Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

NatURalis ELementer

Nurel Javissyarqi
http://www.sastra-indonesia.com/

Waktu-Waktu Yang Digaris Bawahi

Setelah beberapa waktu perjalankan tubuh keliaran imaji menerka kejadian lalu di sekitar pengembaraan, sebagai mata uang lain selain membaca buku. Persoalan terfokus di satu titik perasaan, kejadian obyektif bagi bahan pengulangan demi meyakinkan observasi mencapai tangga lebih tinggi, lompatan menuju dunia ide.

Wewaktu digaris bawahi itu masa-masa bukan berdasarkan luangnya waktu semata atau menggebunya aktivitas terselesaikan tidur. Wewaktu merupakan barisan masa teruntuk kedekatan realitas membaca wacana berupa rindu kenangan.

Perolehan gesekan tajam yang bukan berangkat dari hati memendam hasutan. Tapi kepaduan penyelidikan berkesadaran menerima situasi demi bahan banding menjadi pelengkap niat menuju keteguhan.

Ketakutan bertindak berjalan melewati tulisan ialah tidak beralasan atas bahayanya jaminan kwalitas. Sebab hasil pengembaraan belum sampai terjual jika durung diperdagangkan serupa pencerahan.

Kita…

Perjuangan Mengangkat Sastra Pinggiran

Musfi Efrizal

Puisiku bukan batu Rubi ataupun Zamrud, Puisiku adalah debu, namun debu Karbala (Fuzuli, 1556)

Sastra jurnal memang jarang diperbincangkan oleh masyarakat pengkaji dan penikmat sastra. Hal ini dikarenakan sastra lebih populer lewat media koran atau buku (baca : sastra koran dan sastra buku). Tidak mengherankan jika muncul pernyataan “jangan sebagai seorang pengarang/pujangga/penyair apabila karyanya belum dimuat di koran”. Hal ini jelas sangat mendeskreditkan sekaligus melecehkan beberapa penulis yang berada di daerah pedalaman atau pinggiran.

Polemik sastra kota dan sastra pinggiran memang sempat didengungungkan, namun yang penting untuk disoroti adalah kualitas karya yang dihasilkan. Sastra pinggiran dengan segala kekurangannya bukan berarti kualitasnya rendahan, pun demikian meskipun sastra kota dengan segala hal yang dapat dijangkaunya dan didukung oleh upaya saling mengangkat nama di antara para penulis belum tentu karya mereka berkualitas.

Jurnal Kebudayaan The Sandour…

RAS PEMBERONTAK

Persembahan buat almarhum Zainal Arifin Thoha, Suryanto Sastroatmodjo, serta kawan-kawanku semuanya.
Nurel Javissyarqi*

Pembuka
Ini luapan kesemangatan luar biasa tentang hidup. Buah berkah yang harus disyukuri, dijalankan sebagai kerja kudu cepat melaju, keras lagi tangguh dalam pertahanan. Saya sebut ras pemberontak itu, tandingan dari sifat kelembekan yang selalu menjegal langkah-langkah lincah kita saat berlari.

Ialah gairah besar harus diledakkan kecuali ingin datangnya bisul lebih parah lagi. Bisul itu pemberhentian tidak nyaman juga sangat menyakitkan. Maka songsonglah sebelum datangnya sakit menyerang. Kita diadakan sebagaimana ada, dan terus hadir di segala jaman dan sejarah kemanusiaan. Tanpa kita dunia bengong, pikun, melempem, lumpuh, apalagi ditambah laguan melemahkan jiwa, atas dasar nilai-nilai mandul.

Marilah melancarkan jawab, sebab hanya kita yang bisa menjawab persolaan yang menghadang, oleh telah diberi limpahan kemampuan lebih di atas mereka yang enggan berjuang. Kaki-…

Sajak Mardi Luhung

BAPAKKU TELAH PERGI

Bapakku telah pergi
menemui pembakaran
ruang suci tempat selesaian

tapi ekor-ekor yang ditinggalnya
membelit tubuhku
menciptakan jarak, yang ujungnya

masih dipegangnya
batasnya tak teraba
maka jadilah itu: “Hantu”

bapakku telah pergi, memang
tapi hantunya itu demikian kuat
demikian mendesak

sampai bagian dalam tubuhku
bergetar, berpusar, seperti
tubir, seperti gerigir

si sayap-sayap tembikar
yang selalu melipatiku
seperti melipati ladang-ladang itu

tanah harapan di mana
aku telah menyerahkan kesetiaan
bangkit dan runtuh, runtuh dan bangkit

dan gelembung yang bugil
lewat duapuluh jari aku pahat. Kuberi
mata, mulut, telinga, hidung, dan organ

lalu beberapa kata: ”Hantu tadi”
lalu beberapa ekor: ”Ujungnya di bapak”
lalu sebuah meja, payung dan kursi

“Selamat datang,” kataku

aku dan gelembung pun saling berkata
dan saling terbuka
seterusnya sebuah percakapan

demikian asal-mula
aku membikin sebuah lahan di gelembung
demikianlah seterusnya aku mengada

sambil terus dilipati hantu
sambil terus berpegangan pa…

Menjadikan Ketakutan Sumber Kekuatan

Judul Buku : Fear is Power
Penulis : Anthony Gunn
Penerbit : Hikmah
Cetakan : I, Oktober 2007
Tebal : x + 312 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Syahdan, Joe Bugner, mantan juara tinju dunia kelas berat, bertanding dua kali melawan Muhammad Ali dan kalah dalam kedua kesempatan tersebut. Lalu, ia dinasehati oleh Muhammad Ali, “siapapun yang masuk ring tinju tanpa rasa takut adalah orang bodoh.” Rasa takut menghampiri kehidupan manusia suatu hal niscaya, kendati ditepis, ketakutan mesti dipastikan mampir juga.

Wujud dari rasa takut tiap-tiap orang, cukup beragam. Misalkan, ada rasa takut ditolak, bila ia mengajak pergi pacarnya untuk kencan. Ada rasa takut hendak mempresentasikan opininya secara bebas diforum berkumpulnya banyak orang. Ada pula rasa takut mengembalikan barang cacat ke toko asal ia membeli, yang dimungkinkan akan terjadi percekcokan antara penjual dengan pembeli, dsb.

Meski serasa sepele, rasa takut berpotensi mengabrukkan kehidupan seseorang. Ibarat gelombang pasang dilaut,…

LUPA, HUTANG & REVOLUSI

Nurel Javissyarqi*

Lupa menyebabkan hutang, dan atau pun hakikat lupa ialah hutang. Hutang dapat terlupa, menambah bengkak nominal bunga. Lantas kesadaran hadir mecekik menghapus kenangan. Tetapi sungguh di depan itu jurang, maka kita harus mundur ke belakang, merevolus diri, berperang melawan kebijakan. Kembali kepada waktu semula untuk mendapatkan waktu kini dan nantinya, dengan kesungguhan bertambah keyakinan dari pengalaman lupa, hutang serta terlena.

Di setiap lapis kesadaran kita baca. Merasakan betapa fitroh pengembangan membutuhkan kebertemuan hukum serta pendapat yang bersilang-saling pengertian, jika tak ingin terjebak berbalik pada sudut tepian. Marilah membongkar sederet peristiwa di atas dengan menggunakan beberapa pandangan, agar tidak terhanyut lamunan seorang peneliti yang kebablasan mengenai harapan tinggi tanpa tendensi kehakikian.

Kita sadar, setiap yang mengisi denyutan kehidupan, sarat dengan esensi dan manfaatnya akan didapat kalau meletakkan isi tersebut pada tempa…

Malcolm X dan Übermensch Kulit Hitam

Judul Buku : Malcolm X Untuk Pemula
Penulis : Bernard Aquina Doctor
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Mei 2006
Tebal : xi + 186 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah

Setiap manusia, dapat dipastikan berprakarsa sama, yaitu ingin mengangkat harkat dan martabat rasnya masing-masing. Abraham Maslow dalam teori kebutuhan dasar pokok manusia, mentesiskan bahwa manusia mengantongi rasa ingin dihargai oleh orang lain.Tentu, perjuangan membutuhkan ikhtiar gigih, anti letih, tahan getir, dengan mengasah kecerdasan srawung. Dalam hal ini, Malcolm X meyakini kecerdasan itu hanya bisa didapat lewat lama-lama membaca buku, dan aktif bergiat diorganisasi.

Perjuangan yang terus-menerus diasah hingga lancip pasti temukan ketajamannya sendiri. Ibarat pisau daging, apabila terus dipertajam akan mempermudah dalam pengirisannya. Begitu juga tentang kisah Malcolm X, yang telah mencicipi manis asamnya pergulatan hidup, hanya demi “pengakuan” atas ras dan keadilan hak-hak sipilnya. Sehingga, inilah nantinya yang…

Puisi-Puisi Javed Paul Syatha

Lakilaki Tua Dan Becaknya

aku menyaksikan sendiri
lakilaki tua itu terjungkal dari becaknya
lantaran arakarakan polisi bermotor
mengangkangi jalan raya
memainkan klakson dan sirene
(ada juga yang pakai pentungan)

mengiring mobilmobil kijang berwarna
biru tua, berpelat merah berseri
berkecepatan tinggi.

lakilaki tua itu nyaris menangis
didapatinya
becak yang kumal itu; semakin ringsek!
kakinya tergores dan berdarah
keningnya berwarna biru kemerahmerahan

sungguh
lakilaki tua itu menahan duka yang berat
dan aku tak sanggup untuk tidak menangisinya.

Lamongan, 2000



Tentang Dendam

aku kelak kau tangkap
dalam misterimu
dalam hentakan sangat kerasnya

"akulah memukul roboh hotel
bertingkat itu"

tentang dendam
yang tak pernah kau mengerti
tentang samenanjung jiwa
di samudra sunyi

kepada tanah kelahiranku
harusnya kau tangkap juga
kristal mata ini
yang berpuluh tahun merangkum kenangan
kesejarahan
menjadi pantai nestapa

gelombang dan waktu kelak meringkus
segala
saat kita tidak lagi berdamai
dengan semesta akar jiwa sendir…

Sampah

A Rodhi Murtadho

Sampah? Sudah melebihi jajaran pegunungan, bahkan sudah punya keinginnan untuk membentuk galaksi. Mengalahkan Bima Sakti. Entah mulai kapan keinginan itu mulai tercipta. Yang pasti sejak mereka mampu membentuk planet sampah lengkap dengan satelitnya.

Aku tak tahu bagaimana mereka berkomunikasi. Keakraban muncul. Berkembang biak tanpa perkawinan yang berarti. Yang aku tahu keinginan mereka, dalam kacamata mereka, baik dan tulus dari hati nurani. Menggalang persatuan demi mewujudkan cita-cita mereka.

“Bagaimana kita bisa berkembang biak cepat di bumi ya?” ucap salah satu sampah yang menyerupai botol, “padahal manusia sangat punya keinginan memusnahkan kita.”

“Itu gampang,” kata salah satu sampah yang hancur, tak berbentuk, tak menyerupai apapun, “kita bisikkan pada industri untuk membuat kemasan yang tidak bisa didaur ulang dan tidak mudah terurai oleh bakteri. Seperti diriku yang kian hari makin hancur oleh bakteri sialan ini. Bentukku sungguh menyedihkan.”

“Ya…ya. Boleh ju…

Propaganda Hitam

Komentar Pentas “Daerah Perbatasan” Teater Gapus

Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/

‘Daerah Perbatasan’ bukan terra incognita yang menyepikan kesadaran; bukan ‘perang posisi’ antara the center dan the margin dalam kerangka pemikiran Gramsci; bukan pula ‘wilayah hitam nan kosong’ tanpa entitas atau ranah-ranah tak terjangkau di bawah alam sadar manusia; ‘Daerah Perbatasan’ berada dalam pergulatan arus kesadaran antara cita-cita dan mati. Sebuah tempat yang bisa menjadi akhir sekaligus awal dari perjalanan manusia dan masa depannya.

‘Daerah Perbatasan’ segelap orang tua yang mencari anaknya di medan laga, di antara bangkai-bangkai yang mulai membusuk, ditingkah suara gagak memekakkan telinga. Saat si anak ditemukan terluka dan masih bernafas, orang tua harus memutuskan nasib si anak. Apakah si anak harus mati demi cita-cita; sebagai hero, atau dibiarkan hidup merana tanpa status dan sia-sia: sebuah kemanusiaan yang hadir dalam titik nadlirnya. Dan, ‘mati demi cita-cita’ pada akhirnya bis…

Refleksi Superrealis

Jamban
Mashuri

Kini, di saat hiperrealitas demikian sengkarut, saya hanya merindukan sebuah jamban. Jamban bagi saya adalah ruang pribadi yang unik, yang bisa mengatasi ruang dan waktu. Saya bisa merasakan kehadiran saya seakan-akan penuh, baik dalam alam kesadaran dan ketaksadaran.

Panggilan-panggilan kerinduan itu datang, ketika segala hal yang berada di luar diri, dipenuhi dengan rekayasa-rekayasa. Apalagi, aroma kapitalisme semakin mengglobal dan menelan segala hal yang bersifat pribadi. Tak jarang, sisi kemanusiaan saya terseret dalam sebuah titik nadir. Saya sampai terengah-engah untuk menemukan sesuatu yang ‘pure’ diri saya sendiri.

Mungkin Adam Smith, Karl Marx, Max Weber atau Daniell Bell juga mengendus adanya kemungkinan itu, kemungkinan rekayasa yang mencengkeram kehidupan manusia. Tetapi saya lebih memaknai dan menyikapinya dengan merengkuh kembali apa yang pernah saya alami, dalam sebuah kurun waktu, untuk mengukur kedirian yang semakin nisbi, bermain dalam simulakra-simulakr…

Wisata Buku Lawas di Yogyakarta

Fahrudin Nasrulloh

Salah satu keistimewaan ketika mengunjungi Yogya adalah menelisik toko-toko buku yang tersebar di sejumlah tempat. Ada T.B. Social Agency, T.B. Diskon Toga Mas, T.B. Tiga Serangkai, T.B. Gramedia dan komplek toko buku Taman Pintar yang bersebelahan dengan Taman Budaya dan benteng Vredeberg, dan lain-lain. Namun sekarang untuk mencari buku-buku lawas susah sudah, bahkan nyaris nggak ada. Tahun 1970-an hingga 1980-an, menurut berbagai sumber, masih banyak dijumpai buku-buku lawas yang bermutu.

Yang saya maksud dengan buku lawas (dalam arti spesifik bisa berati buku kuno, seperti naskah-naskah serat atau babad) adalah buku yang sudah tidak diterbitkan dalam jangka waktu lama oleh sejumlah penerbit tertentu. Karena itu, buku lawas dapat dikategorikan dalam empat jenis. Pertama, buku lawas umum (meliputi buku filsafat, sastra Indonesia dan Barat, psikologi, dan lain-lain). Buku lawas filsafat Barat seperti Meditation karya Rene Descartes, atau Suluk Awang-awung (antologi p…

SENI DAN REVOLUSI

Nurel Javissyarqi*

Seni ditentukan oleh masanya (Albert Camus).
Kita ketahui ada seni musik, tari, karawitan, pedalangan, perdagangan pun berperang. Seni belah diri, melukis, pahat, drama, penulisan, percintaan, politik, mengajar dan masih banyak lagi.

Seni menelusup ke segenap bidang, dicipta dari orang-orang berbakat yang istikomah dalam menjalani pilihannya. Lalu kita mengambil, mengangkatnya sebagi ilmu.

Pada kesempatan lain saya pernah berkata, karya seni tercipta atas rasa berlebih, rindu bergelora, cinta membara ke segenap kemungkinan menjelma peralatan, demi tercapai tujuan.

Bahasa lain, pencipta seni itu orang-orang bertetap hati, setia menjalani apa yang diyakini, sehingga di bidangnya memiliki banyak temuan yang mencengangkan orang disampingnya. Dan gegaris yang dituju-kembangkan itu (menjalani hidup bagi seni) akan menciptakan hal mengagumkan, terlahirlah jurus baru, strategi anyar, analisa lebih cermat.

Benar apa kata Albert Camus, Seni ditentukan masanya. Seni berperang sebab …

Lamongan: Gerakan Sastra dan Buku “Indie”?

Abdul Azis Sukarno

Ada yang menarik ketika dengan tidak sengaja saya berkunjung ke kota kecil di sebelah utara Surabaya akhir Maret 2007 lalu, di mana sosok Amrozi si pelaku salah satu kasus bom Bali berasal. Tapi, tentu bukan dalam masalah di mana kota tersebut akhir-akhir ini akrab dengan kata-kata ‘teroris’, ‘bom’, atau semacamnya, dan diam-diam menjadi bahan perhatian pihak keamanan baik dalam maupun luar negeri. Melainkan, peranannya dalam bidang kesusastraan Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Lamongan, demikian nama kota tersebut, tiba-tiba menggelitik ‘adrenalin’ saya (istilah ini senang sekali digunakan kawan saya Fahrudin Nasrulloh dalam tulisan-tulisannya yang konon biar terkesan gagah, he-he…), untuk minta ditulis perihal anak-anak mudanya yang bersastra dengan gerakan “aneh” dan semangat yang lumayan tidak kalah dengan kawan-kawan seperjuangannya di kota-kota lain seperti Malang dan Surabaya, barangkali.

Ya, gerakan “aneh”, jika kita mengamati perkembangan sastra kontemporer…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]