera manipulasi pengetahuan di atas kepicikan. Mereka mengorbitkan kacungnya berpropaganda pembodohan dan sebagian kita riang mengikuti tariannya, padahal selepas itu ribuan siksa mendera.

Plakat kemayu menghisap seluruh daya di televisi, di jalan-jalan menyayati pepohonan dipakunya gambar kaum koruptor. Betapa mudah kita memberi hak suara yang belum jelas pejuangannya, rupa pemanis buatan dipastikan mencipta kepedihan lama.

Tarian itu kampanye menyenangkan sesaat, kemudian kekayaan negeri dikeruknya habis tuntas. Yang terpampang menyediakan kabar seimbang, padahal segenap kasus tiada diselesaikannya becut.

Atas matangnya perhitungan, para j…

CAHAYA DI UFUK KEJUANGAN

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Sebelum mengakhiri buku pengembaraan panjangnya di Bali, K’tut Tantri dalam “Revolt in Paradise” (Revolusi di Nusa Damai) menulis sebagai berikut : “Di atas kota, bintang-bintang memancarkan cahayanya yang gemerlapan, dan aku teringat akan sebuah kisah di masa bocah, yang mengatakan : Mereka yang ingin memperoleh ketenangan, haruslah berani meninggalkan kesenangan dan harta dunia, dan pergi berkelana mencari tempat bintang suci. Kalau pencarian itu berakhir, maka bintang suci itu akan muncul dengan sendirinya di atas kepala. Tetapi yang dapat melihatnya hanyalah mereka yang telah banyak merelakan pengorbanan. Aku telah mengunjungi berbagai negeri untuk mencari bintang suci itu, tetapi tak pernah menemukannya. Bintang-bintang di atas kota New York bersinar dengan sejuk dan tenang. Adakah diantaranya terdapat bintang suci itu? Dan apakah dia akan muncul dengan sendirinya di hadapan mataku? Aku menyelidikinya dengan penuh harapan..”

2.
Ca…

Misteri Abad Pertengahan Mediterania

Nurhadi BW *
Kompas, 3 April 2011
Judul: Foucault’s Pendulum
Pengarang: Umberto Eco
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang
Tahun : I, November 2010
Tebal : xi + 691 halaman
ISBN : 978-602-8811-02-6

UMBERTO Eco bukannya tidak memiliki skenario dengan novel ini. Melalui tiga tokoh utama, dia mengisahkan rentang sejarah abad pertengahan dengan sentral Laut Tengah, khususnya terkait dengan kelompok-kelompok yang berperan dalam pergolakan sejarah.

Foucault’s Pendulum (Italia: Il Pendolo di Foucault) terbit pertama kali tahun 1988. Nama Foucault mengingatkan kepada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Padahal, Foucault pada judul novel ini adalah nama penemu pendulum, yaitu Leon Foucault.

Nama Umberto Eco sendiri di Indonesia tidak kalah populer dibandingkan dengan Michel Foucault. Selain ahli bidang semiotik, sejarah abad pertengahan, dan kajian budaya kontemporer, Eco juga seorang novelis. Pria kelahiran Italia tahun 1932 ini telah menulis enam novel. Dua di antaranya telah diterje…

Kesederhanaan Saut Poltak Tambunan Yang Menyimpan Luka Bahagia

Judul Buku : Sengkarut Meja Makan
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Penerbit : Selasar Pena Talenta – Jakarta Timur
Cetakan : I, Maret 2011
Harga : Rp. 44.000, 00
ISBN : 978-602-97300-1-2
Peresensi : Lina Kelana
http://sastra-indonesia.com/

Apa yang kita tangkap dari suatu kesederhanaan bukan hal yang sekedar “cukup” untuk dimaknai dengan sederhana terhadap sesuatu yang lumrah/lazim. Tetapi ternyata lebih dari sekedar batasan biasa dan tak biasa. Dari sinilah kita (bisa) “ter”mahfumi untuk memaknai sebuah kesederhanaan dengan sempurna.

Dalam “cerita” klise kepenulisan_sastra; gaya bahasa, metafora, diksi, dansebagainya mungkin menjadi hal yang patut mendapat “perhatian” yang lebih cermat dan seksama dalam penyampaian sebuah karya. Perkara nanti di”lontar”kan dalam “logat” yang “santun” maupun sebaliknya, “kasar”, itu menjadi hal yang dipertimbangkan selanjutnya. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah “sampai tidak”nya pesan-pesan yang hendak dibagi kepada oranglain_pembaca. Bagaimana pembaca…

Cermin yang Membuat Kita Meringis

Dewi Anggraeni
http://majalah.tempointeraktif.com/
The Politics of Indonesia, second edition
Penulis/penyunting: Damien Kingsbury
Penerbit : Oxford University Press, 2002
Tebal : Paperback, 330 halaman

Betapapun carut-marutnya wajah Indonesia belakangan ini, toh kita berupaya agar tampak menyenangkan. Kita butuh cermin, dan itulah yang kita dapat ketika membaca The Politics of Indonesia, tulisan Damien Kingsbury, seorang akademisi senior dari Universitas Deakin di Melbourne yang telah meneliti situasi politik di Indonesia lebih dari sepuluh tahun.

Memang, sudah ada sejumlah buku tentang Indonesia yang ditulis pakar luar negeri. A History of Modern Indonesia since c. 1200, oleh sejarawan kawakan Merle Ricklefs, misalnya, walau jujur dan penuh data, tidak membuat kita merasa sama sekali ditelanjangi. Mungkin karena Ricklefs mulai penuturan sejarahnya dari era jauh sebelum terbentuknya negara kesatuan Indonesia, sehingga carut-marut di wajah Indonesia tidak begitu menonjol di samping wajah sera…

Mengungkap Kajian Budaya Multidisipliner

Judul Buku : Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya
Penulis : Prof.Dr. Nyoman Kutha Ratna, SU.
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : Oktober 2010
Tebal : xv+539 halaman
Peresensi : Iksan Basoeky*)
http://sastra-indonesia.com/

Sebagai khazanah keilmuan, kajian budaya merupakan sebuah studi yang bersifat multisipliner serta telah memiliki kedudukan yang sah, baik secara formal mupun informal, baik secara teoritis, mupun praktis.

Kedudukan secara formal tercatata sebagai salah satu bidang studi di Departemen Pendidikan Tinggi (DPT) sekaligus memperoleh pengakuan dari masyarakat secara umum. Sedangkan secara teoritis kajian budaya telah mampu mengungkap berbagai aspek kebudayaan, khususnya dalam karya tulis dalam bentuk karangan (tesis) dan disertasi yang telah dirasakan manfaatnya oleh sekian banyak orang.

Walaupun demikin, terkadang masih ada permasalahan yang muncul terutama bagi seorang peneliti yang kesulitan dalam nenentukan batas-batas wilayah kajian buday…

BUKAN SEKADAR FILM PERANG

Ibnu Rusydi
http://www.korantempo.com/

Meski berangkat dari kisah nonfiksi, jalinan cerita Merah Putih difiksikan.

Sudah lama kita tak melihat film nasional bertema perang ditayangkan di bioskop domestik. Tapi, sebentar lagi, mulai 13 Agustus, layar lebar bakal dihias kisah pejuang-pejuang Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Merah Putih judul film itu.

Film ini berfokus pada lima kadet yang mengikuti latihan kemiliteran di Jawa Tengah. Latar belakang kelimanya beragam suku dan agama. Suatu saat, tentara Belanda menyerang pusat latihan itu. Semua dibunuh, kecuali kelimanya yang berhasil meloloskan diri. Mereka lalu bergabung dengan gerilyawan yang dipimpin Jenderal Soedirman.

Skenario film ini berangkat dari cerita Margono Djojohadikusumo, ketua Dewan Pertimbangan Agung pertama republik ini. Dia pernah melanjutkan perjuangan Partai Nasionalis Indonesia, saat tokoh-tokoh partai itu ditangkap dan dibuang. Margono juga merupakan kakek pengusaha Hasjim Djojohadikusumo, produser eksekutif Merah…

Dibalik Kesederhanaan Surti

Benny Benke
http://suaramerdeka.com/

Setelah bermain sebagai Hamengkubuwono VII dalam film Sang Pencerah arahan Hanung Bramantyo, Sitok Srengenge kembali ke dunia asalnya dengan menyutradari lakon teater berjudul Surti dan Tiga Sawunggaling. “Surti…,” sebagaimana dikatakan Sitok di sesela latihannya di Jakarta kemarin, berangkat dari naskah yang ditulis prosais dan budayawan Goenawan Mohammad (GM) dari naskah berjudul sama yang ditulisnya pada 2008.

Naskah Surti dan Tiga Sawunggaling bernarasi tentang tokoh Surti, seorang janda pejuang, yang mendiang suaminya gugur sebagai komandan gerilya ketika bertempur melawan tentara pendudukan Belanda. Semasa agresi militer Belanda I pada tahun 1947 dengan latar pesisir kota Batang, ketika Belanda berhasil melakukan pendudukan di Karasidenan Pekalongan.

Untuk mengisi kekosongan hari dan hatinya sepeninggal gugurnya suami tercinta, Surti memadatkan hari dengan kegiatan membatik. Dan motif batik Surti tidak lain dan tidak bukan bermotif burung Sawungg…

Imajinasi yang Terus Bertanya

Asvi Warman Adam*
Kompas, 22 Des 2007

Dalam pengantar buku Mochtar Lubis, Maut dan Cinta, disebutkan “sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah”.

Benar bahwa sastra bukan tulisan sejarah. Namun, kurang tepat bila dikatakan sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah.

NOVEL Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis itu sendiri bisa jadi rujukan untuk memahami gejolak revolusi pascakemerdekaan. Karya sastra itu secara hidup menggambarkan aksi beberapa kelompok pejuang menembus blokade Belanda dalam rangka menukar komoditas di Sumatera dengan senjata dari Semenanjung Melayu dan Thailand untuk digunakan pasukan republiken.

Figur seorang tokoh dalam novel tersebut mengingatkan kepada Mayor John Lie yang secara historis cukup dikenal reputasinya. Melalui sastra kita juga dapat mengetahui sejarah negara lain.

Bur Rasuanto yang sempat beberapa bulan, tahun 1967, melakukan tugas jurnalistik di Saigon menulis novel Tuyet yang berkisah tentang kondisi di Viet…

Dari Hans Bague Jassin sampai Norman Camaru

Orang Gorontalo, Gokil Abis? (judul aslinya)
Syam Sdp
http://www.kompasiana.com/syamsdp

Sebuah pesan pendek bertandang ke ponsel saya. Pengirimnya adalah salah seorang sesepuh orang Gorontalo yang tinggal di Jakarta. Om Henk Uno namanya. Beliau ikut terkesima, namun juga keheranan dengan fenomena beberapa orang Gorontalo yang belakangan mendadak terkenal karena aksi mereka.

“Bung Syam, sangat mengherankan bahwa yang bikin nama Gorontalo menasional adalah isu yang dimengerti rakyat jelata ialah action briptu polisi dengan youtube lagu India, mantan narapidana dengan lagu Gayus Tambunan..” begitu tulis OH, inisial Om Henk.

Beliau mengaku terhibur dengan fenomena ini. Meski menurutnya , hal ini tidak seperti cara menjadi terkenal, sebagaimana yang diupayakan oleh HB. Jassin, BJ Habibie, Jus Badudu, John Aryo Katili. mereka membawa nama Gorontalo di arena nasional, dengan jalan lain, lewat kecendekiaan dan karya-karya mereka.

Hans Bague Jassin misalnya,siapa tak kenal Paus Sastra Indonesia ini.…

Norman Edwin Dulu dan Kini, Catatan Sahabat Sang Alam

M. Latief
http://oase.kompas.com/

Saat banyak orang di Tanah Air, baik secara sendiri-sendiri maupun atas nama kelompok tertentu, berkoar-koar mengumandangkan rencana pendakiannya ke Tujuh Puncak Tertinggi Dunia atau The Seven Summit, rasanya ada yang “hilang”, bahkan hambar lantaran tidak menyebut sama sekali nama Norman Edwin. Pasalnya, memang, kali pertama ide ini muncul di Indonesia datang dari dia, tepat di tengah ingar-bingarnya gairah pendakian gunung salju di kalangan pencinta atau klub pendaki gunung di seluruh penjuru Tanah Air.

Membaca buku ini, lembaran-lembaran ingatan tentang ujung pangkal perintisan ide “Tujuh Puncak Dunia” itu serasa kembali melintas, yaitu ingatan tentang Norman dan proyek pendakian Tujuh Puncak Dunia-nya ini. Dari buku setebal 423 halaman inilah, Rudi Badil, sang editor, meletakkan porsi “Tujuh Puncak Benua” sebagai awal pembuka ingatan kita akan sosok Norman dan proyek prestisius tersebut.

Tanpa maksud jumawa, mungkin saja, Badil di buku ini mau menegas…

Opera Jaran Goyang

Naskah berasal dari sandiwara rakyat cirebon “Putra Sangkala”
Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Sinopsis :
Sebuah kisah tentang dua anak manusia yang dibedakan oleh status ekonomi. Baridin putra dari Mbok Wangsih dilahirkan di keluarga yang miskin. Ratminah putri dari Bapak Dam terlahir di keluarga kaya. Pertemuan Baridin dan Suratminah menumbuhkan benih-benih cinta di hati baridin. Tapi sayang cinta bertepuk sebelah tangan, suratminah menolak cinta dan lamaran baridin. Bahkan Mbok Wangsih yang mengantarkan lamaran baridin dihina dan dicaci maki oleh Suratminah dan bapak Dam.
Disinilah timbul dendam Baridin kepada suratminah atas kesombongan dan perilakunya kepada Ibunya, Mbok Wangsih.
Atas bantuan Gemblung dengan cara memberikan sebuah mantra kuno bernama “Ajian Jaran Goyang”, Baridin mengamalkan mantra tersebut demi balas dendamnya kepada suratminah.
Sampai akhirnya Suratminah terkena rapalan mantra itu, bukan berbalik cinta kepada baridin, tapi suratminah menjadi gila oleh mantra itu …

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]