Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Kroni Hitler

Peresensi: Muhammad Amin
http://www.riaupos.com/
Penulis: Fernando R Srivanto
Penerbit: Narasi, Jogjakarta
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 175 halaman

Mendengar nama Hitler tentu akan menimbulkan kesan tersendiri, kengerian. Ia adalah sosok penjagal kelas wahid selama perang dunia II. Tentu saja, selama melakukan aksi sadisnya secara massal, tidaklah kedua tangannya saja yang bekerja. Hitler memiliki organisasi dan perangkat yang membantunya dalam setiap langkahnya.

Dalam setiap kebijakannya, partai Nazi adalah salah satu kekuatan terbesar Hitler selain pasukan khususnya SS. Nazilah yang menjadi nyawa gerakan Hitler dan anak buahnya. Banyak sekali anggapan bahwa Nazi dikendalikan Hitler sepenuhnya dan anak buahnya mengikuti saja tanpa reserve. Kepemimpinan yang kuat dari Hitler menjadikannya seolah raja di raja yang tak terbantahkan dalam Partai Nazi.

Namun benarkah demikian? Faktanya ternyata tidak. Kejatuhan Hitler dan kekalahannya di banyak front perang dunia II tak lain karena adanya unsur …

EMPUKU, PEREMPUANKU

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Dituliskan untuk Soviana D. Saputri Atmaja dan Almarhum Eka Kartikakunang Atmaja (Eka Kartikawanti, 28 April 1985 – 27 Mei 2006)

Pengantar

Persembahan di atas, mungkin terkesan membenjol dalam kejanggalan yang tidak logis. Saya secara pribadi menyarankan untuk tidak perlu dihiraukan. Akantetapi, kalau saya boleh menyarankan kembali, sebelum membaca tulisan ini sampai tuntas, saya mengajak hadirin pembaca untuk sejenak melepaskan ego sebagai lelaki dan (atau) ego sebagai pribadi perempuan. Dalam khasanah ini, hendaknya kita berdiri sebagai manusia yang telah melepaskan kepentingan gender dan bersama-sama mengenang perempuan yang kita kasih dan cintai. Bolehlah, mereka adalah sosok kekasih, kawan dekat (yang biasa maupun tidak biasa), adik atau kakak perempuan, bahkan (lebih disarankan) mengenang seorang ibu.

Membaca Kitab Para Malaikat

Tulisan ini, keseluruhannya akan berbicara menyoal perempuan. Dari senyuman yang manis yang biasanya membuat kita (le…

PIJAR KATA NUREL DI TENGAH ALUN ZAMAN

KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://pustakapujangga.com/?p=641

“Cinta sangat menentukan kelanjutan proses penyebab atau proses kehidupan subyek. Sebab ketika berada di titik koordinat, kita jelas mendapati karakter diri sebenarnya atau dengan titik seimbang, cermin diri sanggup merasakan getaran kesungguhan dari sang maha Penyebab Cahaya Ilahi: Apakah kita gemetar atau semakin asyik oleh kesejukan Cahaya. Sebelum sampai ke suatu akhir bernama akibat (mati, timbangan pahala)” dikutip dari buku Kajian Budaya Semi (buku pertama Trilogi Kesadaran), bagian Kajian Sebab atas Subyek, Nurel Javissyarqi. Di situ penulis muda, merupakan intan pemikiran dan mutiara-penggagas keadilan ruh dari Lamongan, bicara tentang pemaknaan hayati.

Mungkin sepadan anggukan halus-lembut dari para pemerhati dari rana manapun di Indonesia saat ini, tatkala kita meriadukakan “Seminya Budaya” yang linuhung, setelah bertahun-tahun menjadi korban dari tikai-cidera, silang-selisih dan goda-goda membawa bangsa kita terkan…

Puisi, Arti, Diseminasi

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

Bukan Nirwan Dewanto kalau tidak sungguh-sungguh menyelam kata dan bahasa Indonesia sampai di dasar yang tak terhingga. Setelah meluncurkan buku puisi cantik bertajuk Jantung Lebah Ratu dua tahun lalu, yang nyaris tak tersentuh oleh pembaca saking “melangit” bahasa yang digunakan dalam puisi-puisinya, kini ia hadir lagi dengan buku puisi yang lebih “gawat”.

Tak hanya dari segi judul, Buli-Buli Lima Kaki, tetapi dari warna sampul, gambar gajah dengan lima kaki (termasuk belalainya berfungsi sebagai kaki), untaian kata-kata yang tak mudah dimengerti pada bagian belakang sampul yang merupakan fragmen dari beberapa sajak di dalamnya, menunjukkan kesungguhan yang luar biasa. Semacam ada beban untuk tidak cuma menghadirkan puisi, tapi puisi kitab suci.

Mungkin bukan hanya saya yang akan menyebut puisi Nirwan sebagai prosa-liris yang mengandung aneka citra, rupa, dan suara: binatang, manusia, juga tumbuh-tumbuhan. Di dalam mengandung motif cerita, kidung, mito…

Kerusuhan Mei 1998 di Mata Seno

Budi Darma
http://majalah.tempointeraktif.com/

IBLIS TIDAK PERNAH MATI
Kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Yayasan Galang, Yogyakarta, 1999

Bahwasanya Seno Gumira Ajidarma pengarang cerpen, dan rata-rata cerpennya enak dibaca, kita semua tahu. Maka, berhadapan dengan Iblis Tidak Pernah Mati, kumpulan cerpen terbaru Seno, kita bisa menduga bahwa kumpulan ini juga enak dibaca. Apalagi, tentunya, sebagian kita pernah membaca beberapa cerpen dalam kumpulan ini, karena semua cerpen sebelumnya pernah dimuat di berbagai media.

Bahwasanya Seno bisa menulis cerpen yang enak dibaca, tentu ada resepnya. Dan resep dia sederhana: cerpen dekat dengan pers, dan pers dekat dengan cerpen. Pers memuat fakta, berita, pendapat, kesaksian, kesan, dan hal-hal semacam itu, dan cerpen juga begitu.

Pada zaman frekuensi munculnya peristiwa rata-rata tinggi, sementara sekian banyak kepentingan dengan sekian banyak versi kesaksian terhadap semua peristiwa juga sangat beragam, ditambah pula dengan kenyataan b…

Sastra Singo Edan Meraung Gemontang

(Reportase, bedah “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono)
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Ada beberapa analis yang pernah mengatakan, perihal seluk-beluk kesusastraan Malang. Termasuk asumsi yang dikemukakan bahwa sastrawan Malang cenderung inklusif, tipikal, kaku dll. Asumtor itu menunjuk satu indikator yang menurut pengamatan mereka, sikap sastrawan Malang selama ini menutup diri dengan jaringan komunitas lain, egois, ber-megalomania atas kebesaran masa lalunya. Pendeknya berputar membangun kediriannya, pandangan mengenai kepribadiannya di hadapan dirinya sendiri.

Mungkin demikian kenyataannya. Sambatan serupa juga kita temukan di wilayah mana pun ketika aktivitas kesusastraan mengalami stagnan. Akan tetapi terlalu kerdil, jika sumbatan yang pada akhirnya berakibat kemampatan kesusastraan tersebut dipahami sebagai satu-satunya dikhotomi baku. Sedangkan situasi yang sebenarnya hanya kondisional, untuk merubah lebih sumringah, bukan karena pelakunya tidak mampu, melainkan ta…

Ruang Batin yang Tumbuh dari Mata

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Malam ini –setelah purwokerto diguyur hujan deras, dingin dan saya ditemani kopi serta lagu Clapton yang bertajuk Pilgrim— aku benar-benar menikmati membaca puisi Hanna Fransisca yang bertajuk “Tumbuh dari Matanya”. Bait pertama puisi itu, diawali baris-baris yang berkata begini:

Perempuan di kaca mobil,
membuka jalan
hujan memanjang
hitam.

Baris-baris itu dibangun dari latar-latar material “kaca mobil, jalan, hujan yang memanjang”. Kaca mobil sebagai latar material berasosiasi dengan latar material lainnya yaitu jalan, dimana dua material ini berpusat pada penglihatan aku lirik yaitu perempuan. Suasana yang ditimbulkan dari dua latar material ini semula terkesan biasa saja, tetapi lalu menggetarkan ketika baris terusannya berkata: “hujan memanjang/ hitam”.

Hitam adalah warna yang pekat, dan semakin bertambah pekat dengan adanya bait kedua yang ternyata mengkisahkan suasana ruang batin khas dalam posisi “sunyi dan asing” dan makin menggenaskan se…

PERANG DINGIN GAGASAN ESTETIK PUISI DAN FIKSI

S. Jai *)
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

MEMBACA kembali fiksi dan realitas sastra kita kini, tentunya merupakan suatu upaya yang tepat dan pada waktu yang tepat pula—sebelum jatuh dalam nostalgia berkepanjangan. Kita hampir saja mengalami sindrom nostalgia pada kedua hal yang jelas berkait erat itu. Bahwa walaupun pada mulanya semangatnya untuk “membaca kecenderungan estetika fiksi kita” akan tetapi sudah barang tentu bakal mencermati subtansi di balik teks sastra khususnya pandangan dunia sebagaimana kerap kali mencuat di pelbagai media.

Termasuk kemungkinan bilamana mempertanyakan “realitas sastra,” tidak mustahil bisa mengembara pada hal yang terkait dengan pandangan dunia pengarang atau komunitas sastra. Akan tetapi sebelum pergi ke sana, penting bagi kita bersepakat bahwa sesungguhnya posisi seniman, sastrawan adalah selaku intelektual atau cendekiawan yang memantik perkembangan ilmu pengetahuan dengan ide-ide gagasan barunya di bidang sastra. Terlepas apakah kemudian sastrawan d…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]