Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

SCIENCE FICTION SUPERNOVA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dua tanggapan atas Supernova yang dimuat Kompas (C. Sri Sutyoko Hermawan, Kompas, 11/3/2001 dan Tommy F. Awuy, Kompas, 18/3/2001) memperlihatkan kecerdasan kedua penulisnya dalam menganalisis novel karya Dee (Dewi Lestari) itu. Sebagai sebuah kritik umum, kedua tulisan itu berhasil menyajikan sebuah apresiasi. Ia dapat merangsang pembaca untuk menyimak sendiri novel itu. Bahkan, Hermawan, berhasil pula menguak sejumlah kontradiksi yang disajikan Supernova. Dengan begitu, ia sekaligus memberi dua kemungkinan penafsiran, yaitu sebagai kelemahan novel itu atau kompleksitas problem tematisnya. Apapun hasil penafsirannya, bukan lagi menjadi soal. Sebab, masalah itu memang sangat bergantung pada wawasan pembacanya sendiri.

Dalam kaitan itu, “Kritik atas Kritik” yang disampaikan Awuy, juga menegaskan adanya dua --atau lebih-- kemungkinan terjadinya penafsiran itu. Adanya keberagaman penafsiran, dengan sendirinya telah menempatkan novel bersangkuta…

Gerilya Sastra

Sulistiyo Suparno
http://www.suaramerdeka.com/

MENGHARAPKAN pemerintah untuk lebih memperhatikan pelajaran sastra, seperti pungguk merindukan bulan. Masih untung sastra bisa nebeng pada mapel bahasa dan sastra Indonesia.

Entah mengapa para penggagas kurikulum masih memandang pelajaran bahasa dan pelajaran sastra sebatas cukup dijadikan satu. Setahu saya, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar.

Pelajaran bahasa menekankan pada kemampuan anak didik untuk berkomunikasi, mengemukakan pendapat (lisan dan tulis). Sedangkan pelajaran sastra lebih menekankan pada kemampuan anak didik dalam mengolah imajinasi.

Pada tahap berikutnya, seorang yang menguasai ilmu sastra cenderung mampu berbahasa dengan baik. Sebaliknya, seorang yang menguasai ilmu bahasa belum tentu mampu membuat karya sastra. Dilihat dari output (kemampuan anak didik) saja sudah berbeda, lantas mengapa pelajaran bahasa dan sastra masih juga digabungkan?

Benarkah belajar sastra tidak bisa untuk bersaing di dunia kerja dibandingkan d…

Sastra dan Nasionalisme

Arie MP Tamba
http://jurnalnasional.com/

Obyek semua karya sastra adalah realitas. Merupakan hasil kontemplasi dan interpretasi pengarang dengan dunia realitas di sekitarnya, baik berupa realitas sosial ataupun realitas ide. Griffith menegaskan bahwa sastra merupakan ungkapan dari pribadi yang menulisnya. Kepribadian, perasaan, respon, pandangan hidup atau keyakinan pengarang akan selalu mewarnai karya yang diciptakannya.

Ideologi sebagai sebuah sistem berpikir normatif yang diyakini pengarang, secara langsung maupun tak langsung, sadar maupun tak sadar, akan mempengaruhi karya sastra. Sastra dapat menyuarakan ideology yang diyakini pengarangnya.

Ideologi yang muncul dalam teks sastra, tak hanya berupa sikap pandangan ideologis pengarangnya, namun bisa pula melalui teks sastranya tersebut pengarang memunculkan berbagai tafsiran bahkan menawarkan wacana tandingan atas sebuah ideologi. Dalam situasi demikian, pengarang akan memunculkan berbagai tawaran sebagai bentuk counter-ideology terhad…

Politik Haji Ebod

Wira Apri Pratiwi
http://www.lampungpost.com/

TAK satu pun warga Pulau Panggung, tidak mengenal nama Haji Ebod. Juragan sawah, juragan tanah, dan juragan kawin menjadi gelar yang melekat untuk Haji Ebod. Tiga perempat sawah di kampung kami dimiliki Haji Ebod. Begitu juga dengan tanah di kampung ini, hampir seluruhnya dikuasainya. Dan untuk perkara kawin, tak ada yang bisa menandingi Haji Ebod. Di usianya yang kini menginjak 55 tahun, Haji Ebod sudah sebelas kali kawin. Tapi Ngah Dati, istri pertama Haji Ebod, masih menjadi perempuan yang paling disayang Haji Ebod.

Meskipun sudah sebelas kali kawin, Haji Ebod tak pernah hidup dengan lebih dua kali istri. Tiap kali Haji Ebod mau kawin, satu istrinya pasti dicerai duluan. Tapi itu tak pernah terjadi pada Ngah Dati.

Tiap kali Haji Ebod kawin lagi, hati kecil Ngah Dati menangis. Namun, didikan agama yang kental di dadanya, pada akhirnya bisa melapangkannya.

Suatu hari ada seorang warga di Pasar Baru yang iseng bertanya tentang seringnya Haji Eb…

Acep Zamzam Noor: Gairah Sunyi Mencari Arti Abadi

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/cetak

AMIR Hamzah menjadi penyair awal yang fasih menuliskan sunyi dalam religiositas dan kisah cinta. Buku puisi Nyanyi Sunyi (1935) adalah babak penting dalam perpuisian Indonesia modern yang intens mengisahkan sunyi.

Amir Hamzah menuliskan pengertian: Sunyi itu duka/Sunyi itu kudus/Sunyi itu lupa/Sunyi itu lampus.

Sunyi adalah representasi dan realisasi eksistensi manusia dalam pelbagai peristiwa, kondisi, dan kisah. Sunyi mengantarkan manusia dalam religiositas dan kisah cinta manusia. Sunyi menjadi ciri penting puisi Indonesia modern yang terus diwarisi dan dituliskan penyair-penyair mutakhir.

Puisi-puisi sunyi Amir Hamzah menjadi bukti pergulatan penyair mangartikulasikan sunyi sebagai kondisi yang terkatakan atau terbunyikan. Amir Hamzah menjadikan puisi dari sunyi ke bunyi. Bunyi yang sunyi. Puisi Padamu Jua adalah puisi yang mengabarkan kisah manusia yang ingin intim dengan Tuhan. Kondisi batin direpresentasikan dengan kata-kata keras dan…

Ketika Teks Suci Agama Ditafsir

http://www.lampungpost.com/
Judul: Dialektika Teks Suci Agama, Strukturasi Makna Agama dalam Kehidupan Masyarakat
Penulis: Syahrullah Iskandar dkk.
Editor: Irwan Abdullah dkk.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2008
Tebal: vi + 351 hlm.
Peresensi: Ainur Rasyid

INTERPRETASI dan pemaknaan terhadap teks suci agama (Alquran) dari dulu hingga sekarang melahirkan pro dan kontra dalam berbagai bentuk, antara kelompok pembaharuan (modernis) dan kelompok antipembaruan (konservatif) dengan parameter tekstualis atau kontekstualis. Hubungan teks suci agama dengan kebudayaan dan negara banyak melahirkan teks historis yang terus mendapat apresiasi maupun kritik.

Buku berjudul Dialektika Teks Suci Agama, Strukturasi Makna Agama dalam Kehidupan Masyarakat ini berusaha turut ambil bagian dalam mencari pemahaman yang objektif tentang hubungan agama, kebudayaan, dan negara yang memang tepat diperbincangkan saat ini. Tidak ada yang mengelak lagi, agama adalah seperangkat aturan yang mengatur …

Berkaca pada Bayang-Bayang Hipokrasi

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

Demsay, novelis tua Bangladesh yang mengutip Plato perihal Orang dalam Goa dan Bayang-Bayang, agaknya percaya betul tentang etik kekuasaan.

Kekuasaan, secara etika dilihat Demsay (1989) sebagai saran menterjemahkan hidup. Meski tidak terhimbas ahimsa-nya Ghandi, tapi Demsay terus mendorong etika pada setiap kekuasaan.

Dalam novelnya, Singgasana, ia mendeskripsikan manusia (elite politik), berada dalam goa, dan di goa tersebut terdapat bayang-bayang diri mereka dan sejumlah bayang-bayang problem rakyatnya.

Ada jarak atau jurang yang terlalu dalam yang ditengok Demsay. Novel bergaya fiksi politik itu, lebih banyak merefleksikan genggaman kekuasaan dalam nuansa rakyat jelata. Pada galibnya novel politik, memang bahasanya kaku, naratifnya lebih banyak karena kepandaian penulisnya menggatuk-gatukkan data dan fakta.

Walhasil, novel Demsay, mampu mengungkap kaum papa di seantero negara Asia, terutama negara Asia Selatan. Inilah yang kemudian, dilihatnya si …

Adakah Estetika pada Ampas Kopi?

Budi P. Hatees*
http://www.lampungpost.com/

JANGAN pernah membuang ampas kopimu, karena kau bisa memanfaatkannya menjadi sesuatu yang sangat pantas dipajang di ruang tamu rumahmu, sesuatu yang bernilai estetika tinggi.

Itulah moral yang ingin disampaikan delapan perupa Lampung yang menggelar pameran lukisan bertajuk Me-rupa-kan Ampas Kopi di Ruang Seni Rupa Taman Budaya Lampung (29 Maret--2 April 2008). Mereka memanfaatkan ampas kopi sebagai pengganti cat, menggoreskan ragam bentuk rupa di atas medium kanvas, hingga terbentuk lukisan yang mewacanakan lokalitas Lampung.

Sebagai sebuah gagasan, kerja artistik para pelukis Lampung pantas mendapat apresiasi. Namun, kalau diandaikan bahwa kreativitas ini dapat mengatasi masalah sampah ampas kopi, jelas terlalu mengada-ada. Sebab, ampas kopi relatif tidak pernah menimbulkan masalah bagi masyarakat. Tidak sebanding dengan masalah akibat kafeina yang dikandungnya. Di samping mudah larut dalam air, produksi ampas kopi cenderung rendah. Apalagi di …

PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN HADIAH MAGSAYSAY

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Apa maknanya hadiah Magsaysay bagi kebudayaan dan kemanusiaan? Penghargaan atas nama mendiang Presiden Filipina, Ramon Magsaysay (1907—1957) yang tewas dalam kecelakaan pesawat tahun 1957 itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada seseorang yang mempunyai kebesaran jiwa dan semangat, integritas dan perjuangan untuk kebebasan. Pendirian Yayasan Hadiah Magsaysay dilakukan sejumlah seniman dan cendekiawan Filipina untuk menghormati jasa-jasa mendiang presiden ke-3 Filipina itu. Itulah ruh, substansi, hakikat, yang mendiami makna hadiah Ramon Magsaysay yang dianggap sebagai sosok manusia yang berjiwa besar dan konsisten dalam memperjuangkan kebebasan sebagai hak manusia yang paling dasar. Dengan demikian, hadiah itu dicitrakan sebagai penghargaan atas perjuangan yang gigih, luhur, dan agung.

Hadiah Ramon Magsaysay itu dipandang hanya pantas, layak, dan patut diberikan kepada seseorang yang berjiwa besar, punya integritas, bercita-cita luhur da…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]