Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Vagina yang Haus Sperma:

Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami
Katrin Bandel
http://www.facebook.com/group.php?gid=38840078585

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdebat dengan seorang kawan mengenai karya Ayu Utami. Setelah membaca beberapa tulisan saya yang mengkritik karya itu dan mempertanyakan politik sastra seputarnya, kawan saya tersebut dapat memahami pandangan saya. Tapi meskipun demikian, baginya novel Ayu Utami tetap memiliki sebuah kelebihan: Menurut pengamatannya, novel Saman merupakan karya pertama yang dengan cukup tepat merepresentasikan gaya hidup kelompok masyarakat tertentu, yaitu gaya hidup yang dipilih sebagian perempuan kelas menengah perkotaan di Indonesia (terutama Jakarta). “Memang seperti itulah gaya hidup dan pergaulan sebagian kerabat dan kenalan saya di Jakarta”, jelas kawan saya itu dengan merujuk pada deskripsi kehidupan keempat tokoh perempuan muda dalam novel Saman dan Larung. “Baru dalam novel Ayu Utami saya menemukan representasi realitas yang saya kenal…

Claude Debussy (1962-1918)

Nurel Javissyarqi
http://www.sastra-indonesia.com/

Pada buku “Les Français et I’Indonésie du XVIe au Xxe siécle” yang disusun Bernard Dorléans menyebutkan, di dalam catatannya Debussy menuliskan: “Jika anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, anda harus mengakui ialah musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling.”

Dan menurut profesor lajang sampai akhir hayatnya, Gertrudes Johan Resink (1911-1997), berkabar bahwa komponis Prancis, Claude Debussy memperkenalkan nada musik Jawa ke dalam komposisi musiknya. Ini tampak terdengar jelas atas karyanya yang bertitel “La cathédrale engloutie.” Di mana nada-nada gemelan menyusup ke rulung jiwa, sedari pantulan pekerti jiwa Jawa seraya.

Seringkali aku dengar gending-gending Jawa seperti menyaksikan lembah pesawahan di tanah Dwipa, bencah subur menandai jiwa lestari para pengolanya, meski harga pupuk tak sedap dirasa, oleh pemerintahan hanya mementingkan perutnya saja; gaji tinggi namun masih ko…

Kejahatan Perdata “Jejak Tanah”

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Cerpen Jejak Tanah karya Danarto adalah Cerpen Pilihan Kompas 2002 yang di dalamnya terdapat suatu tindak kejahatan perdata. Yaitu permasalahan tentang jual beli, tindak perdata yang mana menunjukkan suatu penyimpangan dalam jual beli tanah. Penggusuran para pemilik tanah yang tidak rela apabila para pemilik tanah harus meninggalkan rumah mereka. Jejak Tanah karya Danarto di dalamnya merepresentasikan kasus jual-beli yang tanpa ada kesepakatan antara penjual dan pembeli, yang dapat dikatakan sebagai bagian dari kasus penggusuran (perampasan) tanah.

Tidak adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli yang termuat di dalam Jejak Tanah terdeteksi di dalam bagian: “… merasa tanah pemukiman itu miliknya dengan memperlihatkan surat-surat kepemilikan, mereka gigih mempertahankannya meski ayah sudah memperlihatkan surat pembebasan yang sah. Beberapa kali diadakan pertemuan dengan jumlah uang pembebasan yang dirasa pantas, mereka tetap menolak untuk pi…

Teror(isme) Negara dalam Novel Indonesia

Aprinus Salam
http://www.jawapos.co.id/

TERORISME kini menjadi salah satu ancaman besar bagi kehidupan masyarakat dan negara Indonesia. Beberapa peristiwa teror bom yang menikam jantung Indonesia sejak bom Bali menjadikan agenda Detasemen 88 Mabes Polri sebagai perhatian penting pemerintah, media, dan tentu saja masyarakat.

Teror yang dipahami Indonesia seiring dengan peristiwa tadi terfokus pada segala yang berkaitan dengan Islam dan kelompok-kelompok militan garis kerasnya. Teror itu disebut sebagai ideological terrorism, yakni terorisme yang mendasarkan aksinya pada prinsip-prinsip ideologi. Biasanya teror tersebut diikuti pula dengan keinginan untuk memisahkan diri (gerakan separatis), mengacaukan ketertiban masyarakat, atau membangun pemerintahan sendiri. Teror itu disebut nationalistic terrorism. Kedua jenis teror tersebut menjadi pusat perhatian dan menutupi kemungkinan teror-teror lain yang muncul dan menjalankan aksinya dengan ”tenang dan damai”.

Teror-teror lain yang terabaikan …

Rakyat Miskin, Wajah Pemimpin

Y. Wibowo
http://www.lampungpost.com/

Apa yang akan kita pahami dari sekumpulan angka dan catatan? Apa akan ada rekomendasi dan ide baru? Atau tak ada apa-apa sama sekali. Acuh. Namun, bagaimana bila sekumpulan angka-angka dan catatan itu adalah data kemiskinan? Reaksi beragam pun mengemuka.

Dalam berita yang dilansir Kompas, 12 Juli 2010), angka kemiskinan di Lampung turun sebesar 5,03% dibandingkan tahun lalu. Namun, angka kemiskinan ini masih terbilang tinggi, bahkan di atas rata-rata nasional. Pemberitaan tersebut berdasar pernyataan Moh. Razif, Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, mengatakan “Angka kemiskinan memang turun, tapi tidak signifikan. Secara kuantitas (persentase) masih tinggi.”

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Lampung Asrian Hendi Caya dalam pemberitaan Lampung Post, mengatakan data kemiskinan Lampung tersebut sangat bergantung pada perubahan harga barang pokok dan tingkat inflasi. Data dari BPS itu berdasar pada pemenuhan kebutuhan pokok makan y…

Tentang Suara-Suara Kerinduan

Judul buku: Di Lawok, Nyak Nelepon Pelabuhan
Penulis : Oky Sanjaya
Penerbit : BE Press, Lampung
Cetakan : I, Desember 2009
Tebal : ix + 76 hlm.
Peresensi : Imelda
http://www.lampungpost.com/

TERCEKAT saya ketika membaca buku puisi yang ditulis oleh generasi Lampung akhir 80-an ini. Bukan karena saya tidak yakin, melainkan karena saya menemui dua hal yang menjadi perasaan malu, yang lama-lama merenggut minda saya untuk berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan orang Lampung.

Pertama, saya merasa malu karena ternyata saya tidak mampu memahami puisi yang ditulis dalam bahasa ibu saya secara penuh. Kedua, saya malu karena ada generasi-generasi Lampung yang tidak hanya bisa mengungkapkan keresahannya, tetapi juga berkarya dalam dukungan yang tak seberapa.

Mengenai sekat bahasa izinkan saya sebagai pembaca berlayar dalam pikiran-pikiran saya setelah membaca teks ini beberapa minggu. Meskipun tak sepenuhnya terpahami atau genap ditelan alam pikiran. Hal yang paling pokok yang bisa saya serap dari b…

Tri Ramidjo, “Api yang tetap menyala”

Chamim Kohari *)
http://www.facebook.com/

“Bangsa-bangsa lahir di hati para penyair, tetapi tumbuh dan mati di tangan politisi”
(Iqbal, Tulip dari Sinai)

“Bila Politik menyesaki kehidupan bangsa dan kotoran,
maka sastralah yang mampu membersihkannya”
(John F. Kennedy)

I
Tri Ramidjo, Lahir di Grabag Mutihan, Kutoardjo Jawa Tengah, 27 Pebruari 1926. Di Zaman pendudukan Jepang mengikuti Sekolah Latihan Perwira AD dan lulus terbaik. Pada tahun 1948-1949 pernah menjadi penarik becak sambil belajar sendiri hingga lulus SMP dan SMA. Pernah belajar tentang ekonomi di Jepang, lulusan Fakultas Ekonomi dari Universitas Waseda, Tokyo, angkatan 1962-1967. Pekerjaan yang terberat adalah bekerja di “Proyek Kemanusiaan” — Soeharto Orba — di pulau Buru sebagai petani paksa kalau tidak mau dikatakan sebagai “Tapol”, ia adalah “korban” dari perjuangan kemerdekaan orang tuanya, dan orang tuanya adalah “korban” dari perjuangan ideologisnya. Ia taat beragama, —sebagaimana masyarakat muslim Digul—, tetapi mereka te…

Imanku Tertelungkup di Kakinya

(Catatan Kecil Kumpulan Cerpen Mahmud Jauhari Ali)
Hamberan Syahbana
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Saya baru saja membaca sebuah kumpulan cerpen karya Mahmud Jauhari Ali yang berjudul Imanku Tertelungkup di Kakinya. Kumpulan cerpen ini terbit edisi cetakan pertama April 2010 oleh Penerbit Araska Publisher Yogyakarta 2010. Sebuah buku kecil dengan disain cover yang indah menawan oleh N. Anjala dan editor Wiwik Indayani S.Pd. Buku ini juga di komentari oleh Arsyad Indradi salah seorang Sastrawan/Penyair Nasional yang berdomisili di Banjarbaru Kalimantan Selatan, Agus R. Sarjono anggota Dewan Redaksi Majalah sastra Horison, Dimas Arika Mihardja (Prof. Dr. Sudaryono, M.Pd) dosen Bahasa dan Sastra Universitas Jambi, Tajuddin Noor Ganie sastrawan dan Pemimpin Pusat Pengkajian Masalah Sastra Kalimantan Selatan, dan Hamberan Syahbana.

Seperti biasa, cerpen-cerpen karya Mahmud begitu tenang tapi tetap mengharukan penuh greget dan menggugah nurani. Gaya menulis yang terbiasa dengan apik dan sa…

Film Perempuan dan Rezim Konsumsi

Bandung Mawardi
http://www.suaramerdeka.com/

KETAKJUBAN dunia terhadap film membuka pelbagai kemungkinan menjadikan film ruang permainan ideologis. Kronik film abad XX jadi penanda pergulatan ideologis untuk mencari pengesahan dan penampikan.

Film-film mutakhir pun eksplisit jadi etalase untuk memicu hasrat konsumsi perempuan. Film menjelma iklan panjang memikat karena bertaburan artis, benda konsumtif, dan ekstase cerita. Perempuan menonton film mirip prosedur pengesahan diri sebagai makhluk konsumen.

Film Sex and the City mencatatkan diri sebagai film fenomenal dengan aroma keperempuanan. Artis-artis top tampil dalam kisah kemodernan untuk “mengajarkan” pada dunia tentang laju feminisme Barat. Film dijadikan juru bicara untuk kronik feminisme dalam taburan nilai dan proyek global. Film itu menyapa dengan godaan konsumtif. Penonton pun terpana pada busana, kosmetik, aksesori, atau sepatu. Artis mengubah diri jadi etalase untuk memikat perempuan mengonsumsi pelbagai hal dengan embel-embel…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]