Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

Ladang Terbakar

Raudal Tanjung Banua
http://www.kr.co.id/

APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini ratusan batang anak karet kembali ditanam: di tengahnya pondok itu tegak berjaga.

Apalagi? Sekarang, tak ada yang perlu dirisaukan, kata sebuah lagu yang Sombiang simak diam-diam dari radio transistor yang tergantung di paku dinding, nyaris nyerocos seharian. Pada malam tertentu biasanya ada acara pantun kasmaran asuhan Saad Toyib dan Kario-dua pasangan pengasuh yang pas; satu gaek, satu muda; satu takzim yang lain kocak. Itulah yang menemani Sombiang selama ini di ladang dalam hari-hari yang panjang (ah, siapa bilang tak ada risau?). Kadang S…

Badut Ulang Tahun

Haris del Hakim
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Basuki ingin istirahat dari pekerjaannya sebagai anggota dewan wakil rakyat. Dia jemu dengan kerja rapat setiap hari. Lagipula, sebentar lagi adalah pemilihan presiden yang akan menguras banyak tenaga dan pikiran. Karena itu, dia minta izin cuti seminggu.

Selama masa cuti Basuki berniat membantu istrinya yang bekerja sebagai penyedia jasa badut ulang tahun. Dia ingin lain dari kebiasaan teman-temannya sesama anggota dewan. Mereka cuti dari kewajiban dengan pergi ke luar negeri atau tempat-tempat wisata daerah lain dengan alasan studi banding, investigasi, dan lain-lain yang dianggap logis. Basuki selalu menolak bila diajak serta dalam kegiatan seperti itu dan mengembalikan tunjangan untuknya. Sehingga, di kalangan teman-temannya Basuki dikenal sebagai orang yang jujur dan lugu.

Istri dan keluarga Basuki sangat senang. Mereka merasakan lagi kebersamaan sebagai keluarga yang dilindas oleh kesibukan Basuki. Istri Basuki lebih senang …

MENIMBANG SPIRIT LUDRUK

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/
Surabaya Post/15 Maret 2009

MENYAKSIKAN tiap bentuk pertunjukkan, seringkali kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan—apa pesan yang dituturkan pertunjukan tadi? Menghadirkan pesan dan menghidupkan kesan tampaknya hingga kini terus dijadikan pergulatan dalam tradisi tutur kita—dan barangkali bermula dari sini pulalah cikalbakal kesulitan akan berkembangnya seni tradisi kita.

Tradisi Tutur seperti jadi bulan-bulanan sebagai korban yang menyebabkan seni tradisional berpotensi mati—kalaupun ada tak lebih hanya nostalgia yang fatalnya cukup laris dijual di pasar pariwisata bagi orang yang sebetulnya tengah kebingungan mencari dirinya sendiri berada di tengah hirukpikuk zaman.

Lantas apakah pesan dan kesan itu penting dan tepat diwujudkan dengan kosakata sebagai barang mahal? Memperjuangkan—bukan berarti membela mati-matian—tradisi seni tutur kita boleh dikata diawali dari berpegang pada pentingnya pesan dan kesan tersebut sebagai kunci. Karena tradisi tutu…

Menampik Rasa Jengah Terhadap Bangsa

Judul Buku : Kagum Pada Orang Indonesia
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress– Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2008
Tebal : 56 Halaman
Peresensi : Liza Wahyuninto
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/Hukum tak tegak, doyong berderak-derak/Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak/Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza/Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia/Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata/Dan kubenamkan topi baret di kepala/Malu aku jadi orang Indonesia.

Potongan puisi “Malu (Aku) jadi orang Indonesia” yang ditulis oleh Taufiq Ismail pada tahun 1998 di atas menunjukkan betapa kekaguman terhadap bangsa ini telah lama pudar bahkan perlahan sirna. Ada rasa malu mengakui bahwa bangsa Indonesia sebenarnya pun patut untuk dikagumi. Bahwa di balik kebobrokan yang ditampilkan oleh Taufiq Ismail dalam puisinya tersebut, masih ada ruang untuk memberikan …

Solilokui Hidup Serampangan

A. Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Bukan sebuah kebetulan bila Ponari —dukun cilik asal Jombang— berkat batu ajaib yang ia temukan, konon, mampu mengobati beragam penyakit. Dan konon pula Ponari adalah bocah yang gemar bermain di musim hujan, hingga petir menyambarnya sekaligus mengganjar Ponari dengan batu ajaib. Kini, masyarakat pun dibikin geger berduyun-duyun menyambangi rumah Ponari.

Ponari mendadak menjadi sang fenomenal. Media cetak maupun elektronik berebut melansir ketenaran sang dukun cilik itu. Yang menarik dari fenomena Ponarisme adalah ekspektasi masyarakat jamak ditengarai terancam solilokui (amal kesepian hidup yang berlarat) hingga berebut berobat kepada Ponari dengan biaya murah demi kesembuhan penyakitnya.

Saat ini masyarakat kita bisa dikata bergaya hidup serampangan. Rasionalitas telah menjadi mitos. Rasio masyarakat terjebak mempercayai bahwa batu ajaib Ponari bila dicelupkan ke air bisa bikin sembuh segala penyakit. Rasio medis lambat laun terkubur …

RELIGIUITAS SANG PRIYAYI

Judul Buku: Serasi Denyutan Puri
Pengarang: Suryanto Sastroatmodjo
Penerbit: Pustaka Pujangga
Tebal Buku: 60 hlm; 13 x 20, 5 cm
Peresensi: Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Religiuitas dewasa ini haruslah dinomorsatukan. Seorang anak manusia hauruslah senantiasa kembali pada hakekata religius yang sebenarnya. Bukan religius asal-asalan. Dan bukan religius kelembagaan semata. Melainkan religius yang mencerminkan pengagungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengagungan yang bukan sekadar kembang bualan. Namun berslimutkan dalam tangan perjalanan. Biar realitas kehidupan mengalami penurunan intensitas kecarut-marutannya.

Bentuk pengagungan itu dapat dilakukan dengan jalan mematuhi segala perintah Tuhan serta meninggalkan segala larangan-Nya. Dalam hal ini adalah ingat kepada Tuhan dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Baik bumi sebagai makro kosmos maupun mikro kosmos.

Pada dasarnya, segala kerusakan yang berada pada makro kosmos itu bersumber pada kerusakan mikro kosmosny…

Main-Main, tapi kok Serius

Arif Zulkifli
http://majalah.tempointeraktif.com/

Renny merayakan ulang tahunnya dengan mementaskan Tumirah Sang Mucikari. Sebuah naskah kritik sosial dalam teater yang digarap dengan kurang bermain-main.
Tumirah Sang Mucikari
Sutradara : Renny Djajoesman
Skenario : Seno Gumira Ajidarma
Penata Musik: Fariz R.M.
Pemain : Renny Djajoesman, Budi Setiono, Ria Probo, Andi Bersama
Produksi : Teater Yuka

“Tumirah namaku. Germo pekerjaanku. Sudah tua aku sebenarnya. Empat puluh tahun…. Dan aku sudah pensiun sejak beberapa tahun lalu…. Tidak ada lagi yang bisa kukerjakan sekarang selain jadi germo…. Yeah. Dunia selalu membutuhkan pelacur. Profesi yang tertua, kata orang. Aku bukan ahli sejarah, tapi aku setuju, selama manusia lahir masih dengan alat kelamin, pelacuran akan tetap ada.”

PANGGUNG gelap. Cahaya masuk remang-remang. Tumirah, sang muncikari, berkumpul dengan pelacur-pelacur anak asuhnya di sebuah rumah bordil di pinggir hutan. Ornamen panggung yang warna-warni tapi suram menunjukkan sebuah du…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]