Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Pluralitas

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Soempah Pemoeda 1928 mengajak kita semua untuk satu dalam nusa, bangsa dan bahasa. Hanya dengan cara seperti itu, impian yang datang saat kebangkitan Nasional 1908 tentang sebuah Indonesia yang merdeka tercapai. Maka dari Sabang sampai ke Merauke: Jawa, Bali, Nusa Tenggara Tinur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian semua berpikir tentang sesuatu yang satu:Indonesia. Usaha utu berhasil setelah 37 tahun.

Ketika Bung Karno membentangkan dasar negara pada 1 Juni 1945, yang kemudian selalu kita peringati sebagai Hari kelahiran Panca Sila, muncul pita yang dicengkeram kaki burung garuda dalam lambang negara Panca Sila: Bhineka Tunggal Ika. Ada hal yang dulu diredam atau ditunda mulai diungkap secara terus-terang. Kita mengakui bahwa kendati satu, di Indonesia ada banyak perbedaan. Baik suku, adat-istiadat, agama dan sebagainya. Tetapi dengan semangat gotong-royong semua perbedaan itu kita yakini akan bisa hidup rukun berdampingan.

Selanjutny…

Malam Rembulan Tua

Aliela
http://www.riaupos.com/

1.
Malam rembulan tua. Rembulan yang sama dari abad lampau. Sebentuk bundar yang keemasan dengan gurat-gurat halus serupa lukisan ibu yang memeluk anaknya. Kau selalu terpesona memandangnya, berharap bayangmulah yang menghias rembulan itu, meski aku lebih terpesona ketika cahayanya menyapu lembut ruas-ruas wajahmu. Dan kau pun menjelma seribu dewi yang bercahaya. Sungguh Dinda, pemandangan saat itu merupakan mahakarya yang sempurna bagiku, sebuah lukisan hidup ciptaan Yang Maha Agung. Lalu kau pun tersipu, ketika mataku tak ingin lepas mengagumimu.

“Ah, Kanda. Jikalau sanggup Dinda terbang ke awan. Ingin rasanya Dinda mohon kepada rembulan agar sejenak meredupkan sinarnya. Supaya tak nampak wajah ini bersemu merah jambu ketika mata kita saling beradu.”

Duhai, sungai kesejukan mengalir ke seluruh aliran darahku. Hati yang membatu sekian lama mencair sudah, mencari ruang-ruang sunyi sebagai muaranya. Sebuah ruang tempat segala keindahan yang terpancar dari dir…

Perjalanan Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Dunia

Maman S Mahayana*
http://www.riaupos.com/

Jika Bahasa Melayu ditempatkan sebagai bahasa daerah, sangat mungkin para pakar bahasa (Indonesia) dan Pusat Bahasa, akan menghadapi tembok besar kegagalan. Bukankah salah satu syarat sebuah bahasa menjadi bahasa resmi PBB ditentukan oleh klaim bahwa bahasa itu telah menjadi bahasa negara, bukan bahasa daerah. Jika yang diusulkan Bahasa Melayu sebagai bahasa Nusantara, kendalanya sama saja, lantaran ia bukan sebagai bahasa negara. Jadi, yang diusulkan sebagai bahasa resmi PBB hendaklah bahasa negara, dan itu tidak lain adalah bahasa Indonesia. Pertanyaannya, apakah Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan beberapa negara ASEAN lainnya akan mendukung usulan itu?

Untuk melihat sejauh mana kemungkinan bahasa Indonesia dapat diterima sebagai bahasa resmi PBB, berikut ini akan dipaparkan argumen yang melandasinya, baik dilihat dari aspek kesejarahan, linguistik, maupun luas penyebarannya. Dalam konteks itulah, perlu kiranya kita menengok ke belakan…

Realitas Psikologis dalam Air Mata Bulan

Musa Ismail
http://www.riaupos.com/

Karya sastra berkait dengan berbagai subdisiplin ilmu lain. Selain sosiologi dan antropologi, kajian terhadap produk sastra juga tidak bisa lepas dari aspek psikologis.

Hal ini dikarenakan medium sastra, yaitu bahasa, merupakan cerminan ekspresi kejiwaan pengarang. Di sisi lain, tokoh-tokoh yang terlahir dalam karya sastra, seperti novel, akan memancarkan aspek-aspek psikis dalam interaksi kehidupan dunia sastra.

Endraswara mengatakan, bahasa dalam sastra adalah simbol psikologis. Bahasa sastra adalah bingkisan makna psikis yang dalam (2008:4)). Bagi Freud, aspek psikologi adalah alam bawah sadar, yang disadari secara samar-samar oleh individu yang bersangkutan. Ketaksadaran justru merupakan bagian yang paling besar dan paling aktif dalam diri setiap orang (lihat Endraswara, 2008:4).

Kehidupan nyata manusia tidak terpisah dari kondisi kejiwaannya. Karakter manusia dalam kehidupan nyata bisa saja memiliki kesamaan (baik kebetulan ataupun tidak) terhadap k…

Ide Indonesia

Azyumardi Azra
http://www.republika.co.id/

Indonesia bagi banyak Indonesianis asing dari dulu sampai sekarang adalah sebuah 'mukjizat' (miracle). Mengapa? Tidak lain karena bagi mereka sulit membayangkan Indonesia yang begitu luas dan jarak bentangannya sama dengan antara London dan Istanbul, bisa bertahan dalam satu kesatuan negara-bangsa.

Lihat, berapa banyak negara-bangsa yang ada di kawasan antara London dan Istanbul. Padahal, wilayah tersebut merupakan daratan yang menyatu dengan masyarakat yang relatif homogen, baik secara kultural maupun agama.

Tidak hanya itu, Indonesia adalah negara kepulauan; istilah benua maritim yang belakangan ini dipopulerkan, sementara sebenarnya tidak dapat menutupi kenyataan bahwa wilayah Indonesia sesungguhnya terpisah satu sama lain oleh lautan dan selat yang demikian banyak. Hasilnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kelompok etnis lengkap dengan sistem sosial, budaya, dan bahasanya masing-masing.

Maka itu, Indonesia adalah sebua…

Puisi, Cakram Emosi

Fariz al-Nizar*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Adalah sastra, sebuah jalan yang digadang-gadang untuk mengheningkan diri seorag selain mistisme atau tasawwuf tentunya. penyair ghalibnya banyak yang mengekspresikan kalbunya lewat goresan pena. Sajak, puisi dan juga proisi –meminjam istilahnya Emha Ainun Nadjib yang menemai tulisannya dengan terminologi tersebut yaiu persetubuhan antara prosa dan juga puisi sekaligus- dan juga syair.

Penyair atau munsyi-dalam bahasa kompas- adalah jiwa-jiwa yang selalu merasa terpanggil, sensitif terhad apa saja yang terjadi di sekelilingnya “arround them”. Ia begitu reaktif, responsif terhadap tiap cc kejolak yang terjadi baik di dalam maupun di luar dirinya. Tapi dalam hal ini reaksi serta respon merekan buka berupa aksi tapi bisa berupa novel, syair ataupun puisi.

Pada tataran ini bisa dibedakan reaksi pera penyair dalam mengahapi suatu problem dengan reaksi misalnya pemuda-pemuda organisatoris yang berafiliasi dengan organisasi yang bersifat…

Proses Kreatif Husnu Abadi

UU Hamidy
http://www.riaupos.com/

Dengan memperhatikan peristiwa (keadaan), ruang dan waktu yang menjadi medan kreatif oleh Husnu, maka kita dapat mempelajari bagaimana proses kreatif yang kira-kira telah berlangsung dalam puisi Husnu. Hasil pengamatan terhadap medan kreatif itu, dapat mencatat ada 5 langkah penting dalam proses kreatif Husnu.

Gambaran medan kreatif yang demikian memperlihatkan bahwa potensi perasaan, pikiran dan imajinaai berada dalam keadaan yang relatif berimbang dalam proses kreatif Husnu. Inilah yang membuka peluang sajak-sajak Husnu punya metafor (lambang dan kiasan) yang mudah dikenal sasarannya. Sebab lambang dan kiasan tidak banya ditampilkan sebatas imajinasi yang bisa berada di awang-awang yang menjadi permainan kata dalam puisi. Imajinasi Husnu tidak demikian. Imajinasi Husnu dipandu oleh pikiran yang memberikan renungan pada metafor. Kemudian diperhalus oleh sentuhan perasaan, sehingga metafor tampil dalam rangkai puisi dengan pesan yang cemerlang. Kenyataan…

Anak Hilang Sastra Indonesia

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

Karena berpotensi mengobarkan semangat kebangsaan, pemerintah kolonial membatasinya.

Di tengah geliat dunia sastra tanah air, Sastra Melayu Tionghoa seolah menjadi sebuah bagian yang terlupa. Nama-nama seperti Kwee Tek Hoay, Thio Tjien Boen atau Gouw Peng Liang seperti terkunci rapat dalam ruang kedap suara.

Padahal berdasarkan catatan historik peneliti Perancis, Claudine Salmon keberadaan Sastra Melayu Tionghoa sudah ada sejak tahun 1870. Jumlah karya yang dihasilkan pun cukup banyak yaitu sekitar 3005 dan melibatkan 806 penulis.

Menurut catatan kritikus sastra Prof Dr A Teeuw, jumlah karya yang dihasilkan para penulis Tionghoa tersebut jauh lebih banyak dibanding angkatan Balai Pustaka. Dalam periode setengah abad, 175 penulis angkatan Balai Pustaka "hanya" berhasil melahirkan 400 karya.

Pada 1903 Sastra Melayu Tionghoa sudah menerbitkan dua prosa berjudul : Oey Se karya Thio Tjien Boen dan Lo Fen Koei karya Gouw Peng Liang. Sementara …

Tentang Keterasingan dan Kegilaan

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Novel pertama pemenang Nobel Sastra 2008, J.M.G Le Clezio

Adam Pollo, seorang laki-laki berusia 20-an menemukan sebuah rumah kosong di sebuah pinggiran kota Prancis. Adam yang pendiam memutuskan untuk tinggal di sana. Berbulan-bulan, ia hanya ditemani kesunyian, pemikirannya, dan sebuah buku catatan tempat ia sering menulis surat yang tak pernah ia kirimkan kepada seorang perempuan bernama Michele.

Kontaknya dengan manusia lain hanya terjadi saat ia pergi berbelanja ke kota untuk mendapatkan kebutuhan sehari-harinya: rokok, roti, dan masih banyak lagi. Lama-kelamaan Adam bahkan merasa tak nyaman dengan pertemuan-pertemuannya yang teramat jarang itu. Ia berusaha menghilangkan dirinya dari kerangka penilaian-penilaian yang berlaku dalam masyarakat, dengan cara membayangkan diri sendiri menjadi seekor binatang, seekor anjing yang hidup di sekitar rumah kosong yang ditempatinya, atau tikus-tikus di rumah kosong itu.

Identitas Adam sendiri adalah sesuatu ya…

Skizofrenia pada Gejala Estetik Puisi

Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/

Puisi Indonesia, kiranya, tidak pernah selesai mencari bentuk-bentuk operasional bahasa. Setelah sukses dalam kemendayuan pada Pujangga Baru, ketajaman dan efektivitas dalam Chairil—diteruskan oleh Subagio, Sapardi, dan Goenawan—kini ada gejala bahasa yang tidak pernah ditemukan dalam bahasa puisi sebelumnya. Ialah konstruksi bahasa skizofrenia. Apakah telah tercipta bahasa estetik puisi skizofrenia? Bagaimanakah operasional estetik teks puisi skizofrenia?

1

Istilah skizofrenia berasal dari psikoanalisis Freud. Istilah ini digunakan untuk menyebut penyakit yang ditandai dengan terpecahnya identitas kepribadian, tampak antara lain dalam ketidaksesuaian antara fungsi-fungsi intelektual dan fungsi-fungsi afektif. Penderita skizofrenia yang belum parah, dalam batasan tertentu, masih dapat berinteraksi dengan masyarakat. Tentu saja, masyarakat mesti sedikit sabar dalam memahami ucapan-ucapan yang seringkali tidak logis, tidak sesuai dengan logika umu…

Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa

http://sastrakarta.multiply.com/
PUISI PAGI SEORANG PENGANGGUR

Tuhanku
hari ini tak ada yang tercatat dalam buku
tak ada ruang terbaik buat menunggu
tak pernah lagi hari-hari kuhitung
batu-batu lelap menatap
lewat jendela yang terbuka
terdengarlah senantiasa teriakan-teriakan
gemuruh roda-roda kehidupan
yang digerakkan tangan-tangan
kembali aku pun mengaca pada diri-sendiri
ketika Kau tetap bernama Sunyi
ketika segalanya hadir: puisi.

Tuhanku
hari ini untuk pertama kali
kuucapkan pada-Mu: Selamat Pagi
sebab, ketika hari bulan terus juga memberi
senantiasa aku pun merasa
hidup memang bukan milikku pasti



SEPOTONG WAJAH

Dari atap dan jalan-jalan kota
membidik masa lampau
indahnya semua yang indah
bertindak aku tak hendak dipandang salah
meski kasar mengusir
ditinjau tetap berdesir apalah penyair
di hulu batinnya, di hilir mata segan menerima
Seorang bertahan terhadap perlambang cendekia
Seorang bertahan rahasia mimpinya

Jangan kasihani kami, di mana-mana
biarkan tegak, sendiri
hingga tenggelam seluruhnya
kembali dahulu …

ME-MITOS SEJARAH SASTRA

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Memitos, istilah saya untuk menyebut kebalikan dari kata jangka (ramal, meramal). Di Jawa ada pengistilahan ngerogo sukmo, semacam meranggehnya sukma. Maka memitos sejarah, serupa ngeranggeh cerito atau merengkuh cerita lama. Sejenis membongkar ingatan di bawah sadar sejarah bathin-raga kemanusiaan. Ini semoga bukan bentuk kelebihan hormon pengarang.

Ketika waktu memberi tempat bagi manusia, maka segera hadir temuan-temuan yang berlangsung dari alam bathin fikirannya, sebagaimana tergambar pada karya patung Aguste Rodin, Homo Sapiens.
***

Saat itu, alam raya masih akrab awan-gemawan, pegunungan, embun dedaunan murni, serta gegua yang belum terjemah-jamah kemanusiaan. Sebelum jaman batu, pahat juga ukiran. Sewaktu warna menjadi tolak ukur pemaknaan, bentuk menjelma simbul pengertian, di sini peradaban mulai bergerak.

Sebelum lontar dan hitam tinta ditemukan, hitam-putih pencahayaan, menajamkan bayangan makna. Dan suara-suara mulai…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]