Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

SASTRADAN BUDAYA SASAK DIBELANTARA MODEREN

Janual Aidi*
http://www.sastra-indonesia.com/

“Manusia tidak dipahami melalui eksistensi fisik, secara substansial, melainkan melalui karya dan ciptaannya…” (Ernst Cassirer)

Satu kenyataan yang tidak dapat disangkal oleh siapapun juga bahwa sesungguhnya suku Sasak merupakan suku yang kaya akan sastra dan budaya. Sebut saja diantara karya-karya tulis pada zaman dahulu (naskah lama) seperti: Babad Selaparang, Babad Lombok, Babad Praya, Babad Praya (Mengawi), Babad Sakra, Babad Sari Manik, Jatiswara, Silsilah Batu Dendang, Nabi Haparas, Cilinaya, Cupak Gerantang, Doyan Neda, Pengganis, Kertanah, Dajjal dan Kotaragama. Ataupun yang dalam perkembangannya, naskah-naskah tersebut banyak diubah kedalam bentuk puisi yang selanjutnya ditembangkan. Tembang-tembang tersebut banyak dipergunakan untuk menulis sastra-sastra Sasak seperti Takepan Monyeh, Lontar Demung Sandubaya dan lainnya. Dan kurang lebih ada enam tembang yang biasa ditembangkan oleh suku Sasak pada masa dulu yaitu: tembang Maskumamba…

Otokritik Sosial Budaya Bali

Judul : Wanita Amerika Dibunuh di Ubud
Penulis : Gde Aryantha Soetama
Penerbit : Arti Foundation, 2002
Tebal : v+115 halaman
Peresensi : IGK Tribana
http://www.balipost.com/

KETIKA upacara pengabenan pamannya, Bram (orang Bali) berkenalan dengan seorang wisatawan bernama Susan dari Amerika Serikat (AS). Selanjutnya kedua insan berlainan jenis dan bangsa ini menjalin hubungan yang lebih intim — cinta sesaat. Sesungguhnya Bram ingin mengenal Susan lebih dekat semata-mata untuk belajar bahasa Inggris. Demikian pula kedatangan Susan ke Bali bukanlah seperti wisatawan asing kebanyakan — benar-benar berwisata, melainkan sebagai mata-mata terhadap pelaku kejahatan sesama manusia yang terjadi di berbagai negara. Justru karena sebagai mata-matalah, Susan tewas di Ubud, suatu tempat yang dikaguminya. Susan pun diaben di Bali sesuai dengan pesannya ketika ia masih hidup.

Mengejutkan benar, seorang wanita warga AS tewas di Ubud. Namun, itu hanyalah karya fiksi — sebuah novel. Jika benar-benar terjadi se…

Quran berwajah puisi

Julizar Kasiri, Ivan Haris, Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEBUAH upaya memuliakan Quran terhenti di tengah jalan. H.B. Jassin, penulis terjemahan Quran berjudul Quran Bacaan Mulia, ingin menerbitkan Quran yang ditulis mirip susunan puisi. Ia pun sudah mempersiapkan judulnya, Al Quran Berwajah Puisi. Tapi baru 10 juz dikerjakan, muncul imbauan supaya kreasi itu tak dilanjutkan. Itu, ”mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya,” menurut ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran, lembaga yang berwenang mengesahkan penerbitan Quran.

Di buku itu Jassin menyusun ayat-ayat Quran ke bawah secara simetris. Ini dikemukakan oleh Menteri Agama Munawir Sjadzali di depan anggota DPR, Kamis dua pekan lalu. Sebelumnya, pada pertengahan Desember tahun lalu, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan keberatannya.

Dalam suratnya antara lain disebutkan, naskah H.B. Jassin itu tak sesuai dengan mushaf Al Imam, mushaf (tulisan naskah Quran) yang menjadi standar di dunia Islam, termasuk Ind…

Pornografi Dalam Karya Sastra

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.com/

Sastra sebagai karya seni memiliki peluang yang hampir sama dengan bidang seni lainnya dalam hal pornografi. Namun unsur porno, erotis dan seks dalam karya sastra tidak seperti goyang dangdut Inul Darastita, yang sangat heboh belakangan ini, walaupun sama-sama seni. Selain penyanyi Inul, unsur pornografi sering juga ditunjukkan dalam seni lukis, foto, film dan patung, yang mudah dipelototi. Sehingga muncul polemik di masyarakat antara seni dan pornografi. Bagaimanakah pengarang menampilkan unsur seks dalam karyanya?

DALAM karya sastra, pengarang tidak ada jalan lain, hanya dengan bahasa. Pengarang merangkai kata-kata untuk menghasilkan karya sastra atau karangan. Maka dari itu, dalam pengertian yang amat sederhana muncul istilah karangan bunga dan karangan buah. Dalam karangan buah, seseorang merangkai buah dan dalam karangan bunga, seseorang merangkai bunga. Mengarang adalah seni dalam merangkai kata-kata dan bahasa. Makanya, menampilkan unsur sek…

Sang penyair dan sang panglima [W.S. Rendra]

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

PADA suatu malam Agustus 1970 W.S. Rendra ditahan. Ia, bersama 10 orang lain, bersemadi di petak rumput di tengah Jalan Thamrin, Jakarta. Malam itu beberapa ratus mahasiswa menyiapkan secara massal aksi “Malam Tirakatan”, sementara gabungan pasukan bersenjata bermaksud menggagalkannya. Bentrokan kekerasan dikhawatirkan.

Rendra dan yang lain-lain telah berhasil membujuk para mahasiswa (di pimpin Arief Budiman) untuk mundur saja, dan sebagai ganti menawarkan diri untuk melakukan semadi dan tirakatan di tempat yang telah ditetapkan.

Fihak penguasa agaknya menyangka Rendra dkk sebagai demonstran yang bandel, dan ia ditahan 20 jam. Walaupun dalam interogasi yang dilakukan malam itu seorang tahanan menamakan tindakan mereka sebagai “tumbal” buat mencegah terjadinya bentrokan antara mahasiswa dan tentara, sedikit sekali difahami motif Rendra dkk malam itu.

Dalam suasana bertentangan, orang yang tak mengabungkan diri memang sering sulit direnger…

Geladak Sastra, Saat Menapaki Sebuah Rezim

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Masih lekat dalam ingatan kita tantang partai Golkar, partai yang awalnya hanya digerakkan beberapa gelintir orang saja dan dalam waktu seumur jagung telah mampu menjadi kekuatan yang menyeluruh sebagai suatu ‘gerakan’ dari semua lapisan masyarakat. Dan kekuatan itu telah nyata ditunjukkan dengan adanya indikator tampuk kekuasaan yang mewarnai corak hegemoni wacana sosial di zamannya. Dan bahkan tidak tanggung-tanggung, kekuatan itu mampu mendekami tiga perempat setengah abad sejak kemerdekaan Republik Indonesia sebagai suatu Negara. Meskipun pada ahirnya juga hancur di-revolt berdasarkan kebutuhan waktu.

Gambaran ringan mengenai kondisi keberadaan rezim Golkar tersebut dapat kita lirik dari puisi pendeknya Gus Mus {Bisri Mustofa} yang berjudul ‘Negriku telah menguning’. Disebut puisi pendek karena judul puisi yang pernah dibaca Gus Mus sendiri saat datang di acara padhang mbulan di kediaman Emha Ainun Najib sekitar tahun 1997 lalu …

Siapa Peduli Panji?

Ingki Rinaldi
http://umum.kompasiana.com/

Penari asal Jepang bernama Jasmin itu sudah bergairah sejak pagi-pagi sekali. Sebelum pukul sembilan Jasmin telah berada di depan kolam ikan yang jadi bagian Candi Jolotundo Udayana, di Trawas, Mojokerto.

Sambil berjinjit ke bagian kolam pemandian yang dikucuri aliran mata air jernih di bagian atas candi, Jasmin berbisik.

“Saya mau mandi dulu.”

Maka ia pun menaiki sejumlah undakan batu menuju salah satu kolam yang dikelilingi pepohonan besar. Tak lama Jasmin kembali lagi ke tempat awal sembari mesam mesem.
Tentu saja, keinginan itu tidak bisa kesampaian.

Hari itu, Jasmin yang punya nama lengkap Jasmin Akubo dan sudah beberapa waktu terakhir tergabung dalam sebuah kelompok kesenian dari Bali mau ikut berpentas. Pentas itu adalah salah satu penutup pertemuan dan pementasan bertajuk Pasamuan Budaya Panji Internasional ke-2 yang diadakan di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto.

Pasti saja berpasang-pasang mata sudah menant…

Horison pulang ke balai budaya

Liston P. Siregar
http://majalah.tempointeraktif.com/

TERNYATA Horison baru hanya berumur satu edisi. Tiga hari setelah acara peluncurannya di Perpustakaan Nasional, Jakarta, majalah sastra itu harus kembali ke pengasuhnya yang lama. Rapat Yayasan Indonesia, pemegang SIUPP Horison, Rabu 14 Juli lalu secara sepihak membatalkan kerja sama dengan pengelola baru, PT Grafiti Pers.

Dipersiapkan dengan kecepatan tinggi oleh tim redaksi baru, Horison sempat tampil beda bulan Juli ini, sebagai majalah sastra dan seni bukan cuma sastra. Dan pemasarannya pun ditangani dengan sungguh-sungguh oleh Sigit Pramono dari bagian pemasaran Majalah TEMPO.

Dalam Horison yang terbit 64 halaman itu di dalamnya dicantumkan formulir langganan. Sejumlah Formulir itu sudah sempat kembali juga sejumlah naskah sudah sempat dipertimbangkan oleh tim redaksi yang baru. Tapi karena ada anggota Yayasan Indonesia yang tampaknya berubah sikap, semuanya berantakan. Itu disesalkan Arief Budiman, salah seorang pendiri Yayasan I…

Bahasa Jawa butuh spirit baru

Media Berbahasa Daerah Menghadapi Era Global
Fatkhul Aziz
http://www.dutamasyarakat.com/

Perkembangan globalisasi membuat khasanah lokal terdesak. Dunia yang tidak lagi berjarak dengan perkembangan teknologi informasi dan transportsi membuat lokalitas menjadi arena tempur. Jika tidak memiliki kekuatan, lokalitas bisa digerus kekuatan luar.

Kondisi itu mulai tampak pada kehidupan lokal masyarakat Jawa. Bahasa, sastra, dan budaya Jawa saat ini terus mengalami kemunduran. Para penulis dan penutur bahasa Jawa kian beringsut. Juga media massa berbahasa Jawa. Sehingga, kondisi bahasa, sastra, dan budaya Jawa ibarat hidup enggan mati tak mau.

Untuk itu, dibutuhkan spirit baru pada penulis, penutur, dan pemerhati Jawa dalam menggairahkan sekaligus memajukan Jawa.
|
Hal itu mencuat dalam diskusi ‘Media Berbahasa Daerah Menghadapi Era Global’ yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika di Hotel JW Marriot, Sabtu (25/9). Diskusi itu menghadirkan beberapa narasumber seperti Mochtar Pimred Panjeb…

“Kawin Paksa” Ilustrasi Cerpen

(Tanggapan untuk Binhad Nurrohmat)
Rikobidik *
http://umum.kompasiana.com/

Apa yang diuraikan Binhad mengenai ilustrasi cerpen Kompas semakin meneguhkan keyakinan saya, yaitu ada sesuatu pada cerpen-cerpen Kompas.

Bagaimanakah menanggapi isu dan gosip (di kalangan) seni rupa dan sastra terhadap ilustrasi cerpen seperti yang diungkapkan Binhad di Kompas 5 Juli lalu ini? Artikel ini adalah upaya untuk mengurainya.

Ilustrasi Cerpen vs Berita Foto

Saya setuju dengan pernyataan Binhad mengenai medium yang berbeda antara Lukisan dan tulisan. Namun, Binhad keliru jika menganggap sifat kevisualan gambar ilustrasi cerpen membuat penangkapannya lebih langsung daripada teks cerpen. Sebab, baik gambar ilustrasi cerpen maupun teks cerpen tetap memerlukan proses “membaca” untuk menangkap isinya, tak cukup hanya dengan “melihat” bentuk gambarnya saja. Lagi pula, penangkapan yang tergesa-gesa terhadap yang visual pun kerap menipu, bukan? Nah, pada titik inilah kita bisa memulai sebuah refleksi: apakah “sta…

Pembakuan, namun ya pelan-pelan [eYD]

Ahmadie Thaha
http://majalah.tempointeraktif.com/

KETIKA bertugas sebagai duta besar di Kairo, Fuad Hassan mengalami kejadian lucu. Suatu hari, Fuad yang kini Menteri P dan K itu bertemu dengan dua rekan dari tanah air, masing-masing bernama Amir dan ‘Amir. Mereka hendak bertamu ke Presiden Mesir. Mereka mencatatkan nama di buku tamu. Tapi ternyata hanya Amir yang diizinkan masuk, karena ia dikira salah seorang menteri dari Indonesia.

Maklum, dalam bahasa Arab, amir artinya memang “menteri”. Sementara itu, Amir lainnya (yang menuliskan namanya dengan huruf Arab, ‘Amir), ditolak. Petugas keamanan kepresidenan Mesir rupanya bingung. Sebab, dalam bahasa Arab, ‘amir artinya “penduduk”. Rupanya, ia menuliskan huruf pertama namanya dengan ‘ain, bukan dengan alif. Padahal, di Indonesia mereka sama-sama menuliskan nama: Amir. Tapi di Kairo salah seorang di antara mereka ternyata salah tulis.

“Karena itu, menulis transliterasi harus hati-hati,” kata Fuad tersenyum, ketika menandatangani Surat Kepu…

Perempuan Yang Menanti

Wina Bojonegoro
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Stasiun Pasar Turi selalu penuh sesak di malam hari. Lalu lalang manusia, bagai aliran sungai yang tak kenal henti, berbaur aneka kepentingan, bau badan, penjual koran, kuli angkut dan tak lupa calo. Beberapa menit lagi kereta Argo Bromo akan membawaku pulang ke Jakarta, pada rutinitas kehidupan yang sesungguhnya. Baru saja melangkahi peron, pengumuman sudah berkumandang, kereta telah siap di jalur satu. Tapi aku belumlah selesai. Perempuan ini aku tenteng kemari agar aku sempat bicara, semalam dan sepagian, bahkan sesiangan ini aku terlalu asyik mendengarkannya hingga tak ada waktuku bicara. Kini saatnya.

Kami duduk bersisihan di ruang tunggu dalam, sekali lagi kuamati profilnya dari samping. Dia wanita yang lelah, tetapi memiliki keteguhan dan kemampuan menguasai diri yang besar, nyalinya juga. Memanggil tukang koran saja dia hanya perlu bersiul. Merasa kuamati dia menoleh, tersenyum manis, melanjutkan keasyikan pada halaman koran …

Mual

Gde Artawan
http://www.balipost.com/

Tiga bulan terakhir ini aku merasakan kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Aku merasa mual. Sungguh. Tidak lantaran kondisiku yang agak terkuras setelah menjadi pengantin baru, bukan pula lantaran Leny — wanita kampung biasa-biasa saja yang kini jadi istriku — hamil, tidak. Rasa mual ini menghantamku secara membabibuta tanpa aku diberi penjelasan yang komprehensif, paling tidak secara nalar dapat dirunut sebab musababnya.

TERKADANG aku pasrah dengan kondisi yang kau derita tanpa mencoba mencari latar belakang penyebabnya. Terkadang aku percaya bahwa kodrat bisa seenaknya menari-nari di tengah kebingunganku membaca gelagatnya. Tapi dalam rentang waktu yang tidak jauh berselang, aku berontak terhadap kondisi yang menerpaku: mual. Aku berontak dengan mencoba kemampuan inteligenku mencari tahu penyebab aku mual dan mencoba mencari penawar agar rasa mual itu bisa hilang.

Aku tak gampang menyerah. Untuk persoalan mual ini, kecuali sikap menyerahku pada Len…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]