Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Musik sebagai Bahasa Universal

Purnawan Andra*
http://www.lampungpost.com/

SIAPA yang lupa lagu Imagine karya John Lennon? Lagu itu selalu menjadi soundtrack penayangan berita kekerasan di televisi seperti perang.

Dekade 80-an, Michael Jackson bersama banyak musisi kulit hitam menyanyikan We are the World untuk merespons kelaparan dan politik apartheid di Afrika Selatan.

Festival Glastonburry di Inggris, Woodstock di Amerika Serikat, LiveAids Festival adalah contoh beberapa festival musik yang selalu mengusung isu-isu mutakhir dunia seperti masalah lingkungan, kesehatan atau politik.

Bruce Springsteen dan Bono (U2) adalah contoh penyanyi yang mengkritisi kondisi politik dunia lewat lirik lagu-lagunya. Dengan lagu, mereka bersuara dan mampu berdialog sejajar dengan para pemimpin dunia.

Kesenian dalam masyarakat memang mempunyai posisi, fungsi, dan pemaknaan yang lekat dengan kebutuhan akan estetika, etika, spiritualitas, identifikasi, komunalitas juga ekonomi. Kekayaan multidimensi yang dimiliki seni termasuk musik sesung…

'Perempuan Berkalung Sorban' dalam Diskursus

Rahmat Sudirman, Wiwik Hastuti
http://www.lampungpost.com/

BERAWAL dari pergulatan fiktif putri kiai salafiah Jawa Timur, pro-kontra itu datang. Lika-liku Anissa yang hidup dalam tradisi patriarki pesantren Jawa Timur membuka kembali diskursus lawas tentang subordinat perempuan di negeri ini. Film Perempuan Berkalung Sorban besutan Hanung Bramantyo pun jadi sorotan.

Film yang dibintangi Revalina S. Temat (Anissa), Oka Antara (Khudori), dan Joshua Pandelaky (Kiai Hanan)--diperkuat artis senior Widyawati dan Ida Leman--ini mengadopsi novel Perempuan Berkalung Sorban karya sastrawan kelahiran Jombang, Jawa Timur, Abidah El Khalieqy.

Dalam tayangan berdurasi 120 menit itu, dikisahkan sosok Anissa sebagai putri kiai yang bergulat dengan perannya sebagai seorang ibu dan istri. Anissa hidup di lingkungan keluarga kiai di pesantren salafiah putri Al Huda, Jawa Timur. Bertahun-tahun ia hidup dalam alam pikir (world view) salafiah. Kosmologinya menyatakan kemodernan adalah menyimpang.

Tradisi yang d…

Ketika Sandal Dimerdekakan

Membaca Sajak-Sajak Okky Sanjaya

Budi P. Hatees
http://www.lampungpost.com/

Sandal bisa menjadi apa saja yang pembaca inginkan. Okky Sanjaya memanfaatkan kekuasaan akan kemerdekaan personal untuk membebaskan sandal dari kungkungan makna.

SANDAL di tangan kapitalis bermetamorfosis; metamorfosis yang mirip idiom sandal dalam sejumlah sajak dalam manuskrip Belajar Memasak Sajak. Manuskrip ini berisi sajak-sajak Okky Sanjaya yang muncul di sejumlah media cetak di Lampung maupun luar provinsi; lahir dari proses panjang kepenyairannya sejak masih di SMA.

Metamorfosis sandal dalam sajak Okky bukan pada wilayah medan makna idiomatik, melainkan ranah pribadi. Okky memanfaatkan kekuasaan akan kemerdekaan personal untuk membebaskan sandal dari kungkungan makna. Okky membebaskan makna yang mengekang sandal dari sesuatu yang diterima sebagai alas kaki menjadi hal-hal lain di luar fungsi yang disandang sandal selama ini. Okky memberi ruang sebebas-bebasnya bagi sandal menjadi apa saja.

Sandal tak perlu m…

“Gandrung”-nya Gus Mus Jadi Teori Baru

Judul : Gandrung Cinta
Penulis : Abdul Wachid BS
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xvii + 261
Peresensi: Arif Hidayat
http://www.kr.co.id/

MELALUI buku ini, kita dapat mengenal sosok A Mustofa Bisri yang sebenarnya. Selain sebagai ulama besar di Indonesia, Mustofa Bisri (Gus Mus, panggilan akrabnya) juga dikenal sebagai penyair yang ternama dalam ranah kesusastraan Indonesia. Hal itu terbukti dengan telah diterbitkannya tujuh buku puisi, salah satunya yaitu sajak-sajak cinta Gandrung, yang kemudian dibedah kandungan makna serta paradigma berpikirnya oleh Abdul Wachid BS.

Puisi-puisi Gus Mus dalam sajak-sajak cinta Gandrung adalah ekspresi Gus Mus mengenai cinta. Namun cinta tersebut bukanlah cinta antara manusia dengan manusia, melainkan ekspresi cintanya dengan Tuhan. Abdul Wachid BS, meyakini bahwa kandungan makna dalam sajak-sajak Gandrung berkaitan dengan etika tasawuf karena terdapat konsep cinta sebagai perwujudan dari tingkatan ruhani, yang dalam …

Kalau Evi Bahagia Dipoligami, ”Lha mbok Biarin Aja..”

Abdul Wachid BS
http://www.kr.co.id/

MEMBACA buku cerpen Mahar karya Evi Idawati, ada hal yang menjadi perhatian saya. Dari gaya penceritaan, ekspresi bahasa secara umum, cerpen Evi tidak menunjukkan kebaruan. Tidak serevolusioner cerpen Joni Ariadinata yang mendobrak struktur kalimat menjadi frase-frase demi merebut ekspresi dan aksentuasi pikiran dan peristiwa agar selaras dengan emosi peristiwa yang dibangun. Memang, kelebihan cerpen Joni membangun miniatur “dunia” dengan cara memilih peristiwa paling penting saja. Hal itu, tak ubahnya penyair melakukan pemadatan kata-kata, sedangkan cerpenis melakukan pemadatan peristiwa. Dalam cerpen Evi, saya tidak mendapatkan hal itu. Cerpen Evi tak berpretensi melakukan pembaruan ekspresi kebahasaan, ia “hanya” pencerita yang komunikatif dan “sederhana”

Namun, syarat sebagai prosa yang baik sudah meng-ada dalam cerpennya, selaras ungkapan Satyagraha Hoerip, yang terpenting dalam prosa adalah berkisah atau ceritanya, yang lain nomor dua. Cerpen Ev…

Cerita dari Zaman yang Merana

Judul buku : Senarai Batanghari
Penulis : Bunga Rampai Temu Sastrawan Indonesia
Cetakan : 1, Juli 2008
Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi
Tebal : 135 Halaman
Peresensi : Susilowati
http://www.lampungpost.com/

KETIKA sastra disebut sebagai anak kandung realitas, berarti setiap karya yang lahir tidak bisa lepas dari kondisi sosial. Hal ini tergambar pada cerita-cerita yang terkumpul dalam Senarai Batanghari. Kegelisahan pengarang dengan kegalauan zaman terungkap pada sebagian cerita.

Karentile, cerpen Joni Ariadinata yang menjadi judul keempat dalam kumpulan cerpen ini, menyuguhkan kegelisahan kaum intelektual pada realitas sosial Indonesia. Tokoh-tokohnya para intelektual yang tidak hanya piawai berdiskusi, tetapi sekaligus mereka menjadi kaum yang "diuntungkan" dengan carut-marutnya kondisi sosial yang ada. Karena dari masalah itu, ide-ide mereka untuk menulis dan berceracau terus mengalir hingga mendatangkan proyek-proyek yang menopang gaya hidup mewah mereka…

”Cemplon”: Menakik Melalui Lelucon

Donny Anggoro
http://www.sinarharapan.co.id/

Pers Indonesia sebenarnya sudah pernah memiliki bibit unggul yang menjadi gagasan Tom Wolfe sejak 1973 dalam The New Journalism. Kala itu Wolfe mengawinkan disiplin dalam jurnalisme dengan kecantikan karya sastra. Lewat Cemplon yang lahir dari tangan Umar Nur Zain aspek tersebut sudah ada, walau di dalamnya lebih terkandung humor bernuansa parodi, bukan pada kedalaman berita yang ditulis dengan berkisah. Kendati demikian, Umar sudah memilikinya pada Cemplon yang ditulis dengan gaya cerpen (yang dengan hormat kita menyebutnya sebagai sastra). ”Kolom” atau ”esai” Cemplon adalah cerpen faktual yang mampu mencerahkan dari sisi humornya yang segar, cerdas dan menakik.

Ya, inilah ”jurnalisme sastra” ala Cemplon. Ia tak menggurui laiknya kolom yang ditulis tiap Minggu (Cemplon hadir setiap hari Minggu di Sinar Harapan sejak 1979, kemudian dilanjutkan di Suara Pembaruan ketika Sinar Harapan ditutup). Ia tak menjadi kisah mengharu-biru laiknya cerita b…

Masa Lalu Ada di Sini

Maria hartiningsih
http://kompas-cetak/

Tragedi Mei di satu sisi juga membangkitkan solidaritas lintas ras, kelas, agama, dan etnis. Masa-masa itu juga merupakan kebangkitan intelektual, khususnya perempuan, untuk menolak rasisme dan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Meskipun pengungkapan mengenai kasus-kasus pemerkosaan masih tetap sulit, dan teror serta ancaman masih terus dilancarkan, banyak penulis, penyair, artis, pekerja seni, melahirkan karya- karyanya untuk mengekspresikan keprihatinan mereka dan menyelenggarakan kegiatan kebudayaan.

Ilmuwan susastra Melani Budianta mencatat, pada tahun 1999, cerpen Seno Gumira Ajidarma mengenai pemerkosaan dalam kerusuhan Mei dibacakan di banyak kampus di berbagai kota di Jawa, sebagai bagian dari upaya membangkitkan kesadaran melawan rasialisme dan kekerasan terhadap perempuan.

Pada bulan Juli tahun 1999, para seniman teater menyelenggarakan diskusi publik pertama di Taman Ismail Marzuki Jakarta dengan topik China di Indonesia.

Diskusi y…

Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor

http://www.korantempo.com/
KEKUASAAN

Ketika namamu meresap ke dalam pori-pori
Aku merasa aliran darah seolah terhenti
Udara bergetar bukan karena menjauhnya ufuk pagi
Tapi karena langit mempertontonkan kemolekan senja
Di celah payudara. Ketika suaramu mengaliri urat-urat nadi
Aku mendengar pulau-pulau di tenggara beranjak pergi
Lalu ketika napasmu memompa setiap degup jantung
Perahu-perahu tenggelam di tengah laut, gelombang pasang
Menghempas daratan dan angin puting beliung menghantam
Pegunungan. Bumi berantakan bukan karena api cemburu
Tapi karena cinta tengah memamerkan kekuasaannya pada kita



SUARAKU

Suaraku hanyalah gema dari sepi yang sumbernya berada jauh
Di dalam dada. Gaung yang memantul dari luka parah di lubuk hati
Yang perihnya terasa hingga ke ujung kaki. Sepiku memerlukan suara
Untuk sekedar bernyanyi dan lukaku membutuhkan bunyi agar bisa
Menyatakan diri. Ketika daun-daun jatuh dan langkahmu menjauh
Terasa ada yang berlabuh diam-diam di pipi. Kuraba paras bumi
Udara bagaikan embun yang peca…

Babi dalam Dompet

A Rodhi Murtadho
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dompet lengket di saku celana. Babi terus mendengkur. Paijan terus berjalan dari rumah ke rumah. Sales. Bukan kerja yang sembarangan. Tak semua orang bisa menekuni profesi ini. Paling tidak harus punya mulut yang kuat bicara. Lidah yang pandai bersilat. Tatapan mata meyakinkan. Bau badan tidak kecut. Baju rapi. Sepatu mengkilat. Senyum menawan dengan gigi putih dan bau nafas tidak apek. Potongan klimis biasanya ikut mendukung.

Setiap kali Paijan mengetuk pintu, dia harus memegang erat dompetnya. Setiap ketukan mengakibatkan dengkur yang keras Babi yang ada di dompet. Kalau sampai tiga kali lebih ketukan, biasanya Babi itu berusaha meloncat keluar. Menggedor pintu dan menyeruduknya hingga jebol.

“Selamat siang, Bu!” ucap Paijan lembut.

“Siang, ada apa ya?” sahut Salamah, Ibu rumah tangga. Leher, tangan, dan kaki berkilatan penuh dengan emas. Biar paras tak begitu lembut tapi kilau benda yang ada di tubuhnya membuat para lelaki berp…

Perjalanan Panjang nan Sejenak

Judul Buku : Kitab Para Malaikat
Pengarang : Nurel Javissyarqi
Pengantar : Maman S. Mahayana
Epilog : Herry Lamongan
Jenis Buku : Antologi Puisi Tunggal
Penerbit : PUstaka puJAngga
Tebal Buku : x+130hlm;15,5x23,5cm
Peresensi : Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Hidup di dunia ini merupakan sebuah rangkaian perjalanan panjang namun sejenak. Dikatakan panjang sebab kehidupan manusia di dalamnya harus melalui beberapa fase. Secara fisikal, dimulai dari fase pembentukan jasad. Kelahiran dalam wujud balita. Kanak-kanak. Dewasa. Tua. Lanjut usia. Lantas tiada. Belum lagi perjalanan secara ruhaniah. Yaitu yang dimulai dari tataran syariat, hakikat, ma’rifat, serta fase penyatuan. Kesemuanya itu merupakan sebuah proses pencarian kesempurnaan dan jati diri kemanusiaanya. Dan rentang waktu antara fase satu ke fase yang lain itu cukuplah lama. Berpuluh-puluh tahun.

Dikatakan sejenak sebab dunia ini fana yang bersifat tidak kekal. Begitu juga dengan manusianya. Secara jasadiah, manusia…

Politisasi Media Sastra

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Pluralitas media komunikasi sastra sama sekali bukan indikator dominan bagi munculnya kehebatan inovasi karya sastra dan singularitas media komunikasi sastra juga sama sekali bukan tanda adanya bencana kejumudan mutu sastra.

Pluralitas media komunikasi sastra akan memberi ruang lebih luas bagi usaha publikasi karya sastra tapi tak selalu menjamin adanya usaha eksplorasi mutu sastra yang lebih jauh dan luas. Sedangkan singularitas media komunikasi sastra kadang justru bisa menciptakan kompetisi bersastra yang liat dan mampu memunculkan maestro-maestro sastra sekaligus melahirkan para ”pecundang” sastra yang tersingkir karena tak bisa memenangi kompetisi kreatif yang ketat.

Sesungguhnya sastra tak pernah tergantung hanya pada media tertentu untuk ”mewujudkan” dirinya secara bagus sehingga sangat tak fair menciptakan anggapan adanya hierarki mutu sastra didasarkan jenis medianya. Sastra yang bagus akan tetap bagus dikomunikasikan lewat media ap…

Sajak-Sajak Fitri Yani

http://www.lampungpost.com/
Pesta Dansa

Dik, pertemuan kita ibarat pesta dansa
Penuh irama
Serupa anggur memabukkan
yang musykil dibuang setelah dituang
ke dalam gelas-gelas kesepian

Juli 2008



Seperti Batu di Jurang

Jurang itu memintaku
untuk tetap tinggal di situ
sementara langit begitu menghiba
menungguku tiba
tak pernah kulihat cahaya
hanya kelam
dan sebuah batu
aku tak begitu tahu
aku atau batu
yang lebih dulu di situ
di tempat amat dalam
lebih gelap ketimbang malam
tiba-tiba aku dikejutkan
oleh derai yang
memeluk tubuhku
ialah hujan
tempat petama kali kusimpan harapan
"pergilah, dan jadilah awan"
ujar batu kepadaku
tapi entah mengapa
aku merasa hampa
mungkin karena terbiasa
"apakah benar-benar
kau mencintai jurang ini?"
tanya hujan amat lirih
"entahlah hujan,
aku ingin sekali pergi"
"aku mencintaimu
aku ingin kau tetap di sini"
ujar jurang
mendengar pengakuanku
hujan pergi
meninggalkan genangan di kakiku
"di langit aku menunggumu"
serunya sebelum berlalu
tapi aku hanya ingi…

Estetika Puitis Nirwan

Tito Sianipar
http://www.tempointeractive.com/

Lalu dengarlah topan malam
ketika aku mengintai di sudut terjauh
ketika kau mengasah kuku
ketika kau perawankan tubuhmu
ketika bundaku menjadi bundamu
ketika kau mencuri terang dari kulitku
ketika aku mencuri gelap dari kitab-kitabmu

Puisi itu dibacakan oleh Andi Alfian Mallarangeng saat peluncuran buku himpunan puisi Jantung Lebah Ratu di Goethe Haus, Jakarta, Kamis malam lalu. Namun, puisi itu bukanlah milik Presiden Yudhoyono, tempat Mallarangeng bertindak sebagai juru bicaranya. Puisi tersebut adalah karya Nirwan Dewanto yang berjudul Harimau. "Saya sudah janji sama Nirwan, dan kebetulan saya memang bisa," tuturnya.

Selain Andi Mallarangeng, sejumlah nama besar lainnya hadir dalam acara peluncuran tersebut. Sebut saja Ketua Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir, budayawan Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, dan Djenar Maesa Ayu. Bambang Harymurti, Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk., tempat Nirwan bekerja, pun tak ketinggala…

Lidah Gatal Sang Presiden

Judul: Presiden Guyonan
Penulis: Butet Kartaredjasa, kumpulan kolom
Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta, 2008, 286 halaman
Editor: Agus Noor
Peresensi: Yusi Avianto Pareanom
http://www.ruangbaca.com/

Butet ndobos tentang segala hal. Bahasanya lumayan segar, tetapi polanya repetitif.

Sewaktu menjadi mahasiswa di Yogyakarta pada 1980-an, ada ritual hari Selasa yang saya jalani bersama kawan-kawan kuliah. Begitu pelajaran pertama selesai, kami turun ke lantai bawah untuk bergantian membaca koran Kedaulatan Rakyat yang dipajang di panel kaca. Hari itu adalah harinya Umar Kayam alias Pak Ageng. Kolomnya nyaris tidak pernah tidak segar. Oleh sebab itu, jika karena satu dan lain sebab Pak Ageng absen, biasanya karena sakit, hari Selasa jadi kurang menghibur. Bisa dibayangkan rasa kehilangan pembaca kolom itu ketika Pak Ageng akhirnya pamit untuk selamanya pada 2002.

Lima tahun kemudian, kerinduan lama itu lumayan terpupus dengan hadirnya kolom Butet Kartaredjasa di koran Suara Merdeka. …

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]