Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Estetika Sufistik dan Sastra Indonesia

Tjahjono Widarmanto*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

SUATU teks disebut sebagai karya sastra apabila mampu memberikan kepada pembacanya suatu pemahaman baru dan mendalam tentang kompleksitas kehidupan manusia. Teks tersebut harus sanggup menjalin interkomunikasi antara hakikat realitas dan hati sanubari. Harus dapat menampilkan suatu segi dari realitas yang belum seutuhnya diketahui, realitas paling abstrak, yang sanggup membangun kesadaran kontemplatif tentang apa hakikat hidup, kehidupan, manusia, dan kemanusiaan.

Oleh karena itu, objek karya sastra selalu manusia sehingga sastra merupakan sebuah fakta kultural atau fakta kemanusiaan. Jadilah teks sastra sebagai fakta kemanusiaan, fakta kejiwaan, dan fakta kesadaran kolektif sosiokultural.

Demikian juga dengan sastra Indonesia. Sepanjang perkembangannya selalu mencoba merefleksikan segala persoalan kejiwaan manusia Indonesia yang barangkali amat universal sehingga tidak mustahil juga digelisahkan manusia lainnya, seperti persoalan …

Sastra Sejarah: Sastra dan Sejarah

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

ADA persepsi yang seolah melekat-kuat di tubuh dunia Melayu, seolah identik, seolah bersebati, bahkan ia (kerap) menjadi sentral, ketika sistem sosio-politik feodalisme kerajaan, kita suguhkan dalam sebuah ruang perbincangan. Banyak sudah para ahli, juga para pengarang, dari zaman ke zaman merespon, menelaah, menggali berbagai materi dari berbagai perspektif.

Buhari al Jauhri misalnya, di tahun 1603 M menyusun Taj al-Salatin yang berisi di antaranya tentang nasehat dan petunjuk bagaimana menjalankan pemerintahan dengan adil, tentang konsepsi kerajaan, serta tentang siapa yang paling layak menyandang gelar raja dengan berbagai persyaratannya. Dalam Sulalat al-Salatin (lebih dikenal dengan Sejarah Melayu) oleh Tun Sri Lanang (1612 M) juga demikian, pun tak jauh berbeda dalam Bustan al-Salatin oleh Nuruddin al-Raniri (1638 M). Lalu Raja Ali Haji juga menulis Tsamarat al-Muhimmat yang juga bermuatan tentang konsep kerajaan dan etika politik di zamannya.…

Rasa Musik

Zuarman Ahmad
http://www.riaupos.com/

SUATU hari saya masuk ke dalam studio tari menyaksikan para penari latihan. Lama sekali saya termenung menyaksikan mereka latihan menari. “Tari ‘kita’ tetap seperti dahulu juga, itu ke itu juga, tidak pernah berubah,” kata-kata saya dalam hati.

Kenapa Saya berani mengatakan seperti ini? Karena saya dulu pernah juga jadi pemusik tari, bahkan sebagai komposer untuk tari sampai juga ke negeri-negeri Eropa, Cina, dan beberapa negara Asia Tenggara, dan sudah tak dapat lagi menghitung jumlahnya memainkan musik, membuat musik tari, musik pengiring tari kelompok tari “di sini” (baca: Riau) .

Kenapa tari ‘kita’ tetap seperti itu ke itu juga? Apa sebenarnya yang tidak pernah ada dalam tari ‘kita’, apa sebenarnya yang kurang pada tari ‘kita’? Dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya saya sampaikan pada para penari yang sedang latihan di studio tari sebuah perguruan tinggi itu ketika mereka sedang istirahat. Pertanyaan yang menganjal itu adalah sebuah kat…

Menuju Sastra Nobel

Edy Firmansyah
http://www.suarakarya-online.com/

Sejak Pramodya Ananta Toer meninggal 30 April 2006 silam, kegalauan banyak sastrawan negeri ini hingga sekarang adalah belum adanya sastrawan Indonesia yang menerima hadiah nobel. Meski setiap tahun ada ratusan sastrawan dari seluruh dunia yang diunggulkan mendapatkan Nobel untuk Sastra meski akhirnya yang terpilih hanya satu orang tetapi tak satupun sastrawan Indonesia yang disebut-sebut sebagai calon kandidat.

Memang semasa Pramodya Ananta Toer masih hidup, Indonesia boleh berbangga. Sebab dialah satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali dicalonkan untuk mendapatkan hadiah bergengsi dibidang sastra itu. Tapi Pram keburu meninggal. Dan kesempatan seorang putra Indonesia untuk mendapatkan hadih Nobel pun lewat.

Pertanyaan mendasar adalah benarkah ini petunjuk bahwa kualitas manusia Indonesia, terutama yang menjadi sastrawan, atau setidaknya karya-karya mereka masih sangat rendah? Mengapa hanya Pramoedya Ananta Toer yang sel…

Bingkai: Sastra dan Cinta di Reruntuhan Kekuasaan

Jafar Fakhrurozi.
http://www.lampungpost.com/

MENINGGALNYA mantan Presiden Suharto disambut beragam oleh masyarakat. Mereka yang berkabung, di koran, misalnya, selain foto-foto yang memperlihatkan tangis keluarga, kerabat, dan kroni-kroninya. Juga menampilkan gambar wajah-wajah dukacita dari sebagian rakyat kecil yang kadung mencintai Suharto. Namun dalam beberapa hari setelah masa kabung itu, demonstrasi massa mulai digelar di mana-mana, mereka menolak berkabung dan terus menuntut proses hukum atas kejahatan orang paling besar di Indonesia itu.

Itulah sikap dan perasaan manusia. Mencintai dan membenci adalah pilihan yang lumrah, sebagaimana kita mencintai pasangan, walau buruk rupa, buruk hati, buruk laku juga tetaplah emas bagi pasangannya. Cinta itu buta, begitu kata seorang bijak.

Dalam kanvas kesenian, cinta itu bisa dilukiskan tanpa batas. Ranah susastra, khususnya. Walau ditekan sana-sini, tetaplah ia eksis sampai kini. Tetap dinamis dan dialektis dalam kemasan yang kreatif, kemasa…

Antara Sastra dan Kekuasaan

Ammilya Rostika Sari*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

HARI-hari di tahun 1955 dihabiskan seseorang yang nantinya menjadi presiden Amerika Serikat dengan berdagang pupuk. Rupa-rupanya ia punya usaha yang cukup santai. "Saya tidak punya buruh dan juga tidak punya pelanggan," katanya. Jadi, ia sering kali nongkrong saja di atas karung-karung pupuk itu sambil membaca buku. Suatu kali ia membaca antologi puisi para penyair modern, dan terbaca olehnya sebuah puisi. "Saya tidak mengerti makna puisi itu," katanya. "Tapi saya mengerti baris yang terakhir." Itulah kalimat after the first death, there is no other. Puisi itu milik Dylan Thomas, yang belakangan kita temui lagi dalam film "Dangerous Minds" (John N. Smith, 1995), kali ini lewat Michelle Pfeiffer.

Ketika kemudian Jimmy Carter, sang pedagang pupuk itu menjadi presiden Amerika Serikat pada 1976 dan ditandai oleh dua buku (Why Not the Best? dan A Government as Good as Its People), rakyat Amerika…

Zoom dan Zero

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Veronita Agnez telah menulis pertanyaan mewawancarai saya lewat email dalam rangka penulisan skripsi. Tetapi pertanyaan-pertanyaannya, seperti tidak menyimak wawancara langusng sebelumnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu tipikal pertanyaan mahasiswa yang malas, yang menyuruh orang lain menceritakan segalanya. Akhirnya saya minta dia menyimak dulu hasil wawancaranya sendiri sebelumnya serta melihat VCD pertunjukan, lalu beropini dan kemudian baru bertanya sehingga terjadi dialog. Syukurlah dia mengerti maksud saya.

Lalu dia memperbaiki pertanyaannya dan memberikan daftar pertanyaanbaru yang membuat saya gembira. (Vero, sekarang pertanyaannmu sudahbagus. Oke kemajuan pesat.

Kalau menulis skripsi, khususnya tentangsaya, jangan takut berpendapat, karena saya merayakan perbedaan).Banyak kejadian yang saya alami, para mahasiswa sudah dibikin sepertirobot oleh pertanyaan-pertanyaan yang sudah terpola, khususnya bagiyang ingin cepat-cepat lulus saja (termasuk…

Catatan Hitam McCain

Mohamad Asrori Mulky*
http://www.jawapos.com/

Pada 4 November 2008 adalah hari paling bersejarah bagi rakyat Amerika Serikat (AS). Barack Obama, senator Illinois dari Partai Demokrat, terpilih sebagai presiden ke-44 Amerika, sekaligus presiden pertama dari kulit hitam. Kenyataan ini membuktikan tingkat kedewasaan dan kematangan rakyat Amerika, yang tidak lagi melihat perbedaan ras dan kelompok dalam menentukan pemimpin masa depannya.

Senator yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta Pusat ini, dengan telak mengalahkan rivalnya, John McCain dari Partai Republik. Tak tanggung-tanggung Obama berhasil menyabet 349 suara elektoral, jauh melampaui syarat minimal untuk menang: 270 suara. Sedangkan rivalnya, McCain hanya mampu meraup 173 suara elektoral. Sungguh suara yang cukup jomplang.

Kini, dunia tengah menunggu langkah konkret dari Obama. Mereka berharap, ke depan dia dapat membawa perubahan yang cukup signifikan tidak hanya bagi negaranya, tapi juga bagi masyarakat dunia. Sebab, nasib dunia, …

Berpetualang di Negeri Teror

Yani Arifin Sholikin
http://www.jawapos.com/

Masih segar dalam ingatan kolektif kita bahwa pada 11 November 2008 trio bomber Bali (Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra) dieksekusi di lembah Nirbaya, Nusakambangan, pukul 00.15. Eksekusi itu merupakan ganjaran atas aksi bom mereka di Paddy Pub dan Sari Club, Jalan Legian, Kuta, Bali.

Bagi sebagian orang, trio bomber itu adalah teroris karena telah mencederai rasa kemanusian banyak orang. Namun, di sisi lain, banyak juga simpatisan yang mengelu-elukan mereka sebagai pahlawan yang patut dikenang. Bahkan pada saat jenazah Amrozi tiba di desa kelahirannya, ratusan orang menyambutnya dengan spanduk provokatif berbunyi: Mati Tiga, Tumbuh Tiga Ribu.

Lebih dari itu, dengan dieksekusinya Amrozi Cs dan tertangkapnya beberapa pelaku tindak teror lain, bukan berarti secara otomatis aksi-aksi teror akan berlalu dari bumi Indonesia. Tidak ada yang berani memberi garansi. Sebab, tindakan kekerasan atas nama agama --untuk tidak mengatakan teror-- sudah ad…

EKSPERIMENTASI DJENAR MAESA AYU DALAM “SMS”

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Djenar Maesa Ayu mencuat namanya bersamaan dengan maraknya isu sastra wangi, sebuah ungkapan bernada miring yang ditujukan pada beberapa artis cantik yang terjun ke dunia sastra. Maka, selepas terbit antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003), nada miring itu pun sepertinya melekat begitu saja. Namanya juga isu. Ia masih saja bergentayangan. Bahkan, ketika cerpennya “Waktu Nayla” terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2003, publik sastra masih juga belum begitu yakin atas prestasi Djenar. Keberhasilan sebelumnya yang menempatkan cerpennya “Menyusu Ayah” sebagai Cerpen Terbaik 2002 versi Jurnal Perempuan, seolah-olah tak berarti apa-apa.

Publik terkadang memang kejam. Tudingan tanpa dasar bisa menggelinding seperti bola liar. Isu yang dilontarkannya kemudian bergeser: dari sastra wangi karena kecantikan penulisnya, ke isi cerpen yang nyerempet-nyerempet, sensasional dan mengobral kata-kata nakal. Resensi yang ditulis Danarto di h…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]