Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Ma’iyah: Kepemimpinan Bani Syari’at

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Sepeninggal bapak pluralisme (KH. Abdurrahman Wahid), para sejarawan mulai me-nganalisa rumusan pemikiran baru. Rumusan baru itu ditarik berdasarkan gelombang waktu yang mengalami padatan momental. Dimana warna kepemimpinan yang berhasil dan membuat nama besar kerajaan, ditandai dengan lahirnya sosok pemimpin dari kalangan bawah.

Kebesaran Majapahit sesungguhnya bukan pengaruh nama raja-raja yang sedang bertahta, melainkan karena konsep kepemimpinan seorang patih gajah Mada. Karir politik dan militer Gajah Mada berwal sejak pemerintahan Prabu Jaya Negara (1309-1328). Kedudukannya di Majapahit terus melejit sampai era kepemimpinan Jaya Wisnu Wardhani (1328-1360).

Menurut kitab Usana Jawa yang dipercaya orang Bali, Gajah Mada adalah putra Bali yang tak berayah-ibu. Ia terpancar dari dalam buah kelapa, jelmaan Sang Hyang Narayana. Gajah Mada diperkirakan lahir awal abad 14, yakni tahun 1300 M. sebab tahun 1321 ia sudah diangkat menjadi …

Agar Sejarah Tak Kering

Philipus Parera
http://majalah.tempointeraktif.com/

“Sejak aku sadar akan hal itu, entah sejak kapan, tidak segera, dan secara samasekali tak disengaja, aku pun tak pernah lagi merayakan hari ulang tahunku. Di hari-hari seperti itu kuteringat ayah. Ingatkah, ayah, bahwa esok hari setelah ayah ditangkap, hari itu adalah kelahiran putri sulungmu?”

KUTIPAN di atas adalah bagian dari cerita Ibarruri Putri Alam, putri sulung Ketua CC Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit. Monolog itu ia tuangkan dalam manuskrip berjudul Anak Sulung DN Aidit. Autobiografi sepanjang 242 halaman kuarto itu kabarnya akan segera diterbitkan dalam bentuk buku oleh Hasta Mitra, Jakarta.

Iba, demikian ia disapa, lahir pada 23 November 1949 dari pasangan Aidit dan Sutanti. Sejak usia delapan tahun, Aidit mengirimnya ke Moskow, Rusia, untuk bersekolah. Beberapa tahun kemudian adiknya, Ilya, menyusul. Tetapi segalanya berubah setelah peristiwa G30S.

Untuk waktu yang lama, Iba tak tahu kabar ayah-ibunya. Berita di koran mem…

Era Baru Penghormatan terhadap Puisi

Fuska Sani Evani
http://www.suarapembaruan.com/

Kelompok musik Pardiman Djojonegoro yang juga meresepsi puisi ke dalam pitutur Jawa pada rangkaian acara sajian Divisi Sastra FKy-XIX 2007 Sabtu (25/8) di sebuah restoran di depan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Romo Sindhunata SJ, tampak manggut-manggut. Kadang menekuk siku, kadang geleng-geleng. “Asyik juga ya, gak kalah sama dangdut, bisa juga buat goyang,” katanya.

Ternyata, Romo Sindhu, sedang menikmati irama musik Hip-hop yang dilantunkan empat anak muda, Mamox, Heldi, Bo, dan Balan, personel “Jahanam” salah satu dari sekian kelompok musik Hip-hop di Yogyakarta.

Simak saja syair milik Romo Sindhu yang dilebur dalam irama hip hop.

Sengkuni leda- lede, Mimpi baris ngarep dhewe, Eh barisane menggok,Sengkuni kok malah ndheProk, nongji, nongro.

Anak-anak kelompok musik hip-hop asal Yogyakarta itu, melantunkan syair-syair puisi milik Romo Sindhunata SJ dari kumpulan puisinya Air Kata-kata berjudul Cintamu Sepahit Topi Miring, Rep Kedep dan karya merek…

Pergeseran Konstelasi Sastra Indonesia

Ahmadun Yosi Herfanda*
http://www.infoanda.com/Republika

Munculnya kelompok-kelompok penulis dan pecinta sastra sejak awal 1990-an telah membuat kekuatan dan potensi sastra Indonesia tidak lagi terpusat di Jakarta. Konstelasi sastra Indonesia terpecah (terdekonstruksi) ke dalam kelompok-kelompok besar dan kecil yang masing-masing menyumbangkan sekaligus mencoba mempengaruhi perkembangan serta kecenderungan estetik sastra Indonesia kontemporer.

Kelompok-kelompok penulis dan pecinta sastra itu mulai berlahiran ketika semangat melawan pusat — Jakarta dengan TIM dan Horison-nya — menguat pada awal 1990-an, setelah didorong oleh oponi-opini kritis dan keras dari sastrawan-sastrawan muda daerah terkemuka saat itu, terutama Emha Ainun Najib, sejak akhir 1980-an.

Sejak didirikan pada awal 1970-an, DKJ dengan TIM-nya, yang masih menjadi satu-satunya dewan kesenian di Indonesia, memang berhasil mencitrakan diri sebagai ‘pusat sastra’ nasional yang berwibawa. Para sastrawan seakan belum dianggap ber…

Kanal Demokrasi Politik Global

Heri Latief
http://politik.kompasiana.com/

Kanal-kanal di Amsterdam terkenal sebagai atraksi turis, kapal-kapal turis mundar mandir melayari kanal tua antik kebanggan kotanya VOC.

Di sepanjang kanal yang terawat bersih itu tak ada orang iseng yang nongkrong buang air besar, yang kita lihat adalah jejeran gedung-gedung bangunan kuno di pinggir jalan.

Di sepanjang kanal juga ada kapal-kapal tua yang dijadikan tempat tinggal, dan rumah-rumah permanen di atas air. Aura kota di atas air memang jadi ciri khas negeri Belanda.

Jika tembok batu disepanjang kanal-kanal itu bisa cerita tentu banyak sekali kisah tentang manusia yang melayari kanalnya, dari zaman ke zaman, kanal selalu setia dilayari kapal-kapal.

Seperti sejarah di zaman VOC, dulu para pelaut pergi jauh melayari samudra untuk mencari nasib baik, dalam petualangan hidup beraroma dagang dengan resiko dihadang angin topan.

Semangat melawan angin topan itu dibuktikan bangsa Belanda dengan kerja keras membangun tanggul-tanggul penahan ombak y…

CARUT-MARUT SEJARAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra tidaklah lahir dari sebuah kekosongan. Ia mengada setelah melewati proses yang rumit yang berkaitan dengan persoalan sosio-budaya, politik, ekonomi, bahkan juga ideology dan agama. Jadi, ketika karya sastra terbit, beredar, dan kemudian dibaca masyarakat, di belakang itu ia sesungguhnya menyimpan sejarahnya sendiri. Ada kontekstualitas antara teks dan berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. Maka, ketika kita coba mengungkapkan problem yang melatarbelakanginya itu, tidak terhindarkan, kita terpaksa mencantelkan teks itu dengan konteksnya, dengan persoalan yang berada di luar teks. Di situlah akan terungkap, betapa karya sastra dilahirkan tidak semata-mata mengada lantaran telah terjadi proses kreatif pengarangnya, melainkan juga karena faktor lain di luar itu yang justru menyimpan problem sosio-kultural, politik, ekonomi dan ideologi.

Faktor di belakangnya itu, mungkin lantaran ada serangkaian kegelisahan dalam diri pengarang ata…

Vladimir Braginsky: Pertukaran Ide dengan Surga di Bumi

Ignatius Haryanto, Lenah Susianty
http://majalah.tempointeraktif.com/

NAMA Indonesianis seperti Ben Anderson, William Liddle, Harold Crouch, dan Harry Poeze sudah cukup familiar bagi pembaca di Indonesia. Tapi Vladimir Braginsky, Y.A. Cherepnyova, dan N.F. Alieva adalah nama yang mungkin terdengar asing. Sebagian orang mungkin mengira tiga nama tersebut adalah pecatur atau tentara asal Eropa Timur. Padahal mereka adalah tiga dari banyak sarjana Rusia yang memiliki bidang keahlian tentang Indonesia.

Braginsky adalah doktor sastra Indonesia dan Malaysia yang kini mengajar di School of Oriental and African Studies, University of London. Cherepnyova adalah ahli sejarah Indonesia yang kini mengajar di Institute of Oriental Studies di Moskwa dan menulis disertasi tentang konsep-konsep Barat dalam pembangunan sosial politik Indonesia. Sedangkan Alieva adalah linguis yang mengajar di Russian Academy of Sciences, Institute of Oriental Studies, Moscow State University.

Karya Alieva bahkan pernah di…

Mengintip Kerja Kreator Film Indie

Sepuluh Film Diproduksi Selama Empat tahun
Imron Arlado
http://www.jawapos.co.id/

Pembuatan film indie di negeri ini, kerap mendapat komentar pedas dari berbagai kalangan. Mulai dari pembuatan yang dianggap kurang bermodal, sampai pada tingkat keseriusan.

HANYA gara-gara ingin membahagiakan orang tuanya, Sukarti nekat menjadi seorang tenaga kerja wanita (TKW) di negeri seberang. Ia hanyalah seorang anak seorang penambang pasir yang mengigau menjadi orang kaya tanpa pikir panjang.

Keberangkatan Sukarti ke luar negeri, tentu membuat kedua orang tuanya sedih. Proses izin yang dilakukan terhadap kedua orang tuanya itu, mendapat penolakan. Sukarti memang keras kepala. Meski izin tak diberikan kepadanya, ia tetap mendesak orang tuanya. Izin pun akhirnya diberikan kepadanya.

Senang bukan kepalang. Sukarti yang tak pernah mengenyam bangku kuliah itu pun berangkat ke luar negeri. Ritual pun dilakukan. Sukarti harus merangkak di tengah selangkangan Mak Karti, ibunya.

Selang beberapa lama kemudian, ker…

Embriologi Peradapan

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Pernakah kita berfikir tentang asal-muasal atau apa sebab, dan bagaimana, dan seterusnya, mengapa bisa terjadi adanya peradaban? Taruklah manusia jaman sekarang menganggap telah menemukan titik sentral atau sumbu koordinat peradaban tertinggi. Ambil satu contoh dengan penemuan teknologi sekelas google, yang dengan serta merta membentangkan provider yang benar-benar menjadikan kecepatan informasi dan ngerumpi-nya manusia dari berbagai belahan dunia.

Sisi kenyamanan akibat terkuaknya ilmu pengetahuan dan teknologi memang tak perlu dipertanyakan. Sebab jawabannya pasti hanya satu kata’idem’yakni –kemudahan-efisiensi. Tetapi kelemahan akibat yang ditimbulkan belum tentu disikapi pemakai-fasilitas kecanggihan iptek secara cermat dan bijak.

Untuk menggambarkan perkembangan peradaban kita dapat ilustratifkan pada hal yang sepele misalnya : sebuah balon yang belum tertiup, kita dapat noktahkan banyak titik. Setelah balon ditiup dan makin bes…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]