Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Komunitas Sastra Kampus dan Mereka yang Melawan

Anton Kurnia
http://www.sinarharapan.co.id/

Perkembangan sastra kita tidak bisa dilepaskan dari peran berbagai komunitas sastra dan kantung-kantung budaya yang bertebaran di berbagai kota, terutama yang berbasis di kampus-kampus perguruan tinggi. Sebagian dari para pegiat komunitas sastra kampus ini muncul dan menonjol menjadi sosok yang diperhitungkan dalam sejarah sastra kita dengan karya-karyanya, melepaskan diri dari kolektivitas komunitasnya. Sebagian yang lain terserap oleh kerumunan komunitasnya dan akhirnya menghilang dari peredaran karena berbagai sebab.

Di Bandung, misalnya, tercatat sejumlah kampus memiliki komunitas sastra yang cukup aktif berproses dan bergiat. Di ITB, di masa lalu, terdapat GAS (Gabungan Apresiasi Sastra) yang melahirkan nama-nama seperti Juniarso Ridwan, Kurnia Effendi atau Nirwan Dewanto. GAS kini telah bubar dan sebagai gantinya muncul Lingkar Sastra ITB yang usianya masih seumur jagung. Di UPI (dulu IKIP Bandung) terdapat ASAS (Arena Studi dan Apresiasi…

Tetralogi Buru dan Indonesia ’Modern’

Eka Kurniawan
http://majalah.tempointeraktif.com/i

Pramoedya berhasil menemukan anak kandung semangat nasionalisme Indonesia. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka.

TETRALOGI Buru bisa dibilang merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab: apa itu menjadi Indonesia. Pada akhir 1950-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat—jika tak bisa dikatakan panas—ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.

Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia. Dalam hal ini, Pramoedya berhasil menemukan tokoh ideal anak kandung semangat ini: Tirto Adhi Soerjo. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka, melainkan seorang wartawan sekaligus penul…

Membahasakan 1000 Jejak Pram

Judul Buku : 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa
Penyunting : Astuti Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : xvi+504 halaman
Harga : Rp. 80.000
Peresensi: Engkos Kosnadi*
http://oase.kompas.com/

100 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa, Ini sebuah buku yang saya kategorikan sebagai salah satu “babad pram” yang ditulis oleh sekitar 68 orang yang pusparagam dari mulai wartawan, pemimpin redaksi, pustakawan, guru, sahabat, pengagum, pemerhati, adik, anak dan cucu dan beberapa orang sahabat dekat pram dan banyak profesi lainnya, jadinya ‘gado-gado ala pramis’. Buku yang disajikan khusus sebagai kado peringatan 100 hari meninggalnya Pramoedya Ananta Toer ini memang terkesan terburu moment, sehingga banyak detail yang terlewatkan dari mulai tidak seragamnya siapa jatidiri penulis sampai beberapa kata yang salah ketik walaupun jumlahnya minimal, mungkin ini lagi-lagi gaya ‘pramis’ yang menjadi ciri dalam kebebasannya dalam menulis. Mungkin mereka ingat pesan Pram “masa terbaik dalam hidup se…

Hidup yang Terus Mengalir

AJ Susmana
http://cetak.kompas.com/

Sejarah seringkali dikonstruksi dalam bingkai ”sejarah negara”. Kadang, perjuangan yang dihidupi dengan jiwa dan raga tak membawa hasil seperti yang diharapkan. Kekecewaan dan rasa sesal pun melanda di hati. Akan tetapi, itu tampaknya tidak berlaku bagi wanita-wanita mantan prajurit gerilya yang telah menghabiskan sebagian hidupnya dalam perjuangan gerilya nan panjang di hutan tropik Semenanjung Melayu.

Itulah sepenggal kisah beberapa perempuan yang angkat senjata berjuang menentang kolonialisme, yang dikisahkan di dalam buku Hidup Bagaikan Mengalirnya Sungai: Wanita dalam Perjuangan Anti-Kolonial Malaya, Sejarah Lisan suntingan Agnes Khoo. Cita-cita perjuangan mereka memang tidak berhasil dan kini hidup dalam perlindungan Kerajaan Thailand, tetapi mereka tak menyesali atas jalan yang pernah ditempuh. Kisah seperti ini, dalam beberapa hal, tentu saja bukan kisah yang baru dalam perjuangan antikolonialisme di Indonesia.

Membaca buku ini, tak pelak lagi, …

Kitab Sastra Selebritas

A. Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Tatkala kampanye terbuka digelar, sebagian artis-selebritas Indonesia lagi sibuk berkampanye demi mendulang suara pada pemilu legislatif nanti. Kini ditengarai, keranjingan mutakhir artis tanah air pada berduyun-duyun terjun di ranah politik. Untuk menandai hal ini, PAN tak lagi dijuluki Partai Amanat Nasional, tapi Partai Artis Nasional.

Mereka seakan tak puas atas ketenaran dirinya selama ini, yang kerapkali tampil di tv maupun di koran-koran. Mereka malah membikin baliho yang berisikan foto dirinya, partai yang ditungganginya, serta misi dan visi politiknya ketika dia kelak terpilih.

“Kita adalah bangsa yang tidak pernah selesai,” tutur Zack Sorga, sutradara pertunjukan teater bertajuk ‘Blangwir Nyelonong ke Priuk’, di akhir pementasannya, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, hari Rabu (2 Desember 1998). Pernyataan Zack Sorga tersebut cocok mengalegorikan ketakselesaian proses pencarian manusia.

Geliat selebritas mem…

Bisikan Sastra Perang…

Binhad Nurrohmat
http://kompas-cetak/

Watak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de Troi n’aura pas lieu (Perang Troya Tak Bakal Meletus): “Kebenaran adalah korban pertama dalam perang.”

Pada berbagai zaman, perang gampang menggerakkan manusia menyelenggarakan kekerasan untuk penghancuran dan penaklukan. Perang merupakan bentuk tragedi primitif yang kerap mencabik-cabik riwayat umat manusia sejak mula hingga masa kininya. Tak mengejutkan bila ilham penciptaan kesusastraan agung abad silam—Mahabharata, Iliad, Odyssey—adalah perang. Juga, kesusastraan pada kurun mutakhir: Krawang-Bekasi saduran Chairil Anwar, Cerita dari Blora P…

Harry Aveling dan Sastra Indonesia

Susi Ivvaty
http://kompas-cetak/

Harry George Aveling (64) masih berusia delapan tahun ketika bibinya menunjukkan peta Borneo (Kalimantan) kepadanya. Bibi berharap ia menjadi pendakwah agama di pulau itu. “Saya akhirnya malah menjadi pendakwah budaya Indonesia untuk orang Australia, he-he-he.”

Di Indonesia, Harry dikenal sebagai pemerhati dan peneliti kesusastraan Indonesia sejak tahun 1970-an. Belakangan, lelaki kelahiran Sydney, Australia, 30 Maret 1942, itu juga dikenal sebagai pakar dalam penerjemahan sastra. Tak mengherankan jika kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia yang meluncur dari mulutnya terstruktur sangat rapi.

Harry melihat Indonesia sebagai negara tetangga yang menarik. Begitu dekat namun sangat berbeda. “Saya tidak tahu apa-apa tentang Indonesia dan begitu pula kebanyakan orang Australia. Itulah mengapa saya tertarik ingin memperkenalkan Indonesia kepada Australia,” ujarnya ketika ditemui menjelang acara diskusi di Bentara Budaya Jakarta pekan pertama Mei lalu.

Terhadap sa…

Pram, Punk, dan Gerakan Komunitas di Blora

Abdul Malik, Fahrudin Nasrulloh
http://www.facebook.com/note.php?note_id=86042861838&ref=mf#/profile.php?id=770900011

Wahai huruf……
Alangkah akan tinggi ucapan
Terima kasihku, bilalah kamu
Menjadi buku terbuka
Bagi manusia yang membacanya
(Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1)

Bebaris kata-kata Pram itu terpampang di salah satu banner di bagian tengah atas yang berisi sejumlah cover novel-novel Pram, baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa asing. Kita seperti diajak memasuki ruang-ruang batin Pram dengan segala pernak-pernik kisahnya. Inilah salah satu yang terhadir dalam peringatan 1000 WAJAH PRAM DALAM KATA & SKETSA yang dipanitiai oleh Soesilo Ananta Toer dan Eko Arifianto yang digelar mulai tanggal 1 sampai 7 Februari 2009, di Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora.

Selama seminggu, acara peringatan Pram ini, salah satunya, menghadirkan pameran sketsa dari anak-anak SD sampai SMA, dan khalayak umum, terutama kaum muda yang berasal dari sejumlah komunitas di Blora dan Randublatung…

Kanon Sastra: Siapa Takut?

Ayu Utami*
http://www.prakarsa-rakyat.org/(29 Oct 2007 Kompas)

Mengapa takut, wahai, pada kanon sastra? Toh kita belum pernah punya. Dan sesungguhnya kita perlu punya, ya, sebuah kanon yang cocok untuk kepentingan kita. Dan kepentingan itu adalah proyek kebangsaan Indonesia, yang belakangan ini terbengkalai.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah tonggak awal kebangsaan kita. Sayangnya, pemerintahan Soeharto menjalankan proyek ini dengan cara yang menghilangkan keharuannya. Reformasi 1998, yang mewarisi kegusaran pada slogan Orde Baru, menyingkirkan butir-butir sumpah itu bersama sampah lain ke sudut berdebu. Pelbagai riset menunjukkan, sepuluh tahun ini orang memilih ikatan-ikatan lain, semisal kesukuan, kedaerahan, dan agama, di atas satu bangsa satu tanah air.

Dari tiga untai Sumpah Pemuda, hanya yang terakhir yang masih lumayan mengilap, berkat para peminat bahasa Indonesia yang masih setia mengelap-ngelap butir ketiga itu tiap tahun. Sebagian di antaranya sastrawan—mereka suka menyelen…

Diplomasi Sastra Indonesia ke Level Internasional*

Satmoko Budi Santoso
http://satmoko-budi-santoso.blogspot.com/

DALAM rentang waktu mulai tahun 2000-an, kesusastraan Indonesia yang diharapkan mampu “tinggal landas” berkaitan dengan momentum pasar bebas, rasanya kurang begitu menunjukkan hasil. Dalam konteks ini adalah kesusastraan Indonesia yang mampu unjuk sampai ke level internasional. Oleh karena itu, eksistensi sastra Indonesia memang masih harus belajar keras agar mampu menembus ke level diplomasi sastra tingkat internasional. Kebanyakan, kalaupun ada sejumlah sastrawan yang mampu menembus pasar internasional, itu tidak lebih karena upayanya sendiri dalam berjejaring dengan orang atau komunitas atau juga lembaga yang memang memunyai komitmen sama dalam mengembangkan diplomasi sastra menjadi lebih baik lagi.

Tentu, dalam persoalan semacam ini perlu kepedulian berupa kebijakan dari negara yang berusaha mendudukkan karya sastra sehingga memunyai peluang yang sama dengan bidang disiplin ilmu lain yang lebih memunyai kesempatan mempert…

Merayakan Chairil, Mengenang Pram

Umar Fauzi
http://www.surabayapost.co.id/

Seperti berbagai pengultusan peringatan hari-hari besar atau hari bersejarah lainnya, kesusastraan Indonesia juga tidak luput dari tradisi tersebut. Bulan sastra atau oleh Sapardi Djoko Damono disebut sebagai hari sastra itu, jatuh pada bulan April, tepatnya pada tanggal 28 April. Peringatan ini “sekaligus” untuk mengenang sang maestro sastrawan Indonesia Chairil Anwar. Dengan perkataan lain, nama besar Chairil dijadikan momentum sebagai hari Sastra Indonesia. Pada bulan ini diselenggarakan oleh berbagai pihak baik komunitas sastra maupun lembaga pendidikan berbagai macam kegiatan kesusastraan.

Diantara penyelenggaraan atas pengultusan Chairil Anwar itu diantaranya penganugrahan sastra yang pernah diadakan Dewan Kesenian Jakarta, yaitu Anugerah Sastra Chairil Anwar yang kali pertama diberikan kepada Mochtar Lubis (1992) dan kali kedua kepada Sutardji Calzoum Bahri (1998); di Surabaya cikal bakal perhelatan tahunan Festival Seni Surabaya (FSS) sej…

Sejarah Terbelah, Sastra Jadi Perekatnya

M Shoim Anwar
http://www.infoanda.com/Republika Online

Baru-baru ini Kejaksaan Agung mengeluarkan surat keputusan yang isinya menarik tiga buku pelajaran sejarah karena dinilai mengingkari fakta. Buku-buku tersebut tidak mencantumkan kata “Partai Komunis Indonesia/PKI” untuk peristiwa Pemberontakan Madiun 1948 dan Gerakan 30 September 1965. Buku-buku ini ditulis untuk Kurikulum 2004.

Tahun 2003 yang lalu buku Kaum Merah Menjarah (2001) karya Aminudin Kasdi juga secara diam-diam “ditarik” dari pasaran. Padahal, buku tersebut mengungkap dengan jelas aksi sepihak PKI/BTI di Jawa Timur tahun 1960-1965. Konon, buku ini ditarik karena tidak disukai oleh penguasa saat itu. Sementara, pada pertengahan tahun 1980-an, Nugroho Notosusanto saat menyusun buku sejarah nasional juga pernah mendapat reaksi keras karena dinilai tidak sesuai dengan fakta.

Pada awalnya sejarah adalah fakta. Tetapi, dalam perjalanannya, sejarah dapat berbias menjadi opini. Berbagai kepentingan didesakkan, sehingga pohon seja…

Kosmologi Santri dalam Kisah

Riadi Ngasiran*
http://dutamasyarakat.com/

Karya sastra yang berkualitas tak harus sesuai dengan selera pasar. Karya yang sesuai dengan kaidah kesusastraraan, yang memperkaya peradaban, belum tentu diminati oleh pihak penerbit profesional karena tak banyak menarik keuntungan. Bila ditilik dari sisi kuantitas karya-karya Pramoedya Ananta Toer tak seberapa memperoleh pasar dibanding dengan karya-karya populer yang diminati oleh pasar dan digandrungi para pembaca. Tapi, bila ia emas tidaklah berubah jadi loyang demikian pula sebaliknya.

Ada pengakuan yang patut dicatat dari Ahmad Tohari, sastrawan Ronggeng Dukuh Paruk ketika ditunjuk sebagai juru Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2006. Sebenarnya yang diunggulkannya bukanlah yang kebetulan menjadi juara I, melainkan karya yang lain, berjudul Buku tanpa Kisah. Naskah ini berkisah seputar pesantren, tentang pendobrakan dinding pesantren. Tapi, akhirnya dewan juri memutuskan Hubbu karya Mashuri, lantaran dinilai sangat u…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]