Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Puisi Imron Tohari, Denny Mizhar, Muhajir Arifin

http://www.sastra-indonesia.com/
JERAMI
Imron Tohari

Aku cemburu
Bagaimana bisa kau seperti itu
Tabah dalam sakitmu
Harum dalam lukamu

Sebelum garing tubuhmu ditetak
kau tompang bulir-bulir padi merunduk
dan bersama angin, meliuk
mengiringi senyum-senyum yang
asyik bercengkrama di pematang

Engkaulah sebenar-benarnya pecinta
dengan lembut berkata-kata
“Jangan bakar aku
jangan bakar aku
tak ingin asapku koyak moyak jumantara*)
dan lalu meniadakan tawa penggembala
di kala masa”

Jikalau lalu akhirnya awan memecah derai
pergantian hari membusukkan raga
jerami. Adalah darma pecinta
membuat benih jamur tumbuh dari tubuh yang luka

Wahai Sang Pembuat Cinta
yang meniupkan nafas-nafas kehidupan
Dari rahim-rahim tanah yang liat

: Tidaklah hamba seketika akan jadi jerami
kecuali pada angin hamba menitip
abjad-abjad yang tersusun dari air mata
serupa mantra

“Tuhan. Dengan panasnya tungku asmara
hati ini
bila mulai mengeras tempa menjadi lembut
bila mulai beku bakar menjadi hangat
dan jadikan putih— bila mulai karat”

Duhai, wahai, Sa…

Berkesenian dari Pinggiran

Ilham khoiri, Dahono Fitrianto
http://cetak.kompas.com/

Geliat seni modern di Indramayu, Jawa Barat, mungkin bisa mewakili gambaran susahnya berkesenian dari daerah pinggiran. Para seniman di kawasan pantai utara Jawa ini gamang: belum kukuh mengolah kekuatan lokal, tetapi juga sulit mengikuti dinamika seni kontemporer. Bagaimana usaha mereka mencari jati diri?

Gerimis merintik di Kota Indramayu, Kamis (26/11) siang. Sejumlah seniman berkumpul di Panti Budaya, gedung pertemuan bersahaja yang disulap jadi ruang seni, sanggar tari, sekaligus markas Dewan Kesenian Indramayu (DKI). Beberapa orang sibuk berlatih menari, sebagian bermain musik, beberapa lagi asyik berbincang.

”Kami sering berkumpul di sini untuk sekadar ngobrol atau mengurus kegiatan seni,” kata Syayidin (43), pelukis sekaligus Ketua DKI. Dua pelukis muda lain, Abdul Gani alias Adung dan Abdul Aziz, ikut menemani.

Lulusan Jurusan Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1992 itu bercerita, ada 15-an pelukis di situ y…

Langit Ketiga Puluh Tiga

Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

Ketika bunga padma mekar, itulah saat baginya untuk pergi mencari jalan menuju langit ketiga puluh tiga, sam sip sam thian 1). Hanya di kala bunga padma mekarlah, ia dapat menemukan jalan itu. Sebagaimana yang selalu dikatakan pamannya yang tua. Mengapa, pamannya juga tidak mengerti. Karena memang begitulah petunjuk yang terdapat dalam Kitab Thung Su 2) yang tak dapat ditawar-tawar, tukas pamannya.

Tetapi kini, di sebuah tebing tinggi, ia terpaksa berhenti sejenak. Dia tengadahkan wajah ke langit. Mencoba mencari posisi matahari. Sia-sia. Langit begitu muram dengan awan hitam tebal yang bergumpalgumpal. Karena itu untuk mengetahui waktu yang tepat pun sulit baginya. Padahal ia harus segera menuju ke timur, ke arah matahari terbit. Arah mana orang-orang selalu menghadap dengan tiga batang hio di depan dada saat memanjatkan doa. Karena arah itulah yang telah diberitahu oleh seekor burung kundul tanpa bulu ekor yang dilihat di tepi hutan kare…

Puisi-Puisi Satmoko Budi Santoso

http://sastrakarta.multiply.com/
MATA MALAMKU, 1

mata malamku membiru
terpagut neon, lampion dan portal
yang menjulang di kota-kota

mata malamku disergap maut
berkelebat di antara bayang-bayang hitam
menggigil di pinggiran trotoar

mata malamku mengaduh
mengingat cabikan taji angka-angka
beban almanak atas usia

mata malamku memicing
menerka kesempatan yang lewat
sebelum siang terjagalkan kepastian

Yogyakarta, 2006



MATA MALAMKU, 2

kita ingat: bangku panjang di alun-alun
yang telah diduduki sepasang pengantin (yang belum terakadkan)
“jangan lupa pada pacar lama
undanglah semau ia,” ucap salah seorang
melintas di belakang bangku panjang itu
pergi, menjejak sisa tapak-tapak kaki
agar alpa maksud hati

Yogyakarta, 2006



KUNANG-KUNANG, 1

sebagai kunang-kunang aku melintas
pada mata malammu terseok di antara lampion
yang menggigil digampar hujan

sebagai kunang-kunang aku berserah
mungkin masih ada tempat istirah
dari rindu-dendam kampung halaman
tempat hamparan sawah resah dibajak

Yogyakarta, 2006



KUNANG-KUNANG, 2

kuingat kunan…

Facebook dan Sastra Kita

Panda MT Siallagan
http://www.hariansumutpos.com/

Sastra Indonesia mutakhir diwarnai beragam defenisi dan polemik yang menyertai perjalanannya. Pernah menghangat perdebatan tentang sastra kontekstual versus sastra universal di era 80-an, lalu belakangan menyusul sejumlah polemik tentang sastra buku, sastra majalah, sastra koran, sastra saiber, sastra komunitas dan terakhir sastra facebook.

Maka bicara tentang sastra Indonesia mutakhir, sungguh tak lagi mudah. Kita telah menemukan sejumlah karya sastra multimedia, yang lahir dari hati dan pikiran para blogger dan kini merebak liar fenomena facebook. Sejak munculnya situs sastra www.cybersastra.net beberapa tahun lalu, aliran dan gerak kreativitas kesusasteraan di jejaring maya ini terus menderas. Dan secara objektif, para blogger dan facebooker itupun sudah banyak lahir jadi penulis di koran-koran. Inilah sastra kontemporer kita paling objektif. Banyak karya yang bertaburan di ranah maya itu terkadang justru mengalahkan kualitas karya-kar…

Sajak-Sajak Saut Situmorang

http://sautsitumorang.wordpress.com/
27 Mei 2006

aku kehilangan jalan pulang kepadaMu, kekasihku

tikungan jalan dan batu kerikil
yang selalu menyapaku
dengan hangat matahari tropik sore itu
sudah tak ada di tempatnya yang dulu.
begitupun rumah rumah batu sederhana
dan gang kecil berlobang
yang membawaku
ke gairah matamu
yang selalu menunggu
di anak kunci pintu.
anak anak masih ribut
main layangan,
perkutut dan cicakrawa
masih saling tukar nyanyian
tentang kampung halaman

yang hilang dari ingatan…

aku kehilangan jalan pulang kepadamu, kekasihku
dan cuma mampu berdiri
termangu
berusaha membayangkan
senyummu

harum tubuhMu pun hilang
dicuri bumi di subuh khianat itu!

Jogja, 21 Juli 2006



bantul mon amour

di antara reruntuhan
tembok tembok rumah, di ujung
malam yang hampir sudah, kita hanyut
dipacu selingkuh kata kata, seperti bulan
yang melayari tepi purnama di atas kepala. rambut kita
menari sepi di angin perbukitan
yang menyimpan sisa amis darah
& airmata.
lalu laut menyapa
dengan pasir pantai & cemburu
matahari pagi…

Bumi Kesunyian ”Arco Etrusco”

Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/

Puisi memang tidak bisa dikekang. Puisi ”Arco Etrusco” (antologi puisi Di Atas Umbria, 1999:7-8) dari Acep Zamzam Noor menunjukkan perilaku itu. Sebuah puisi tentang sunyi. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan terakhir (2001) mendefinisikan ”sunyi” sebagai tidak ada bunyi atau suara, tidak ada orang, dan tidak banyak transaksi. Sunyi, suatu kondisi dan situasi yang mirip dengan lengang, hening, senyap, dan sepi. Tetapi puisi Acep tampaknya melampaui artian kamus, melampaui pemahaman publik, dan memilih pemahaman yang amat pelik: sunyi bukan lagi lengang.

Dari mana asalnya sunyi? Ke mana sunyi bertempat tinggal? Bait pertama puisi ”Arco Etrusco”: Kesunyian kita, dibangun dari tumpukan batu dan terowongan-terowongan gelap, lengkung-lengkung tiang dan menara katedral. Kesunyian kita, berlumut pada tembok-tembok dan menjadi undak-undakan waktu yang terus menanjak. Puisi ”Arco Etrusco” telah melampaui konsensus istilah.

Sunyi dipahami bisa terjadi d…

Masih Dihuni Muka Lama

Risang Anom Pujayanto
http://www.surabayapost.co.id/

”Sebagian besar sastrawan Surabaya dihasilkan dari lomba baca puisi, tapi lomba baca puisi 2009 kemarin seperti tidak ada yang bisa diharapkan untuk memunculkan nama baru di kancah kesusastraan daerah maupun nasional,” kata Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Sabrot D Malioboro saat memberikan sambutannya di acara Malam Sastra Surabaya (Malsasa) 2009, di pendapa Taman Budaya-Jatim (29/12). Malsasa 2009 diharapkan dapat kembali memotivasi geliat kesusastraan Surabaya ke depan, lanjutnya.

Seperti Malsasa 2007 yang bertajuk ’Surabaya 714’, Malsasa 2009 juga menggelarpentaskan puisi dan geguritan. Hanya saja cerita pendek (cerpen) atau cerita cekak (cerkak) tidak kembali ditampilkan. Ini bukan menjadi masalah karena konsep awal Malsasa yang dilakukan sejak tahun 1989 memang adalah sekumpulan penyair untuk turut berpartisipasi merayakan hari jadi kota pahlawan. Dengan versi khas penyair, mereka menulis dan membacakan puisi.

Khusus Malsasa 2…

Sajak-Sajak Sabrank Suparno

GARUDA MAJAPAHIT

Kepada para perintis, pendiri republik ini
Maha Patih Gajah Mada
Aku ingin menziarahimu sejenak untuk sekedar pelepas rindu atau bertegur sapa
Sebab surat sumpah serapahmu yang kau kumandangkan
beratus-ratus tahun silam, tak kunjung kami baca.

Maha Patih Gajah Mada
Saat kau bertengger di singgasana tahta
Jawa-Nusantara mercusuar di dua pertiga belahan dunia

Kaulah garuda raksasa itu
Serak koarmu menggelegar
Kepakan sayapmu lebar
Jarahan terbangmu jauh tuk lintasi seribu benua dan berjuta pulau
Akomodasi daya tatapan mata tajam incar mangsa buruan
Perawakanmu kekar dan bulu-bulu yang sangar
Kaki kuku-kukumu cakar cengkeram erat menjerat

Datanglah gerombolan bandit berambut pirang
Mula-mula! mereka ngasak dan ngemis di negerimu ini
Kemudian kesengsem dengan kemolekan dan kekayaan ibu pertiwi

Maha Patih Gajah Mada
Ibu pertiwi sang kekasih belahan jiwa kemudian dirayu deiperkosa
Harta, kecantikannya di embat habis-habisan untuk
Mempermolek istri mereka di seberang sana

Bukan sekedar jatuh te…

Kritik Sastra dan Alienasi Kaum Akademisi

Fahrudin Nasrulloh*
http://www.surabayapost.co.id/

Seperti apakah perkembangan sastra mutakhir Jawa Timur? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab dalam satu penyoalan tapi justru dari sanalah kita bisa terus berupaya menggalinya dari berbagai perspektif. Perkembangan sastra di Indonesia boleh dikatakan sangat kuat dan menggembirakan. Munculnya berbagai jenis-bentuk dan genre sastra dalam dekade terakhir ini memperkaya khasanah sastra kita; melalui beragam perspektif dari hasil riset mereka di dalam kehidupan dan perkembangan persoalan di wilayah perkotaan yang memunculkan karya-karya yang dapat diandalkan dan mampu mengisi perbendaharaan rohani. Secara khusus misalnya, munculnya para penulis perempuan yang menguakkan diri mereka ke dalam masyarakat melalui novel, cerpen, dan puisi yang nampak seiring dengan tema-teman feminisme yang juga disorot dengan berbagai perspektif lain.

Begitu pula dengan para penulis lainnya yang berusaha untuk lebih memperkaya sastra melalui sejarah lokal melahir…

Mitos Panji dalam Bingkai Puisi Payung Hitam

S. Jai*)
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

EMPAT aktor—seorang diantaranya perempuan—di atas panggung memitoskan sebentuk orang-orangan yang mengenakan sarung dan raut wajah tertutup topeng warna putih. Pada leher sebatang manusia yang digantung di ujung bambu persis di tengah panggung itu juga menjuntai selendang putih bersih.

Empat aktor itu khidmad memuja yang dilanjutkan dengan menyeka kulit tubuhnya sendiri dengan air, lalu menghentakkan kaki pada tanah dan sepanjang pertunjukkan actor-aktor bermain dalam bias cahaya api dari lilin di panggung bagian depan.

Aktor terus bermain dengan keseluruhan gesture dan idiom tubuhnya. Sesekali dua kali muncul tubuh aktor lain berperawakan sangat tinggi, aneh, berkaki palsu, berkepala warna merah, berdahi super besar, berjubah. Ia lebih menyerupai makluk angkasa luar dalam film-film Alien. Begitu aneh jelas itu bukan melukiskan tubuh manusia, mungkin tubuh setan atau sejenisnya yang dimainkan oleh manusia berlaku kekanak-kanakkan.

Itulah pertunjukk…

VOTUM SANG PENYAIR: Pemikiran dan Pemberontakan Octavio Paz

Imamuddin SA
sastra-indonesia.com

Saya bukan mempengaruhi dan bukan mendoktrin siapapun. Saat ini cobalah alihkan segala bentuk imajinasi dan logika pada satu arah sudut pandang yaitu kesusastraan. Sastra merupakan satu bentuk perwujudan agung dan suci yang terpancar dari kedalaman pribadi seorang manusia. Ia menjelma dalam hidup dan kehidupan sebagai cahaya kejujuran yang memancarkan sinar kemalanya yang berbinar-binar. Ini tak pandang bentuk dan tampilanya.

Sajak-Sajak Saut Situmorang

http://sautsitumorang.wordpress.com/
sajak

bunga gugur, manusia mati, langit dan bumi memang tak punya perasaan.

tapi apalah perasaan! cuma gerimis di bumi, jatuh dari langit. kadang kau terperangkap di dalamnya, waktu menunggu bis kota terakhir sebelum senja tiba.

kesedihan kursi kursi kosong di bar ini seperti membawa masuk sepi jalanan malam kota di luar, membuat lagu penyanyi reggae itu seperti tangis duka imigran terdampar di negeri yang tak kenal bahasa ibunya. gadis gadis bar sibuk dengan lipstick dan tubuhnya, menanti para petualang malam yang bakal turun dari neon neon langit malam, menjanjikan cinta duri mawar merah. begitulah gumam sebotol bir kosong di meja di depanku.

aku sedang dipermainkan sepi dan hujan bulan Februari di tengah kota Jakarta yang kehilangan derai tawa gadis gadis manis dari utara. suara hujan di atap hotel dan kipas angin yang bersikeras mengusir nyamuk dan pengap kamar menambah kelam sunyi yang memberat di kusut rambut dan sprei kasur bekas tamu entah semal…

Syarah Kitab Para Malaikat

Untuk Sebuah nama: Sonia Scientia Sacra

Robin Al Kautsar
http://www.sastra-indonesia.com/

I
Penyair memberi judul sebuah puisinya (antologi puisi?) dengan memunggah kata Kitab. Salah satu kata yang memiliki bentangan makna yang cukup lebar. Kitab bernuansa sebagai kitab suci, kitab keagamaan, kitab wejangan / pedoman hidup yang harus disikapi takzim (walau belum pernah membacanya sekalipun) karena isinya menunjukkan kesucian dan kebesaran yang harus diperjuangkan dan kita tuju. Sementara di sisi lain ada sebuah kitab yang tidak kalah serius, seperti Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), namun sering dicibir orang dengan “Kasih Uang Habis Perkara.”

Judul Kitab Para Malaikat sering menggoda saya untuk menghubungkan dengan Al-Kitab Perjanjian Lama yang di dalamnya memuat judul-judul: Kitab Hakim-Hakim, Kitab Para Raja, Kitab Para Pengkhotbah. Tetapi tidak sampai di situ, Kitab Para Malaikat juga memiliki bagian yang bernama Surat Kepada Gerilyawan yang ditulis oleh orang lain, sama seperti…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]