Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

Ucu Sam

Minggu Pagi,Juli 2002,Riau Mandiri, 20 April 2003
Marhalim Zaini

Ucu Sam mengamuk. Kebun karet seluas satu hektar dekat sungai Rambai itu, dini hari tadi habis dilahap api. Seperti orang kesetanan, Ucu Sam berteriak-teriak sambil mengacungkan parang panjang ke sekeliling kampung. Tak pelak, subuh yang biasanya damai dengan kicau burung murai, kini seperti dihantam badai. Orang-orang yang bersiap-siap berangkat ke batang karet untuk menunaikan rutinitas, tiba-tiba harus dikejutkan dengan suara petirnya Ucu Sam.

“Pukimak! Ini pasti ulah bule bedebah itu! Betul cakapku dulu, pasti budak-budak yang sok pandai tu telah mulai berani buat rusuh, telah berani membawa penjajah ke kampung kita ni. Tengoklah, kebun karetku satu-satunya telah mereka bakar. Mereka kira aku ni bengal, tak tahu menahu tentang politik kotor mereka tu. Pukimak! Mentang-mentang aku tak sekolah, mereka seenaknya nak menukar kebun karet aku tu dengan janji-janji busuk mereka tu. Oi…ke sinilah! Kubabat batang leher kalian…!”…

Bangkit, Bung!

Bernando J. Sujibto

Tanpa dinyana sebuah momen bersejarah yang telah menjadi titik tolak kemerdekaan bangsa ini, Indonesia, sudah di depan mata. Tepat 20 Mei 1908 silam, atas nama kemanusiaan dan kesadaran kebangkitan yang kuat pemuda Boedi Oetomo berkumpul di Yogyakarta dan membahas persoalan kebangsaan yang tergadai, pecah, dan lumpuh di bawah kolonial. Bagaimana bayangan Anda ketika coba memejamkan mata dan masuk ke tengah masa kelabu masa silam? Pada masa itu tidak ada Indonesia; cuma ada Jawa, Sumatera, Borneo, Bugis, Madura dll. Di tengah kondisi demikian, perkumpulan pemuda (kalau sekarang saya konotasikan pemuda adalah mahasiswa) yang datang dari berbagai latarbelakang itu menghasilkan embrio untuk masa depannya. Dan kita merasakan itu sekarang! Apakah Anda merasakan (menyadari) semua (?).

Pada masa itu sangat sederhana, tapi kuat dengan gelora semangat. Kualitas pemuda–pemuda yang hendak bertekad itu biasa-biasa saja. Memang, masa itu tidak ada yang bisa diistimewakan jika diba…

Klandestin Setengah Hati

http://www.jawapos.com/
Judul Buku: Dalih Pembunuhan Massal
Penulis: John Rossa
Penerjemah: Hersri Setiawan
Penerbit: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra
Cetakan : I, 2008
Tebal: xxiv+392 Halaman
Peresensi: Muhidin M. Dahlan*

Inilah misteri sejarah yang paling dinamik yang diulik banyak orang sampai kini: Gerakan 30 September (G 30 S). Sebab ia tak semata persoalan ''kup'' politik, melainkan juga berkait peristiwa sesudahnya: pembunuhan masal dan asasinasi total atas seluruh gerakan kiri di Indonesia. Dalam hal ini PKI dan seluruh aliansinya, termasuk pendukung setia Soekarno.

Buku yang disusun John Rossa ini mesti kita beri rak terhormat dalam tumpukan kepustakaan G 30 S. Ia tak saja menumbangkan banyak analisis sebelumnya yang selalu mencari siapa dalang sesungguhnya dari peristiwa G 30 S itu (PKI, Soekarno, Angkatan Darat, Soeharto, CIA); tapi ia menjalin kembali cerita baru yang segar dari serakan data yang membuat kita terhenyak. Betapa tidak, buku yang disus…

Membela Kaum Miskin Tabah Bencana

Judul Buku : Kagum Pada Orang Indonesia
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 56 Halaman
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Meski banyak orang pesemis pada bangsa Indonesia, Emha Ainun Nadjib (akrab di panggil “Cak Nun”) malah merayakan optimisme bergelimang harap. Tahun 1998, penyair Taufik Ismail menggarit puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”, sedang Cak Nun pada 2008 menggubah buku “Kagum Pada Orang Indonesia”. Wujud filantropi budayawan, Cak Nun, mengipasi bara ketegaran rakyat saat centang perenang dan banjir problem tiba.

Cak Nun, --budayawan kelahiran Jombang Jatim itu--, terlihat sangat gigih meninggikan anten kepekaannya akan penderitaan masyarakat miskin tabah bencana. Ia menghayati betul tamsil yang diukir Elie Wiesel, novelis peraih Nobel Perdamaian dalam memoar Night (1958): “Pada saat Adam dan Hawa mengkhianati-Mu, Tuhan, Kau usir mereka dari Taman Firdaus. Saat dikecewakan generasi Nabi Nuh, Kau datangkan air bah. Saat kota Sodom …

Sajak-Sajak Mashuri

Khidr 1

: perburuan

Seperti musa, aku pun tertumbuk hal ihwal indera: kulit yang masih sakit ketika dicambuk, mata yang perih ketika disiram lendir jeruk, juga bibir yang tak bisa diam ketika ada sinyal yang merajam lubuk kalbu; kaki hatiku masih saja berlari dari nyeri ke nyeri; tapi aku ingin bertemu dirimu, menjadi tamu dalam tabir yang selalu mengundang para fakir untuk mengalir, di ruang tamumu, Khidr…

Dengan bekal peta yang terwarta dari ayat-ayat tua, aku memburumu di ruang-simpang sekaligus temu; ruang antara kali dan laut, antara api dan maut; tapi awamku selalu batu; batu yang tak bisa diam saat ritus rajam melabuh: aku pun bergemuruh.

Kita bertemu…

Tapi isyarat yang kau humbalangkan ke indera, kembali aku maknai sebagai manusia; aku pun terjungkal dan terus saja melipat angan dan akal; perburuanku padamu hanyalah sekat yang membuat kita tak pernah bersua di satu meja, dalam sebuah perjamuan yang kau janjikan di ujung altar: “Kau pasti tak bisa bersabar, kau pasti ingkar”

Seperti …

TAMBUR TAFFAKUR

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Demikianlah pada mulanya, bahwa tatapan mata yang mengurai kesemestaan adalah telah lebih jauh melewati rimba larangan, dan selanjutnya tanpa dihantui siapapun, meneruskan perlintasan ke arah barat. Kita mengunci bisik-dingin sang bayu, di kala ketukan-ketukan yang menghampir sudah teramat berderap dan kemudian menderu, semirip dengan taufan pada kemarau garang.

Spada! Aku uluk-salam kepada para leluhur, kepada para karuhun, kepada sang hambaureksa, yang senantiasa perkasa dan menindih keletihan diri sendiri, untuk sampai kepada nirwanaloka. Aku intai lubang-lubang kunci dari langkah yang keduapuluhsatu dari regol pertama, dan baru kutahu: tiada seorang pun menunggu pisowanku. Wahai, kalau tiada keliru, bukankah aku menuju ke Seri Manganti?, tempat para priyagung menunggu sinewaka Daulat Gusti Maharaja? Bukankah aku layak buat mengacungkan tangan untuk meminta para dhayoh seba puri, agar menyusun sembahan jemari, menghaturkan suatu persembahan?

Surat ini kutul…

DAYA DAN DINAYA

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Saudari Sarwendah!
Tiba sudah waktunya untuk mengemasi barang-barang yang tertinggal di koperasi kampung, petang ini. Alangkah sumuknya hawa di ruangan yang kemarin menjadi arena silat-lidah kita, bukan? Sungguh, saya tak mengira samasekali bahwa saudari ternyata mampu membelalakkan mata pada saat musti menghentak mengorak kelopak, pada waktu harus berjelempak. Maka tiada lain yang kudu diucapkan, selain pengakuan atas kesungguhan diri mengolah watak, membina kecermatan, meraut-raut kalimat yang menikamkan.

Saudari Sarwendah yang telaten.
“Apakah orang-orang di sini dengan sukarela melibatkan diri di tengah percaturan kancah ekonomi, memperhatikan lalulintas barang dan jasa secara lebih teliti dibandingkan tahun silam. Atau bahkan sepuluh tahunan lewat, tatkala mereka masih memandang tabu kepada perikatan semacam ini?” Aku tak mengira, persoalan baku singgah di kalbumu. “Niscaya dapat dikatakan, zaman bertambah menyeret jauh derajat masyarakat,” demikian jawabm…

SASTRA PERLAWANAN TERHADAP LUPA

Kajian atas DAZEDLOVE karya Rodli TL.
Haris del Hakim*

Pengantar
Saya tidak mungkin menjelaskan atau menafsirkan bagaimana isi novel Dazedlove secara keseluruhan. Saya tidak ingin menciptakan satu asumsi tertentu sebelum pembaca membaca novel ini. Karena itu, saya hanya memberikan catatan-catatan yang saya anggap perlu dan menarik bagi saya. Anda pasti memiliki rasa tertarik yang berbeda dari saya dan tidak mungkin saya memaksakan ketertarikan saya kepada Anda, kecuali saya hanya merekomendasikan novel ini sangat penting yang mana nilai pentingnya akan saya jelaskan kemudian.

Belajar Logika
Novel dikenal sebagai salah satu dari karya fiksi di samping puisi, cerpen, naskah drama, dan karya seni lain. Karya fiksi dianggap berlawanan dengan non-fiksi yang diartikan sebagai fakta atau realitas, di antaranya matematika, fisika, biologi, dll. Kedua istilah tersebut beserta pengertiannya masih perlu dipertanyakan, karena dalam perkembangannya kemudian pengetahuan non-fiksi ternyata tidak benar da…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]