Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

PETUALANGAN TERAKHIR

Muhammad Zuriat Fadil
http://sastra-indonesia.com/

1:: Akhir yang mengawali perjalanan

Akhirnya…

Biarkan kuawali kisah ini dari akhir perjalananku, Elena

Telah kuakhiri perjalananku, untukmu. Tepat ketika kita ucapkan sumpah setia untuk bersama di kuil Aphrodhyte disaksikan patung cantiknya, namun wajahmu, pancaran cahaya seribu purnama kukatakan, tak kalah dengan sang dewi kecantikan itu sendiri.

Maka di sini Elena, kita bangun sebuah rumah mungil dipinggir hutan, jauh dari riuh kota dan kereta-kereta pedagang yang berderak terburu-buru. Di halaman kita yang tak berbatas-hanya tanah lapang berumput hijau cemerlang- kubangunkan untukmu sebuah kuil Aphrodythe, kutempa sendiri patungnya, kubangun temboknya dan kudirikan sendiri pasaknya. Aku bukan Bandung Bondowoso sayangku, dongeng negri sebrang yang kerap kukisahkan padamu tentang ksatria yang menjanjikan untuk kekasihnya seribu candi. Namun bagiku, cukuplah satu kuil cinta ini untukmu cintaku, kuil sederhana agar kau tahu betapa sederhana …

Membaca Perpuisian Malang Mutakhir

W. Haryanto
Sumber :http://cetak.kompas.com/

mendung yang menggantung,
gerimis yang malu malu, di atas kota ini
seperti wajah seorang gadis yang diam diam
terus meratapi nasibnya, yang terlanjur
menjadi namanya

(Sajak ”Malang” karya Ragil Supriyatno Samid)

Puisi adalah jejak sejarah, tapi bukan anak kandung sejarah. Puisi adalah tindak individual atau dalam pengertian penyair Muh Zuhri, tingkat kebenarannya bersifat subyektif meski bisa diuji secara ilmiah. Sekalipun bertendensi individual, ranah perpusian juga ditentukan pada organisasi makna di luar dirinya. Inilah harmoni puisi.

Lama setelah (alm) Hazim Amir, Eka Budianta, dan Wahyu Prasetya, saya merasa asing dengan sebutan puisi Malang. Bukan sebatas konteks karya, tapi juga mereka yang menyebut dirinya sebagai penyair Malang (dalam komunikasi di Jawa Timur) dan Malang hanya memiliki prosais Ratna Indraswari Ibrahim. Di akhir tahun 90-an, Nanang Suryadi dan Kuswinarto merintis komunikasi dengan atmosfer Jawa Timur lewat gerakan puisi inte…

DIAWALI DENGAN RESAPAN CINTA

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

“Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad
ruh bersaksi sederaian gerimis menghantarkan rasa atmosfer semesta
terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga [I]” (KPM, 2007: 1)

Begitu, Nurel Javissyarqi (NJ) mengawali karyanya yang berjudul Kitap Para Malaikat (KPM) dengan muqaddimah. Butiran puitik yang dibingkaikan sosok NJ melalui KPM-nya ini digerbangi shalawat atas Nabi, Muhammad SAW. Melantun, sebagai pembuka dari catatan panjang yang sungguh tidak bisa dianggap remeh. Seolah sudah mendapatkan deretan wangsit (baca juga dengan: kesaksian), NJ menembangkan shalawat untuk mengabari kita kalau Para Malaikat yang ditemui tidak hanya mentasbihkan keagungan Allah Ta’ala, melainkan juga berderet dalam rangka merajut doa untuk pengagungan Nabi SAW.

Membaca Kitab Para Malaikat

Mencermati sebait di awal ini, saya pun kemudian undur diri untuk mengheningkan diri sejenak. Menyusupi dan ikut bershalawat dalam hening sambil menimbang bobot kata pemb…

10 Nopember dan Kekuatan Lokalitas

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

1. Sinopsis 10 November

Kesan yang hilang dari peringatan 10 Nopember ialah tidak dijadikannya pemikiran utama bahwa pertempuran sekitar tanggal 10 Nopember 1945 murni didukung kekuatan santri dari ponpes seJawa Timur. Kesan yang justru menebal seolah bahwa pertempuran yang melahirkan hari pahlawan itu murni perjuangan Arek Surobayo (kota).

Selang 2 bulan setelah proklamasi, pasukan Inggris datang dengan pasukan Ghurka-nya berjumlah 6000 orang pada 25 Oktober 1945 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Malaby, dengan tujuan merebut kembali daerah jajahan Jepang di kawasan Asia. Bersamaan pada itu, pemimpin Indonesia pusat (Jakarta) sedang memberlakukan genjatan senjata dengan pihak Sekutu.

Ketidakjelasan pemimpin pusat (Sukarno) pascagenjatan senjata, sedang di sisi lain pasukan Sekutu sudah bersandar di pelabuhan Tanjung Perak, membuat mosi bagi seluruh pejuang Jawa Timur.

Keadaan demkian kemudian direspon KH. Hasyim…

Religiusitas yang tak verbal pada Telepon Berdering Dini Hari

:Sebuah Sajak Bambang Kempling
Zawawi Se
http://sastra-indonesia.com/

Beberapa waktu lalu masih di tahun 2009 ini saya masih teringat ketika memposting sebuah puisi-puisi-an saya ke milist apresiasi sastra. Ketika itu puisi-puisi-an tersebut mendapat respon dari Hudan Hidayat yang menyatakan bahwa puisi-puisi-an yang saya buat tersebut masih terlalu verbal.

Tapi bagaimana lagi, sebagai seorang awam puisi memang sering terjebak pada keverbalan gaya ungkap. Menyatakan A untuk sebuah maksud yang A pula. Menulis B untuk bermaksud menyatakan B pula.

Dalam sajak karya Bambang Kempling berjudul Telepon Berdering Dini Hari yang tergabung dalam Antologi Bersama Lidi Segala Kata seperti mengungkap religiusitas yang tak verbal. Jadi religiusitas itu tidak harus mengungkap kata-kata seperti shalat, zakat, puasa, dan lain-lain

Dalam konsep Islam sepertiga malam akhir atau dini hari sampai menjelang fajar adalah waktu kesunyian dari hiruk pikuk kesibukan dunia. Pada saat itulah turun Tuhan dan para malai…

Sajak-Sajak Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Orba Formalin

kerna kita dibodohin dan miskin
kita senang makanan berformalin
begitulah nasibnya rakyat melarat
makan nasi kucing dan minum air hujan
siapa peduli punya nyali turun ke jalan?

Amsterdam, 25/11/2010



Mata Air

mengulang cerita
sayangku kutuklah cinta

setiap pagi kereta penuh sesak penumpang
berdesakan orang mencari kebahagiaan
setiap stasiun harapan ditinggalkan
dan jangan terlalu banyak bermimpi sayang

mendulang syair
sajaknya mata air

Amsterdam, 24/11/2010



Muara Cintamu

berkaca pada masa lalu
kenanganmu disimpan dimana?

namanya juga sepotong cerita tanpa koma
katanya, mengalir dari segunung harapan ke muara cinta

jangan percaya pada rayuan seribu satu janji
lupa tersihir senyum berbisa sayang

pada suatu pagi di bukit api
mendung menantang hujan membuka diri
rindumu sepi di sajak embun pagi

Amsterdam, 23/11/2010



Sajak buat kawan
: Asep Sambodja

di kaki gunung merapi
dingin malam di awal musim hujan ini
kawan, kenangan itu memanggilnya

rembulan mempesona batinnya
terbacalah seba…

Sajak Pranita Dewi

http://www.infoanda.com/Republika 6 Juli 2008
SUATU HARI DI SUATU SENJA
: bagi Jengki

Suatu hari
di suatu senja
kau tahu di mana bayang kita
akan tiba

Gagak-gagak melengking pilu
seperti ingin mencari
rumah untuk pulang
istirahat dan tenggelam
pada diri yang asing

Aku asing pada hidupku sendiri
tak ada lagi bintang
yang kita lihat dulu
dan berharap cahaya
yang tak tertutup itu
adalah nujuman bagi kita

Segelas tuak
kita teguk
untuk hidup yang sia-sia

Kemana mimpi pergi
di mana bayang ibu
yang dulu kau sebut itu

Seteguk tuak
seperti membawamu kembali
bagai bocah
menatap bintang
dari balik cahaya kelereng biru
lalu kau tahu
bahwa bintang
sebenarnya tak punya cahaya
kecuali biru
dalam mata bocahmu

Suatu hari
di suatu senja
kau akan mengajakku pergi
membangun mimpi-mimpi
jadi puisi
yang kita gali bersama

Sejauh ombak yang datang
mata nelayan yang nyisakan kegundahan
kemalangan
ia tahu akan tiba

Kau tahu
bintang-bintang itu
tak lagi punya cahaya
selain abu di langit
yang tampak ragu
tenggelamkan senja
yang kita kejar
dari Denpasar
hingga ke …

1975 [Sajak Robin Dos Santos Soares]

Robin Dos Santos Soares
http://www.kompasiana.com/robin

Aku merasa kesepian, kehilangan nalar, suara hati.
Tersesat di hutan-hutan hijau.
Pagi itu 7 Desember 1975, aku berlari melawan arus manusia dan binatang.
Bersembunyi di batu-batu tajam melihat kupu-kupu hitam terbang dengan bom.
Sejarah sedang bergerak dengan genosida.
Ibuku korbankan nyawanya untuk aku:
berlari dan berteriak sampai di ujung dunia.

Kamu sudah menyaksikan kematian ibumu, adik-adikmu,
saudaramu tidak tahu apa arti perang, politik dan ideologi.
Hari ini aku mendekati aroma kematian ibuku,
aku masih dalam kesunyian dengan jiwaku, jantungku yang mulai membeku.

Aku ingin berlari lagi melewati hutan-hutan hijau, bersembunyi dibalik batu-batu tajam. Mencoba mengingatkan mayat-mayat tak terhitung, berdiri di tepi gunung Matebian dengan protes terhadapa perang, pemerkosaan, pembunuhan massal.

Kini tenagaku hanya bergerak dari gubukku mengatur nafas, membuang ludah. Tanganku tidak bisa bergerak dengan pena. Hatiku tidak buta dengan seja…

Obor Revolusi Sastra Komunis

Fahrudin Nasrulloh*
http://sastra-indonesia.com/

Jejak dari Pojok Kampung

Ada persepsi miring dan kelam hingga kini ihwal gerakan Partai Komunis Indonesia. Pertarungan politik dan ideologi dari masa ke masa memiliki momentum masing-masing. Penistaan dan pengasingan eks PKI, atau yang berada di selingkungannya, baik keluarga maupun sanak saudara, tidak mendapatkan tempat di negeri ini. Peristiwa Gestapu 1965 seolah menggebyah semua itu, dan kesejarahan komunisme di Indonesia kian memerah.

Satu-satunya saksi di mana kita bisa belajar bersama adalah dengan apa semua itu terkabarkan dan tertuliskan. Yang terceritakan barangkali sudah jarang kita temukan, lebih-lebih bagi generasi muda sekarang. Saya termasuk generasi yang lahir pada 1970-an yang di masa kecil saya benar-benar dihantui akan cerita-cerita “lubang buaya”. Terutama saat menonton film G 30S/PKI besutan Arifin C Noer itu. Umpatan giris “Darah itu merah, jendral!”, kala sosok perempuan di film itu mengayunkan silet di tangannya lant…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]