Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Membangun Jiwa Kebangsaan

Amich Alhumami
Media Indonesia, 14 Maret 2011

DALAM kajian ilmu-ilmu sosial, tema civic education (pendidikan kewarganegaraan) merupakan isu penting yang mendapat perhatian serius. Civic education dipandang penting karena terkait dengan tiga hal: (1) upaya menumbuhkan kesadaran kebangsaan, (2) upaya memperdalam pemahaman makna kehidupan bernegara, dan (3) upaya membangkitkan kesadaran kolektif atas realitas masyarakat plural. Maka, mendiskusikan tema civic education menjadi sangat relevan dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat majemuk: agama, etnis, ras, budaya, dan adat istiadat. Civic education dapat membuka perspektif baru untuk mengurai kuatnya pertalian etnisitas, menembus sekat-sekat agama, dan membangun jiwa kebangsaan.

Para ahli ilmu-ilmu sosial meyakini bahwa civic education adalah sesuatu yang sangat fundamental dalam upaya pembentukan watak bangsa. Melalui civic education, proses penanaman nilai dapat dilakukan sehingga setiap warga masyarakat memiliki komitmen yang ku…

Formalisme dan Simbolisme

Theresia Purbandini
Jurnal Nasional, 31 Agus 2008

BEN Sohib, penulis buku The Da Peci Code, mengatakan prosa Islami karya Hamka dan AA Navis mengandung nilai-nilai luhur, moral, etika yang baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Namun sebuah prosa bernapaskan Islam tak melulu hanya berisikan ajaran agama Islam secara simbolik. Selama mengandung nilai-nilai yang sepaham dengan ajaran Islam, maka sebuah prosa dapat saja dikatakan prosa islami.

Menurut Ben, Robohnya Surau Kami karya AA Navis mengandung nilai kemanusiaan yang kuat. Meperlihatkan hubungan antara sesama yang bersifat universal. Di dalam cerita, integritas seseorang yang akhirnya memutuskan bunuh diri dipersoalkan; ketika seorang alim yang taat beribadah bunuh diri, karena lalai dalam kehidupan duniawinya. Melalui prosa ini, kompleksitas moral disampaikan melalui metafora.

Ahmadun Yosi Herfanda, seorang sastrawan dan redaktur di sebuah koran nasional mengatakan, prosa islami lebih bersifat substansial, tidak banyak menceritakan a…

Membaca Kebudayaan Antara dari Garasi

Th Pudjo Widijanto
Kompas, 13 Maret 2011

PEMENTASAN lakon ”Tubuh Ketiga” oleh Teater Garasi di Taman Budaya Yogyakarta, Jumat-Sabtu (11-12/3) seperti mengokohkan grup teater ini, yang memilih lanskap eksperimental (cutting edge). Menggunakan ”setting” kehidupan musik tarling khas Indramayu, teater ini mencoba mengeksplorasi sesungguhnya bagaimana bangun kebudayaan umat manusia.

Bahwa sinkritisme tidak bisa ditolak dalam perjalanan peradaban umat manusia. Tak ada kebenaran tunggal dalam aspek apa pun, baik dalam individu maupun kelompok.

Dominasi musik tarling mewarnai pentas ini. Boleh dikata penampilan Teater Garasi kali ini menyuguhkan hiburan yang segar. Namun di balik itu, sebagaimana kekhasan teater garasi, kita diajak untuk bergumul tentang makna, khususnya menyangkut hakikat kebudayaan, termasuk budaya kekerasan yang terkadang menghakimi terhadap budaya lain.

Tak ada kisah linier yang melibatkan tokoh-tokoh sentral, semua pendukung lakon berperan penting. Lakon ini lebih merupakan p…

Muhammad Salim: Rujukan Aksara “Lontarak”

Maria Serenada Sinurat
Kompas, 15 Maret 2011

MUHAMMAD Salim adalah bukti hidup bahwa penghargaan datang bukan karena gelar dan jabatan, tetapi karena karya berkelanjutan. Hampir sepanjang hidup ia menekuni ”lontarak”, naskah kuno beraksara Bugis-Makassar. Dia menghidupkan dan memaknainya kendati ini kerja sunyi tanpa banyak imbalan.

Kami bertemu di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, tempat Salim ”bekerja” yang tak memberinya honor empat tahun terakhir. Dengan semua itu, ia bersetia mengawal pendokumentasian lontarak dari seluruh penjuru Sulsel.

Lontarak adalah kehidupan Salim. Aktivitas menyalin lontarak ke huruf Latin (transliterasi) lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (translasi) ibarat menu hariannya. Dalam sehari ia menghabiskan dua hingga tiga jam untuk menyalin lontarak, termasuk Lontarak Enrekang, proyek yang baru dia mulai.

Meski demikian, yang membuat nama Salim diperhitungkan hingga mancanegara tentulah Sureq Galigo. Dia terpilih dalam Proyek Transliterasi dan Terje…

MEMBACA DUNIA NUREL *

Marhalim Zaini **
http://sastra-indonesia.com/

“Ada logika-logika aneh dan asing, ada sentakan pemberontakan yang ajaib, ada teriakan-teriakan keras dan dalam, ada hasrat untuk membangun dunia sendiri. Ada lompatan-lompatan makna dalam bahasa yang berguling-guling, ada jerit dari jerih kata yang diperas berulang-ulang, ada laut yang saling berbalik arah debur ombaknya.”

Demikian komentar saya via sms, beberapa waktu lalu saat menerima dan membaca sejumlah buku (berukuran) mungil yang dikirim oleh Nurel Javissyarqi. Buku-buku yang hemat saya lahir dari kegelisahan spiritualitas khas para pejalan sunyi, yang bergumam, berbisik atau terkadang menjerit dalam lengking panjang tak berujung. Ada dalam bentuk surat-surat, aforisma, syair, puisi, kisah, dan sejumlah bentuk yang tampaknya sedang membangun frasa nafasnya dalam lorong hidupnya sendiri. Dan saya kira, komentar saya di atas, juga kelak berlaku dalam pembacaan saya terhadap sebentuk buku lain yang juga ditulis oleh Nurel, berjudul Kaji…

Dongeng Hujan

Dwicipta
http://suaramerdeka.com/

PADA mulanya hujan. Lalu lelaki tua itu akan mengeluarkan sebuah kursi kayu dari dalam rumah dan ditaruh di beranda. Ia menjatuhkan pantat kering di permukaan kursi, dan memanggil cucu kesayangan yang telah ditinggalkan kedua orang tua sejak kecil. Anak lelaki berusia tiga belas tahun itu akan mengerti arti panggilan kakek. Ia datang dengan membawa secangkir kopi dan rokok yang digulung dengan daun jagung. Selanjutnya, lelaki tua itu akan memandangi tetes-tetes air hujan dengan seksama, terus menerus, sampai berhenti. Sambil memandang derai-derai hujan, ia mengisahkan pada cucunya banyak hal, mulai dari pendirian pabrik gula yang ada di dekat kampung sampai dengan kehidupan para kuli harian dan tangan para kuli klethek1 yang selalu kelihatan mengerikan. Tentu saja sembari pandangan mata memamah buliran-buliran air hujan di luar, dan melayangkan angan-angannya jauh ke masa lampau tempat ia merasakan kemurnian hidup lebih dari yang dirasakan sekarang.

Ia a…

KADO PENGHAMPIRAN SASTRA YANG “MEMBUMI”*

Suryanto Sastroatmodjo
http://pustakapujangga.com/?p=638

Lebih kurang 15 warsa silam, Pamusuk Erneste (dalam buku “pengadilan puisi” penerbit Gunung Agung Jakarta, 1986), menggambarkan bagaimana jauhnya bila jagad sastra (inklusif kepenyairan didominasi sejumlah nama, yang ingin bertahan sebagai idola, dan bukan sebagai creator), hingga publik sastra kecewa. Ia menyebut tentang Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad dan WS. Rendra di tahun-tahun 70-an (setelah menikmati kemasyhuran hampir 25 tahun lebih, sementara kader-kadernya makin meredup masa itu), sehingga timbul sekelompok penyair muda yang merasa harus bertindak untuk mengembalikan dunia sastra di sudut penglihatan netral dan imbang, selaras dengan rising demans (tuntutan semakin meningkat).

Pendekar sastra HB Jassin menyebut; kredo sastra ialah suatu keteladanan moral, suatu empati individual yang lembut, jangan dipolitisir oleh elemen-elemen imperatif. Saya mengistilahkan camera obscure puitika apabila ingin meletakkan kaca ma…

Perpuisian Yogyakarta di Era Transisi

Abdul Wachid B.S.
http://www.mathorisliterature.blogspot.com/

1. Pengantar : Persada Studi Klub, Era Transisi, Perpuisian Yogya 1980-an

Pengertian “di era transisi” sangatlah sosiologis, yakni masa peralihan, pancaroba. Namun, peralihan dari apa ke apa, dan dalam konteks apa? Dalam konteks kebudayaan pengertian “transisi” sangatlah kompleks. Dalam konteks politik, boleh jadi, hal itu dikaitkan dengan pergantian rejim dari Soeharto ke B.J. Habibie, dan berakhir dengan Pemilu yang di sepanjang sejarah Indonesia paling demokratis yaitu dengan terpilihnya K.H. Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI ke-4.

“Transisi” dalam konteks kesusastraan dapat dibaca sebagai berikut:

(1) Suatu masa di mana sastra “terus mencoba budaya tanding”, [1] baik melalui pengungkapan yang paling keras yaitu berposisi berhadapan langsung dengan negara, maupun menjelmakan “budaya tanding” itu melalui estetisme, dan semua ini berlangsung sebelum Reformasi Mei 1998. Yang pertama, berakhir dengan pembredelan dan pencekala…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]