Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2008

SASTRA DAN PETA YANG (TAK) USAI TERBACA

Semacam Testimoni dalam Benderang Kenangan
Jurnal Kebudayaan The Sandour, edisi III
Y. Wibowo

“Ketimbang menemukan dunia, kita menciptakannya.”
(Nelson Goodman).
Karya sastra dapatlah diandaikan serupa peta penuh tanda dan penanda. Dalam membaca dan menikmati kita dapat menjadi turis, pelesiran disepanjang alur dan maknanya. Hanya saja di sisi lain, munculnya sebuah pemaknaan atau tafsir terhadap karya sastra juga biasanya muncul beriringan dalam menikmati karya sastra tersebut. Namun, sebagai awam --jika berkehendak, keinginan untuk terus membaca karya sastra (apapun namanya) hingga selesai, menikmati sentuhannya hingga tuntas, gigil-sunyi karena dicubit kenangan yang terpendam dalam karya yang terbaca, atau terus bernostalgia atas kampung halaman; tentang pacar lama, panorama alamnya, atau artefak-artefak tatanan sistem para penghuninya yang seiring waktu telah berubah menjadi angkuh dan kian purba.

Dan diantara kelindan tanda dan penanda karya sastra, diantara empirisme yang kasatmata, k…

Letupan Hati Seorang Feminis

Hudan Hidayat

Cerpen “tradisional” bertaruh dengan plot yang mengusung watak dan konflik, suasana dan pastilah bahasa juga. Tapi cerpen “modern” apalagi “postmodern”, tidaklah terantai dengan semua unsur-unsur fiksi itu. Karena fiksi itu, seperti kerja lamunanmu itu sendiri: bisa mengimajinasikan sebuah bintang, yang kamu harapkan jatuh di depan kakimu.

Semangat yang berkobar ke dalam pilihan diksi dalam bahasa prosamu yang mengusung rakya jelata dengan konteks sebuah daerah (Kupang) yang kau kenal dan karena itu familiar, adalah kekuatan dari cerpen monologmu ini.

Sahkah?
Mengapa tidak?
Justru kekuatan cerpen seperti itu, adalah bagaimana dan bisakah dia menarik pembaca ke dalam renungannya – menariknya dari awal sampai akhir.

Saya tidak melihat kelelahan kamu bercerita di sana. Justru saya melihat banyak ruang kosong yang kamu masih bisa ekspose ke dalam keliaran imajinasi yang nampaknya akan menjadi kekuatanmu dalam menulis prosa.

Misalnya saat cerpen memasuki renungan:
“Seberapa jauhkah p…

Prosa Ahmad Syauqi Sumbawi

Jarak

Udara mereda di permulaan malam. Adalah rembulan dan bintang-gemintang yang membasuhnya. Mendinginkan di sela-sela dedaunan. Di bawah cahaya dari tiang-tiang lampu, jalanan lapang menerobos jarak tujuan, seperti mudahnya ketika mata mempelajarinya di lembar peta.
Di atas sepeda motor yang melaju pelan, seorang laki-laki bersiul dan bernyanyi. Terdengar samar dalam deru di malam yang datang menawarkan mimpi. Kebahagiaan yang tercipta dari kepergiannya menjumpai seorang perempuan yang akan menyambutnya dengan telunjuk yang mengarah ke surga.
Di depan, jalanan lapang dalam remang. Seperti pada kenyataannya, waktu berjalan dengan rahasia. Manusia tak pernah tahu persis apa yang pasti terjadi. Begitu juga ketika seekor kucing melintas di depan yang terlewatkan dari perhatian.
“Tuhan,” serunya menghindar dengan tiba-tiba yang membuatnya terhenyak, membuka kesadaran dan kehati-hatiannya.
Dalam diam menatap ke depan, muncul pengakuan pada dirinya. Masih ada jarak yang mesti ditempuh untu…

Kapak Berhala Namrud

Karya: Rodli TL

Nyanyian latar mengisi kesunyian ruang. Bergerak menyusup pada tiap gelap pada tiap mimpi.

Mimpi, Mimpikah aku, Aku punya mimpi, Mimpi
Seseorang yang sudah lanjut usianya tiduran di atas altar, diselimuti remang malam. Diantara patung-patung sesembahan yang hancur, Ia mendengkur, dan kadang mengigau. Ia seakan terjaga, lalu menemui orang-orang yang sedang menungguhinya.
Orang Tua

(tertawa) selamat malam. Welcome to my jungle. How are you? Lama aku merindukan kalian. Beberapa tahun yang lalu aku melihat kalian masih kanak-kanak. Bila purnama tiba, kalian berlarian bermain petak umpet. Kini kalian sudah dewasa. Yang perjaka sudah mulai tumbuh kumisnya, dan yang gadis sudah mulai senang berdandan, pakai lipstik dan aroma wewangian. Aku suka harum parfum kalian. Keadaan kalian baik kan?(Tertawa, lalu sedikit kaget)Apa, tidak happy? Don’t worry, aku akan menghibur kalian. Ayo kita bernyanyi bersama-sama!(mengajak bernyanyi).

“malam indah, yo kita berhappy ria/Seperti pangeran m…

Dari Minder, Keblinger sampai Atos

(I) Bagian pertama ini pernah dikorankan secara dadakan sekali terbit dalam acara DKL 2007, berjudul Lamongan Menuju Kota Buku dan sedikit ditambahkan. Yang kering-kerontang terbakarlah, yang basah tetap melempem. Oya sebelum jauh maaf, kiranya siratan perbahasaan ini tidak nikmat dikunyah, sebab guratan pena saya belumlah teruji media massa. Tapi diri ini tak hawatir, karena keyakinan kata-kata merupakan dinaya, yang sanggup menggempur kalimat teratur cepat dilupa.

Lamongan kelahiran saya, berpamorkan ikan bandeng dan ikan lele melingkari sebilah keris. Tahun 1993 saya meninggalkannya menuju kota Jombang, lantas pertengahan 1995 berhijrah ke Jogja, dan balik lagi ke Lamongan di tahun 2002. Entah bagaimana, saya lebih percaya diri jika di luar kota. Mungkin dikarena membawa beban identitas yang hilang (Sebelum kasus Amrozi dkk, kata Lamongan belumlah tampak di mata Nasional, apalagi Internasional. Entah ini berkah atau kutukan, atau sang penagih; sebab tak diberi ruang maksimal sejarah…

Sastra-Indonesia.com

[World Letters]